
| Senin, 9 Februari 2004 | Budaya |
Pentas Ketoprak dari Ngesti PandawaSAYA agak kaget ketika sore itu, Cicuk, ketua kelompok wayang orang Ngesti Pandawa mengabarkan akan mementaskan lakon ketoprak. Bahkan, pentas itu akan melibatkan sejumlah seniman teater, dosen, wartawan, dan budayawan. Saya segera bertanya, apakah Ngesti telah berganti haluan? "Wah, ya tidak to, Mas. Wong ini hanya untuk menggalang dana kok," katanya. Ya, lagi-lagi persoalan dana. Pasalnya, bunga dari dana abadi (Rp 500 juta) yang besarnya Rp 5 juta, serta bantuan walikota yang juga Rp 5 juta, ternyata tak mencukupi biaya produksi Ngesti yang setiap bulan mencapai antara Rp 12 juta sampai Rp 13 juta/bulan. "Dengan pentas ketoptrak semacam ini, kami berharap bisa menambah pemasukan." Pada tahun-tahun yang lewat, pentas ketoprak seperti itu pun pernah dilakukan Ngesti Pandawa. Dan Lakon ketoprak yang akan dipentaskan Sabtu (14/2) di Gedung Ki Narto Sabdo TBRS Jl Sriwijaya Semarang itu adalah Penangsang . Sebuah epik pada zaman mulai berakhirnya Kerajaan Demak, sekaligus awal berdirinya Kasultanan Pajang. Beberapa pemain di luar Ngesti yang terlibat, antara lain Drs Sudharto MA (Ketua PGRI Jateng), Drs Sukirno (Rektor Untag), Maston Lingkar dan Prof Dr Sutomo. Karena pentas tersebut tergolong ekslusif, harga tiket Rp 25 ribu (VIP) dan Rp 10 ribu (balkon). Seniman-Birokrat Melihat daftar pemain yang akan pentas, barangkali Penangsang akan menjadi sebuah sajian yang menarik. Terlebih dalam lakon itu terdapat sat-dua pemain yang telah lama "meninggalkan" dunia kesenian, karena kesibukannya sebagai "birokrat". Drs Sudharto MA yang dalam lakon ini berperan sebagai Sunan Kudus misalnya. Mantan Kakanwil Depdikbud Jateng, dan kini Ketua Badan Akreditasi Sekolah Jateng itu, ternyata cukup memiliki jejak di dunia wayang. "Pengenalan saya di dunia seni berawal dari wayang. Waktu di SGA (Sekolah Guru A) tahun 1960, saya pernah memiliki grup wayang orang. Kemudian saya menekuni dalang," kata Ketua Badan Akreditasi Sekolah Jateng itu di sela-sela latihan di TBRS, belum lama ini. Bahkan, saat mengajar di SPG dia mengajar karawitan. Ia memperokleh pengetahuan kerawitan setelah belajar otodidak dari Supardjo BA, staf teknis bidang kesenian pada saat itu. Sedangkan kemampuannya mendalang diperoleh dari Pasinaon Dalang Mangkunegaran. Ketika itu, ia belajar langsung dari RNg Sutarno, dalang kondnag dari Mangkunegara Solo. "Sambil kuliah Bahasa Jawa di Saraswati (kini lebur menjadi UNS), saya kursus ndalang," kenangnya. Sejak itu, Sudharto yang meraih gelar Master of Arts di California State University, Amerika Serikat itu sering ndalang di berbagai event. Baiklah, kita tunggu saja kemampuannya yang lain, akting ketoprak, di lakon Penangsang Sabtu (14/2) mendatang.(Ganug Nugroho Adi-79) |