
| Senin, 9 Februari 2004 | Semarang & Sekitarnya |
''Senang Bisa Masuk Sekolah Lagi''SETELAH sejak Rabu-Jumat (4-6/2) murid SD Kuwaron I Kecamatan Gubug, Grobogan tidak masuk sekolah karena kebanjiran, Sabtu (7/2) aktivitas di sekolah itu sudah mulai terlihat. Meski belum dilakukan kegiatan belajar-mengajar, namun keceriaan tergambar di wajar imut murid-murid SD tersebut. ''Alhamdulillah, kami senang sudah bisa sekolah lagi,'' kata Wati (11) siswa kelas 5. Diah Ayu Lestari (9) Murid kelas 3 juga menyatakan kegembiraannya bisa belajar lagi di sekolah. ''Hari Kamis saya diantar Bapak ke sekolah. Tapi sekolah sepi, karena air masih setinggi pinggang,'' katanya. Andi (12) siswa kelas 6 menyatakan, setelah liburan kwartalan beberapa minggu lalu, dia bersama teman-teman baru masuk sekolah Senin (2/2). ''Baru dua hari masuk, Rabu sudah libur lagi. Banjir baru surut Jumat lalu. Tapi bagaimana lagi, di rumah juga kebanjiran,'' katanya sambil membolak-balik buku paket sekolah agar cepat kering. Menurut Guru kelas 6, Sayekti Handayani (27), sejak banjir tidak lagi menggenangi kompleks sekolah, seluruh guru dan murid SD Kuwaron I yang jumlahnya 65 siswa bah-membahu membersihkan lingkungan sekolah. Selain itu, buku paket kelas 6 yang mencakup lima bidang studi yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, PPKN, IPS juga basah kuyup terendam air. ''Buku rapor siswa selamat karena saya letakkan di lemari paling atas,''katanya. Sekolah terpaksa meliburkan kegiatan belajar mengajar karena kondisi kelas dan lingkungan sekolah tidak memungkinkan. Namun demikian, anak-anak tetap diwajibkan masuk untuk membantu membersihkan lingkungan sekolah dan menyelamatkan buku-buku yang tersisa. Selain buku paket, soal-soal latihan Ebtanas juga dijemur diatas meja yang biasa digunakan untuk belajar di dalam kelas. ''Anak-anak yang mengangkat mejanya masing-masing dan menunggui buku-buku yang dijemur sampai kering,'' katanya. Menurut dia, anak-anak hanya ditugasi untuk menjemur buku-buku yang akan digunakan Senin ini, setelah itu diperbolehkan pulang. ''Mudah-mudahan masih bisa digunakan,'' harapnya. Tidak Nyaman Menurut kepala sekolah, Sismanto BA, pihaknya tidak mungkin memaksakan kegiatan belajar mengajar (KBM) di saat ruang dan alat-alat untuk belajar tidak nyaman. ''Bagaimana bisa belajar kalau lumpur masih menggenang?'' katanya. Menurut dia, seluruh lokal kelas tergenang air setinggi lutut orang dewasa pada saat banjir menimpa Kecamatan Gubug Rabu dini hari lalu. ''Kamis dan Jumat saya memperkerjakan 6 tenaga luar untuk membersihkan lumpur, agar secepatnya bisa digunakan lagi,''katanya. Dia menambahkan, kerugian terbesar akibat banjir kali ini adalah buku-buku perpustakaan yang dirintis sejak tahun 1992 yang juga terkena air bah. ''Buku-buku di perpustakaan juga terendam air. Kondisi ini sama persis seperti kejadian 12 tahun lalu, saat banjir serupa menggenangi kompleks sekolah ini,'' kata kepala sekolah di SD Kuwaron I sejak tahun 1986 ini. Menurut salah satu pengelola perpustakaan dan guru, Sri Siswati (28), majalah anak-anak dan koran yang tidak bisa diselamatkan lagi, karena kondisinya sangat parah. ''Terpaksa Majalah Bobo, Si Kuncung, dan Koran Suara Merdeka, dan beberapa majalah lain kami buang,'' katanya. Padahal majalah yang berisi cerita anak tersebut sangat digemari murid-murid. Sedang sekitar 700 buku, yang di antaranya bantuan dari Bank Dunia selamat karena letaknya di rak atas. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Grobogan, Drs H Sri Mulyadi MM, tidak semua sekolah di Kecamatan Gubug terkena banjir. ''Kalaupun ada sekolah kebanjiran, proses belajar mengajar dilaksanakan di rumah,'' katanya. Namun, bagaimana dengan murid yang rumahnya ikut kebanjiran? (Widodo Prasetyo-84) |