logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 9 Februari 2004 Budaya  
Line

Tari Peruwat Sukerta Pemilu

YOYOK B Priyambodo dalam busana seorang sanyasi (biksu) berdiri di tengah panggung. Lima bentangan kain yang mengikat perutnya dipegang lima penari di depannya, serupa sebuah spanduk yang bertuliskan antara lain "Rakyat-Partai", "Panwas", dan "Pemerintah".

Ki Supriyanto duduk bersimpuh pada belakang panggung, mendengungkan kidung Dandhanggula: Ana kidung, Sabtu rina iki..." Sementara di sekitar panggung, beberapa ubarampe ruwatan yang berada di atas tampah menjadi setting.

Dan ruwatan bermedium tari untuk "menyucikan" Pemilu 2004 dari beragam sukerta (bawaan buruk) itu dimulai sekitar pukul 10.00 di halaman Hotel Santika Semarang.

Sajian Yayasan Greget Semarang yang diselenggarakan Forum Wartawan Pemprov dan DPRD Jateng itu terbilang unik. Umumnya, ruwatan dilakukan terhadap orang atau suatu tempat. Tapi pagi itu, objek yang diruwat adalah sebuah peristiwa yang begitu penting dalam perjalanan bangsa ini. Meskipun sebenarnya, secara khusus yang diruwat tetap "orang" atau pelaku Pemilu 2004.

"Boleh jadi ruwatan ini begitu penting untuk Pemilu agar terbebas dari sukerta. Lebih khusus lagi bagi kalangan pers yang akan meliput peristiwa demokratis itu," kata Yoyok.

Keunikan lain adalah ruwatan dengan menggunakan komposisi tari. Sebab, biasanya ruwatan bermedium wayang kulit dengan dalang khusus pula.

"Tari pun bisa dipakai untuk ritus ruwatan. Tentu saja tak meninggalkan unsur peruwatan yang biasa dipakai," jelas lelaki itu.

Aspek yang dimaksud adalah mantra atau doa yang biasa dibaca seorang dalang di akhir pertunjukan wayang kulit ruwatan. Juga bukan sebuah dalih, bahwa sajian yang ditajuki "Teater Tari Ruwat" itu telah berkali-kali dilakukan Yoyok bersama kelompoknya sejak tampilan perdana di Auditorium IKIP Semarang (sekarang Unnes), 23 November 1991.

Desain Pertunjukan

Sajian berdurasi sekitar 20 menit itu bergulir banal dan khidmat. Toh, ritus ruwatan yang dikemas dalam desain pertunjukan tari itu tetap memperlihatkan nuansa sakral. Aroma kemenyan dan hio yang mengambar, air kembang yang dipercikkan "sang peruwat" ke semua penjuru panggung, sebaran kelopak mawar ke para penonton yang sebagian besar wartawan, bolehlah dijadikan ciri kesakralan itu.

Dan sebagai sebuah pertunjukan, desainnya tetap dicipta seutuh mungkin, laiknya sebuah teater tari. Ada panggung tersetting, penari, pengiring yang menjadi ilustrasi sajian, dan tentu saja ada komposisi koreografis.

Pada sisi itu pula, sajian tersebut betapapun bertumpu pada bahasa literer koreografis serupa dengan tahun 1991, simbol-simbolnya sangat berbeda. Adanya bentangan kain serupa spanduk adalah contoh tipikal. Agaknya Yoyok hanya ingin memperjelas bahwa yang diruwat adalah Pemilu beserta semua pelakunya.

"Secara umum sama dengan sajian kali pertama. Intensitas dalam penggarapannya saja yang berbeda. Apalagi, untuk kali ini, saya harus memainkan simbol-simbol yang merujuk insan pers yang akan diruwat itu. Ya sudah, simbol itu saya bikin jadi properti panggung."

Di luar itu semua, komposisi karya Yoyok adalah sebuah pengharapan juga. Semoga segala onak-duri Pemilu 2004 suminggah seperti yang tercetus dalam kidung Ki Supriyoko. Apalagi memang buah durian yang ditaruh di depan panggung sebagai properti dan menyimbolkan "keribetan", telah diruwat pagi itu.(Saroni Asikin-79)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA