logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 9 Februari 2004 Jawa Tengah - Pantura  
Line

Saatnya Perguruan Tinggi Melaksanakan KBK

SAAT ini beberapa sekolah, dari SD hingga SMA, sudah melakukan proyek percontohan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Ke depan, Kota Pekalongan akan melaksanakannya secara keseluruhan, meski dilakukan secara bertahap.

Pelaksanaan itu kelak bukan hanya menjadi proyek percontohan lagi, melainkan benar-benar sudah dilaksanakan secara penuh. Saat ini, beberapa sekolah sudah ditunjuk menjadi percontohan dalam melakukan KBK seperti SD Panjangwetan 2, SMP Negeri 2, dan SMA Negeri 1 Pekalongan.

Tentang perguruan tinggi, Direktur Sekolah Tinggi Ilmu Managemen Informatika dan Komputer Widya Pratama (Stimik WP) Pekalongan, Agus Wahyudi SSi MKom mengatakan, sebaiknya perguruan tinggi juga segera melakukan KBK tersebut.

Apalagi Mendiknas juga sudah mengeluarkan SK No 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa. Selain itu juga SK No 045/U/2002 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi. Kedua SK itu arahnya adalah pendidikan kompetensi.

Pendidikan berbasis kompetensi, lanjut dia, menekankan pada penguasaan kemampuan. Lulusannya pun memiliki kompetensi standar nasional dan global, sedangkan pendidikan itu berpusat pada siswa/mahasiswa.

Agus menjelaskan, berdasarkan SK Mendiknas yang baru dikeluarkan tahun 2002, paling cepat SK itu diberlakukan di perguruan tinggi tahun 2003.

Kopertis wilayah VI Jateng pada Oktober lalu juga baru mengarahkan agar perguruan tinggi swasta segera melakukannya. Namun bukan berarti seluruh PTS harus melaksanakan. ''Itu hanya sebagai arahan kalau menginginkan lulusannya lebih berkualitas. Namun kalau tidak mau, ya tidak masalah. Sebab perguruan tinggi memiliki otonomi,'' kata Agus.

Sejak Lama

Namun harus diakui, negara-negara maju sudah melakukan hal itu sejak lama. ''Ketika saya di Inggris tahun 1998, perguruan tinggi di sana sudah memberlakukan kurikulum seperti KBK. Dengan kurikulum seperti itu, memang akan menghasilkan lulusan yang lebih bagus,'' katanya.

Dengan KBK, lanjut dia, mahasiswa akan memiliki keahlian tersendiri. Mereka selama di kampus juga akan mengenal kejadian yang ada di lingkungannya berkait dengan mata kuliah di kampusnya. Dalam pendidikan itu, sumber ilmu bukan dosen semata-mata. Dosen hanya sebagai motivator dan fasilitator.

Tentang Stimik WP yang dipimpinnya, Agus mengatakan, kini pihaknya sudah mempersiapkan dosen ataupun mahasiswanya untuk melakukan KBK pada semester dua.

Pihaknya sudah menyosialisasikan kurikulum itu pada tingkat dosen, sedangkan mahasiswa tinggal mengikuti proses pembelajaran di kampus Jl Patriot Pekalongan itu. Laboratorium dan perpustakaan juga akan ditingkatkan.

Saat ini Stimik WP memiliki 1.600 judul buku dan akan ditingkatkan menjadi 3.000 judul secara bertahap. Adapun laboratoriumnya akan ditingkatkan menjadi 120 unit komputer dari 60 unit saat ini. ''Terus terang, kami memberanikan diri untuk melaksanakan KBK di Pekalongan dalam upaya meningkatkan mutu lulusan kami sehingga mampu bersaing dengan lulusan dari perguruan tinggi lainnya,'' katanya. (Trias Purwadi-17n)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA