logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 7 Februari 2004 Berita Utama  
Line

Musibah Laut di Jepara (1)

17 Jam Terapung, Selamat

SELAMAT: Suwarno (dua dari kiri), bersama ayah (kiri), pakde dan ibunya di rumahnya di Dukuh Grobogan RT1/RW 2, Ujungwatu, Jepara. Suwarno selamat setelah ditolong oleh para nelayan dari Tayu, Pati. (43)

RASA sedih dan gembira ternyata batasnya sangat tipis. Bisa dirasakan tapi sulit dipisahkan. Setidaknya, inilah gejolak perasaan keluarga Muyazin (49), nelayan yang tinggal di Desa Ujungwatu, Keling, Jepara, sekitar 50 km timur kota Jepara.

Bapak delapan anak itu nyaris pingsan ketika menyaksikan jenazah Suhari bin Dahlan (42), kakak misannya, diusung warga dari laut, Rabu lalu. ''Melihat jenazah Kang Suhari digotong ramai-ramai dari laut, saya menjerit. Dalam bayangan, mungkin anak saya Suwarno, nasibnya juga seperti Pakdenya,'' tutur Muyazin saat ditemui di rumahnya RT1 RW 2, Dukuh Grobogan, Ujungwatu, Jumat sore kemarin.

Alasannya, jika Suhari yang dikenal sebagai nelayan ulung dan jago renang di laut menemui ajal setelah digulung badai di perairan dekat Pulau Mandalika, Keling, Selasa lalu, nasib anaknya yang berada satu perahu tentu tidak jauh berbeda.

Hatinya semakin teriris ketika menjelang pemakaman Suhari, masih belum terdengar nasib Suwarno, Sanusi, dan Ali yang ikut bekerja di perahu milik Suhari. Kabar gembira akhirnya sampai rumahnya.

Ternyata Suwarno (21), Sanusi (22), dan Ali (20) selamat dan ditolong nelayan dari Tayu. Sebelum pemakaman Suhari pukul 14.00, ketiga jejaka itu sudah kembali ke Ujungwatu.

''Saat datang matanya merah sambil menekan dada. Langsung saya ciumi sambil menangis,'' ucap Muyazin.

Suwarno yang mengaku sekujur badannya masih terasa ngilu menuturkan, dia dan dua kawannya selamat dengan memanfaatkan dua jerigen plastik berkapasitas 10 liter. Satu jerigen untuk Sanusi bin Darmo, adik misannya yang tidak bisa berenang. Ali bin Khozin yang pintar berenang menggunakan pelampung dari gabus. Satu jerigen yang tidak ada tutupnya dipakai Suwarno.

Mereka terapung di tengah laut selama 17 jam (pukul 16.00 Selasa hingga 10.00 Rabu)

''Kejadiannya sekitar pukul empat sore (Selasa). Pakde Suhari di belakang pegang kemudi, kami bertiga di depan. Dari depan tiba-tiba datang ombak setinggi rumah menghantam dua kali. Kami serempak membaca takbir dan shalawat,'' ungkap Suwarno yang masih sering menekan dada yang terasa sakit.

Serangan badai tidak lama. Saat itu langit pun masih cerah. Setelah badai berlalu, perahu sopek berukuran panjang tujuh meter yang mereka tumpangi sudah terbalik. Mereka mencari pelampung dan mendapatkan dua jerigen. Mereka cemas, sebab Suhari tidak kelihatan berenang.

Setelah mencari di balik perahu, ditemukan sudah tidak bernyawa. ''Saya dan Sanusi menangis. Oleh Ali, kami diperingatkan agar secepatnya memakai pelampung untuk menyelamatkan diri,'' cerita Suwarno.

Sekarang adalah musim barat, angin laut berembus dari barat ke timur. Ketiga nelayan muda itu pun ikut terseret arus. Mereka berusaha berenang ke pantai dan malam hari sudah mendekati muara sungai kawasan Kecamatan Dukuhseti. Begitu menemukan air tawar, mereka pun minum untuk menghilangkan haus.

Hanya, saat itu langit gelap, perkampungan gelap karena listrik padam. Upaya mereka berenang ke tepi, justru salah arah ke tengah laut. Semalaman mereka bergulat di atas air, menahan kantuk, haus dan lapar. Jika ada siraman air hujan, mereka menengadahkan mulut untuk membasahi kerongkongan.

Menjelang pagi, dua jerigen yang dikaitkan dengan tali kemudian dipisah. Sanusi sudah sangat lemah. Untuk menuju ke tepi, Ali membantu mendorong saat ombak datang. Suwarno mengaku sangat sulit, satu tangan menutup lubang jerigen, yang satu untuk berenang. Arus justru menyeretnya semakin ke tengah laut.

Sanusi dan Ali kemudian ditemukan nelayan Tayu yang sedang menebar jaring pada Rabu lebih kurang pukul 10.00 siang. Kepada pemilik perahu, keduanya pun mengatakan, masih ada satu kawannya di tengah laut. Pemilik perahu pun mencari Suwarno.

''Saya mendapatkan batang ketela. Terus saya putar-putar sehingga tampak dari kejauhan.''

Naik di perahu, ketiganya diberi makan. Setelah tiba di darat, diberi pakaian sekadarnya. Sebab, saat berenang mereka hanya memakai celana dalam. ''Kami sangat bersyukur anak dan kemenakan saya, Sanusi, dan juga Ali yang seperti anak kami sendiri selamat. Jika tidak, mungkin kami akan hujan tangis terus. Sebab, Suwarno dan Sanusi akan segera menikah,'' tutur Muzayin.

Suwarno, anak keempat Muzayin, akan menikah Selasa (10/2) dengan Siti Anisah dari Desa Ngagel, Dukuhseti, Pati, dan akan menyusul Sanusi pada Minggu (15/2) pekan depan.

Mendengar calon suaminya tertimpa musibah di laut, Siti Anisah, Rabu lalu pun turut larut dalam duka. Bersama keluarganya datang ke rumah calon mertua. Rasa bahagia seakan meledak begitu melihat jejaka idamannya pulang selamat. Dengan demikian, pesta pernikahan pun tetap jadi dilaksanakan. (Sukardi-78j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA