
| Senin, 9 Februari 2004 | Semarang & Sekitarnya |
800 KK di Grobogan Masih Mengungsi
GROBOGAN- Sekitar 800 keluarga di Desa Tajemsari Kecamatan Tegowanu hingga kemarin masih mengungsi. Selain trauma, mereka juga takut terjadi banjir susulan. Hal itu ditegaskan Kepala Desa Tajemsari Setyo Budi, kemarin. ''Mereka belum berani pulang. Mereka takut tiba-tiba terjadi banjir susulan. Apalagi di beberapa lokasi, seperti di pedukuhan Tajem, Kedungsari, dan Plosorejo sampai Minggu (8/2) air juga masih setinggi lutut. Kebanyakan para korban banjir mengungsi di tanggul-tanggul, rumah tetangga, dan jalan-jalan desa yang tidak tergenang air,'' tuturnya. Di Dukuh Mlangi rumah-rumah penduduk masih dikepung air. ''Kalau tidak ada hujan, sepuluh hari mendatang mungkin air baru surut. Tetapi hingga hari ini, hujan masih tetap saja turun. Jadi, kemungkinan air di dukuh kami surut akan lebih lama lagi,'' kata Bowo Haryono(27), warga setempat. Kades Setyo Budi menambahkan, areal padi siap panen seluas 75 ha lebih di desanya juga tidak bisa diselamatkan akibat banjir yang melanda desanya sejak Rabu (4/2) lalu. Selain itu, lahan tanaman cabai seluas 7 ha, 10 ha lahan tanaman jagung, dan 3 ha lahan tanaman terong sampai kemarin masih tergenang. Kerugian di bidang pertanian ini diperkirakan lebih dari Rp 500 juta. ''Banjir kali ini juga merusak jalan poros desa, jalan kampung dan irigasi persawahan yang belum lama dibangun dan beberapa kolam ikan milik warga. Kami perkirakan kerugian sarana dan prasarana desa ini lebih dari Rp 500 juta. Lele yang ditebar dua bulan lalu juga tidak bisa dipanen, para petani rugi lebih dari Rp 25 juta,'' katanya. Terancam Kurang Gizi Akibat bencana ini, warga Desa Tajemsari yang sebagian besar menggantungkan hidupnya dari pertanian membutuhkan bantuan makanan terutama beras dan lauk-pauk. Menurut dia, kebutuhan yang paling mendesak adalah beras dan lauk pauk untuk meningkatkan gizi warga. Sementara itu, beras bantuan untuk Desa Tejemsari kemarin sudah mulai dibagikan. Sayang, beras bantuan tidak sepadan dengan jumlah korban. ''Namun karena besok (Senin, pagi ini-Red) akan ada pemeriksaan dari Pemerintah Kabupaten, beras 1,1 ton dan mi instan 14 dus terpaksa kami bagikan seadil-adilnya,'' jelas Wakijan, anggota BPD Komisi Ekonomi. Menurut dia, pihaknya sebenarnya telah menerima bantuan tersebut sejak Kamis (5/2) lalu, namun karena jumlah korban dengan bantuan tidak seimbang, pihaknya sengaja belum membagikan sambil menunggu tambahan. ''Pertimbangannya, kalau dibagi tetapi tidak mencukupi justru terjadi keributan,'' ujarnya dengan lemas. (wid-84k) |