
| Senin, 9 Februari 2004 | Semarang & Sekitarnya |
Rp 6,4 M untuk Bangun Jembatan Kartini
SEMARANG- Perbaikan tambal sulam yang dilakukan pada Jembatan Kartini, yang menghubungkan Kelurahan Rejosari Semarang Timur dan Sambirejo, Gayamsari tampaknya tak banyak berarti. Sebab, dalam waktu singkat setelah diperbaiki aspal di jembatan itu kembali mengelupas. Kayunya pun mulai rapuh. Karena itu, menurut beberapa warga setempat, pembangunan kembali jembatan tersebut terasa mendesak. Berdasarkan keterangan yang dihimpun, pada 2002 lalu detail engineering design (DED) Jembatan Kartini yang baru sudah pernah dibuat oleh Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota. Sesuai dengan DED itu, rencananya jembatan akan dibuat dengan panjang 120 (2 X 60) meter dan lebar sekitar tujuh meter. Dengan jembatan yang lebih baik dan lebih lebar, kendaraan roda empat bisa lewat. Selain itu, bisa memecah arus lalu lintas di Jl Brigjen Soediarto dan juga akan memudahkan akses ke Masjid Agung Jateng. Bahkan begitu mendesaknya, pada 2003 Jembatan Kartini masuk dalam salah satu proyek Pemerintah Kota yang ditawarkan kepada mitra swasta untuk nalangi dulu biaya pembangunannya. DPRD juga menyetujui rencana Pemerintah Kota tersebut. Akhirnya, dalam APBD Kota 2004 pembangunan jembatan tersebut dianggarkan oleh DPU senilai Rp 6,4 miliar dan masuk dalam rekening nomor 2.2.01.3.2.02.10a pada pos belanja modal jembatan. Namun, hingga saat ini belum jelas bagaimana realisasi pembangunan kembali jembatan tersebut agar menjadi lebih layak. Kini, Jembatan Kartini yang pada 2003 menerima kucuran dana perbaikan sudah mulai rusak lagi. Lapisan aspal pada lintasan jembatan banyak yang sudah mengelupas, sehingga kayu yang menjadi dasar lintasan terlihat. Menurut beberapa warga yang sering menggunakan ''jalan pintas'' tersebut, setiap kali dilewati kendaraan roda dua jembatan bergoyang-goyang. Hal itu membuat mereka selalu waswas saat melewati jembatan itu. Bergoyang-goyang ''Wah, kalau lewat jalan itu saya takut sekali, bergoyang-goyang,'' kata Bambang Sugiri, seorang penjual sepeda mini di Jl Barito. Apalagi saat musim hujan, ungkap dia, arus air sungai yang ada di bawah jembatan kencang sekali, sehingga guncangannya semakin terasa. Namun, karena jalan itu merupakan ''jalan pintas'', terpaksa dia tetap melewatinya. Sebab, jika akan mengirim sepeda ke beberapa pelanggannya, lewat jembatan itu lebih dekat dibandingkan dengan harus memutar lewat jalan lain. Melihat kondisi jembatan yang memprihatinkan seperti itu, dia dan pengguna jembatan lainnya berharap agar perbaikan segera dilaksanakan. Dia pernah mendengar kabar Pemerintah Kota akan membangun baru, sehingga jembatan menjadi lebih baik. ''Namun, sampai sekarang belum juga ada realiasi.'' Sunarto, warga sekitar yang juga sering menggunakan Jembatan Kartini, pernah mendengar Pemerintah Kota akan membangun kembali jembatan tersebut. Dia melihat di dekat jembatan itu telah dibangun semacam rumah kecil dari bahan sederhana untuk menyimpan material. (G7,H4-83k) |