
| Sabtu, 7 Februari 2004 | Sala |
Perlu Rp 300 Juta untuk Jalur AlternatifKLATEN - Komisi D DPRD Klaten, Badan Perencanaan Daerah, dan Bagian Pembangunan meninjau lokasi jembatan Jarum yang patah karena salah satu pilarnya ambles, Jumat (6/2) kemarin. Saat ini, warga sekitar jembatan tengah bergotong royong membuat jembatan darurat dari glugu (pohon kelapa) dan sesek, sehingga jembatan sudah dapat dilewati. Karena dibuat cepat, maka kondisi keamanan jembatan belum sempurna. Untuk melewatinya, pengguna jalan harus sangat berhati-hati. Tampaknya warga lebih memilih melewati jembatan sesek yang kurang aman itu, daripada harus memutar lewat jalan lain karena jauh. ''Saat ini, masyarakat sudah membuat jembatan darurat dari sesek dan glugu. Namun kalau saya lihat faktor keamanannya masih sangat kurang, kalau lewat pun harus hati-hati sekali,'' kata Ketua Komisi D Drs Anang Widayaka, di sela-sela kunjungan, kemarin. Untuk itu, Pemkab dan Komisi D akan segera meminta Dinas Pekerjaan Umum (DPU) untuk segera merancang jembatan darurat yang lebih aman. Jembatan yang dibuat oleh masyarakat saat ini sangat sederhana, karena memburu waktu. Dari hasil peninjauan diketahui, kondisi sebagian jalur alternatif yang telah disiapkan rusak dan kualitas jalannya tidak cocok. Untuk penanganan jalur alternatif saja diperkirakan menelan dana Rp 300 juta. Kurang Layak Bus bisa melewati jalur alternatif Pakisan-Tawangsari-Weru-Sukoharjo, sedangkan sepeda motor bisa melewati dua jalur alternatif Karangdowo-Tambak-Karangjoho-Sukoharjo atau Pugeran-Demangan-Babadan-Majasto-Sukoharjo. ''Tadi kami lihat jalur alternatif, sebagian kurang layak, seperti di daerah Bulu terdapat bahu jalan yang tidak layak. Untuk mempersiapkannya diperlukan dana sekitar Rp 300 juta, sedangkan untuk pembangunan jembatannya diperlukan dana sekitar Rp 3 miliar,'' ujar Anang. Putusnya jembatan Jarum sangat mengganggu hubungan kedua wilayah. Karenanya perlu segera dibahas rencana pembangunan kembali jembatan tersebut, agar semua aktivitas kembali lancar. Menurut Anang, pembangunan jembatan tersebut bisa mencontoh pembangunan jembatan Serenan, beberapa tahun lalu. Kedua jembatan itu punya beberapa persamaan, yakni sama-sama berada di atas Sungai Dengkeng dan berada di perbatasan Klaten-Sukoharjo. ''Pengalaman pembangunan jembatan Serenan bisa kita contoh untuk merencanakan pembangunan jembatan Jarum. Saat itu, Klaten dan Sukoharjo sama-sama mengalokasikan dana Rp 750 juta, sedangkan rangka jembatan didapat dari bantuan pemerintah pusat dan biaya pemasangannya dari propinsi,'' ujar Anang di kantornya, kemarin. Dengan cara demikian, pembangunan kembali jembatan yang berfungsi sangat vital itu akan terasa lebih ringan baik bagi Pemkab Klaten dan Pemkab Sukoharjo. Jadi perlu segera dibuat rencana dan diajukan permohonan bantuan ke pemerintah pusat dan Provinsi Jateng secepatnya. ''Klaten dan Sukoharjo telah sepakat membangun kembali jembatan Jarum. Bila mendapat bantuan dari provinsi, maka sinergi beberapa sumber dana itu akan membuat pembangunan jembatan itu menjadi lebih ringan,'' ujar Anang. (F5-49) |