
| Sabtu, 7 Februari 2004 | Sala |
Polisi Tangkap Dua Pengedar GanjaSOLO - Tim Antinarkoba Polresta Surakarta, kemarin, menangkap dua pengedar ganja. Yakni, Nuzulul Sinar Romadhani (28) alias Yuyun, warga Songgalan, Pajang, Laweyan, dan Susiantoro (29) alias Penthul, warga Kerten, Solo. Polisi menyita 37 paket ganja. Polisi memperkirakan mereka anggota sindikat pengedar ganja yang diotaki Su dan A, warga asli Aceh, yang kini jadi buron. ''Kami masih mencari bandar pengedar. Sebab, kedua orang yang kami tangkap itu mengaku pengecer. Masih ada orang lain dalam jaringan sindikat pengedar ganja itu,'' kata Kasat Narkoba Iptu Bowo Haryanto. Dia mengemukakan polisi menangkap mereka setelah memperoleh informasi akurat dari masyarakat. Polisi membekuk keduanya di rumah masing-masing. ''Awalnya kami menangkap Yuyun, baru Penthul. Mereka mengaku mendapat ganja dari orang lain yang menjadi bandar. Setidaknya masih dua orang yang kami cari,'' kata dia. Polisi, lanjut dia, mendapatkan barang bukti 21 paket yang terdiri atas 15 paket besar dan enam paket kecil dari rumah Yuyun. Setiap paket besar dijual lagi Rp 50.000, sedangkan paket kecil Rp 20.000. ''Ganja yang dibungkus kertas koran itu kami temukan di bawah kasur kamar tersangka,'' kata dia. Untung Besar Barang bukti dari rumah Penthul lebih sedikit. Bowo menuturkan anggota timnya hanya menyita 16 paket ganja yang dikemas dalam empat bungkus besar dan 12 bungkus kecil. ''Paket hemat itu tergolong laris. Barang itu habis dalam seminggu. Dari setiap bungkus tersangka mendapat keuntungan antara Rp 10.000 dan Rp 20.000.'' Yuyun menuturkan tertarik mengedarkan ganja karena memperoleh keuntungan menggiurkan. Apalagi pelanggannya adalah artis atau kawula muda, yang sebagian besar telah dia kenal dengan baik. ''Dunia entertainer telah menyeret saya ke pergaulan bebas, termasuk narkotik dan obat-obatan terlarang. Saya sering mondar-mandir Solo-Bali,'' kata bapak dua anak yang bergerak dalam dunia hiburan itu. Sebelum tertangkap dia membeli empat paket ganja dari Su yang kini buron. Setiap paket Rp 100.000. ''Ganja itu saya pecah menjadi sejumlah paket lebih kecil. Paket hemat lebih cepat laku,'' kata dia. Dia mengakui tak pernah menimbang paket itu. (san-86g) |