logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 9 Februari 2004 Budaya  
Line

Malam Romantis di Erasmus

TEMBANG untuk soundtrack film Deer Hunter itu mengalun. Berkisah tentang seorang perempuan yang setia menunggu kepulangan kekasihnya dari perang Vietnam: Etude no. 6 karya Giulio Regondi.

Sudirman Leman, musisi yang tengah mendendangkan tembang itu, masih menarikan jemarinya di atas kord gitar akustiknya. Penonton diam, terpana menyimak permainan gitar dari lulusan University of Music and Dramatic Arts, Graz, Austria itu.

Dan ruang pertunjukan yang hening karena kesyahduan denting gitar Dirman, sapaan akrab laki-laki muda itu, pun buyar ketika komposisi yang menjadi instrumen wajib para gitaris klasik dunia itu usai. Puluhan penonton di hall Erasmus Huis, Jakarta, beberapa malam lalu, memberikan tepuk ovation yang panjang. Nafas kekaguman tidak tertahankan lagi dari mereka.

Ya, Dirman lewat komposisi itu telah menebar pesona. Dengan kemampuan teknik bermain gitar klasik yang mumpuni, laki-laki yang pernah beberapa kali menggelar konser dan mengikuti berbagi kompetisi gitar klasik di Eropa itu benar-benar memanjakan telinga penontonnya.

Apalagi dengan komposisi-kompoisi sebelumnya, seperti "Guardame las vacas", "Fantasia", "Minuet in G", "Espanoleta", "Allemande", "Saramande", dan "Bourree" (from D minor Suite).

Suasana Romantis

Gitaris muda berbakat yang juga pernah bekerjasama dengan gitaris klasik dunia seperti David Russel (Skotlandia/Spanyol), Eliot Fisk (USA), Leo Brouwer (Cuba), dan Gerard Abiton (Prancis) itu santun mengitroduksi telinga audiensi lewat beragam komposisi klasiknya.

"Beberapa komposisi dari para gitaris Amerika Latin ini memang termahsyur karena keromantisannya. Meski nilai romantisme masa itu pasti berbeda dengan masa sekarang," katanya.

Dia kemudian menjelaskan, komposisi tersebut lahir pada era Baroc yang menggambarkan berbagai jenis dansa untuk sebuah pesta. Di Indonesia disebut syukuran, dan dansa itu adalah dansa yang lincah.

Lalu, setelah selesai dengan kalimatnya, mengalunlah corak permainan gitar Spanyol yang rancak, dan selalu mengingatkan kita pada musik iringan tarian Tap Danceyang mendecak-decak lantai pesta dansa.

Antusiasme penonton terhadap Dirman semakin terlihat pada komposisi Sevilla karya Isaac Albenis (1860-1909). Meski komposisi lainnya seperti "Angustia", "Valse sem Nome", "Songe Capricone", dan "Vals Venezolano no. 3" juga tak kalah apiknya.

Belum lagi ketika dosen tamu di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Pelita Harapan (UPH), dan Yayasan Pendidikan Musik (YPM) itu membawakan lagu daerah asal Sulawesi Utara, "O Ina Ni Keke" sebuah intrumentalia yang diarransemen Iwan Tanzil.

Konser musik yang disajikan malam itu menjadi lengkap dengan komposisi "Dewa" karya Stefan Soewandi. Nomor ini terdiri dari lima komposisi; Brahma, Wishnu, Waruna, Agni, dan Sri yang pekat dengan warna sitar India. Konser ditutup dengan "Histoire du Tango" bersama violis Nathalia Peggy Saputra. Komposisi ini berkisah tentang sejarah musik Tango.

"Musik Tango pada tahun 1900 adalah musik yang biasa dibawakan di tempat-tempat pelacuran. Baru pada sekitar tahun 1930 masuk kafe-kafe, hingga akhirnya pada 1960 diterima di nightclub di Buines Aires, Argentina," tutur Dirman yang menyempurnakan kemampuan bermain gitarnya dengan Alvaro Pierri (maestro gitar klasik dunia) di University of Music di Vienna, Autria, itu.

Sungguh, pertunjukan solo gitar klasik malam itu mengubah malam yang biasa menjadi romantis; "La Noche Romantica", sebagaimana tema yang diusung Dirman. (Benny Benke-79)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA