logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 7 Februari 2004 Berita Utama  
Line

Derita Nelayan di Pantura Jateng (1)

Masih Ada Dua Badai Tropis di Bulan Ini

DONGKROK: Ratusan perahu milik nelayan di Kota Tegal saat musim barat ini dongkrok di pelabuhan. Nelayan tidak berani melaut dan menganggur hingga musim paceklik usai. (43) - SM/Dwi Ariadi

Hujan deras disertai badai petir angin puting-beliung, terutama pada hari Selasa dan Rabu lalu, ternyata berlangsung merata di sepanjang kawasan pantura Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Kerugian yang dialami nelayan tidak hanya mencakup apa yang terjadi tempo hari, tetapi juga apa yang bakal terjadi esok hari. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka, Dwi Ariadi, Nuryanto Aji (Tegal), Djamal AG (Rembang), dan Karyadi (Semarang) mengenai derita nelayan di kawasan pantura Jateng, yang diturunkan secara berseri mulai hari ini.

SORE itu Winto (47), nelayan yang tinggal di Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, bercengkerama bersama keluarganya di depan rumah. Sesekali ia mengisap rokoknya dalam-dalam.

Berkumpul bersama keluarga memang menyenangan. Tetapi kalau harus selalu di rumah selama berbulan-bulan? Itulah yang kini sedang dipikirkan Winto, juga kawan-kawan sesama nelayan lainnya. Musim angin baratlah yang membuat Winto harus menganggur untuk sementara waktu.

"Kami terpaksa menganggur. Kalau dipaksakan melaut, berarti menantang maut, sedangkan hasilnya pun tidak seberapa,'' tuturnya, ketika ditemui Suara Merdeka, kemarin. Ia mengaku sudah tidak melaut, jauh sebelum terjadi hujan deras disertai angin kencang melanda kawasan pantura Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara sejak Selasa (3/2) lalu.

Sebagian besar nelayan di pantura Jawa menganggap angin kencang -biasanya disertai hujan deras- ini sebagai musim angin barat. Mereka menganggap angin barat yang selalu muncul pada Desember hingga Maret ini sebagai ''monster'' yang menakutkan.

Angin barat mencapai ''puncak kemarahan''-nya pada 3-4 Februari lalu, dengan adanya hujan lebat disertai badai petir dan angin puting-beliung. Fenomena alam ini terjadi hampir merata di kawasan pantura Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Kondisi itu menyebabkan suasana nampak gelap, jarak pandang menjadi pendek, sehingga aktivitas di darat, laut, dan udara sangat terganggu.

Kecepatan angin saat itu mencapai 25 knot (47 km/jam). Besarnya kecepatan angin inilah yang membuat tinggi gelombang, terutama di Laut Jawa, yang meningkat menjadi 1-1,5 meter. Karena itulah, para nelayan disarankan menunda aktivitas melautnya karena amat berbahaya. Apalagi gelombang laut yang tinggi juga disertai angin kencang, curah hujan tinggi, dan pendeknya jarak pandang.

Kapal-kapal Rusak

Di Rembang, misalnya. 11 kapal nelayan hilang dan 97 lainnya rusak berat akibat hujan deras disertai angin kencang yang terjadi di perairan Pantai Rembang. Kerugian nelayan ditaksir mencapai Rp166 juta. Saat itu, kapal-kapal sedang melepas jangkar di tengah lautan. Karena terus-menerus dihantam gelombang, banyak tali jangkar yang putus, bahkan ada yang terlepas.

''Hujan deras disertai angin yang memporakporandakan perahu nelayan itu terjadi merata di pantura Jawa,'' kata Bupati Rembang, H Hendarsono. Dalam perhitungannya, hujan deras disertai angin masih akan terjadi dalam kurun waktu dua bulan mendatang. Karena itu, ia mengimbau para nelayan agar lebih hati-hati kalau melaut.

Sedangkan di Semarang, sebuah tongkang berbobot mati 20 ribu ton menabrak ratusan perahu nelayan di dermaga Kampung Tambaklorok, Tanjung Mas, Semarang Utara. Akibatnya, ratusan perahu nelayan rusak, sehingga sekitar 2.000 nelayan terancam tidak bisa melaut.

Penyebabnya hampir mirip dengan musibah di Rembang. Tongkang ini gagal melawan kecepatan angin (50 knot/jam). Sehingga tali jangkar lepas dari dermaga, kemudian terbawa badai angin menuju barat laut, dan menghantam perahu-perahu nelayan.

Musibah tidak hanya terjadi oleh pengaruh cuaca secara langsung. Di Kendal, hujan deras berkepanjangan mengakibatkan banjir di daerah aliran sungai (DAS) Kali Kuto, Desa Gempolsewu, Kecamatan Rowosari, , Selasa (3/2) lalu.

Luapan air ini menyeret dan menghanyutkan 100-an perahu nelayan setempat yang ditambat di sepanjang Kali Kuto. Perahu-perahu itu terbawa arus sampai ke pantai Laut Jawa, atau sekitar 3 kilometer dari lokasi musibah.

Meluapnya Kali Tuntang juga menyebabkan Desa Pilangwetan, Kebonagung, Demak, banjir. Dampak lain, jalur transportasi Purwodadi-Semarang terputus. Air bah juga menggenangi sejumlah rumah penduduk di Desa Pilangrejo, RW 1 dan 2, dengan ketinggian air lebih dari 1 meter. Ratusan warga sempat diungsikan ke tempat yang lebih aman.

Tabrakan Angin

Sebegitu hebatkah musim angin barat? Sebenarnya, dalam klimatologi, musim angin barat ini disebabkan oleh pembentukan awan cumulonimbus. Awan ini terjadi akibat tabrakan aliran udara dari arah berlawanan. Kondisi atmosfer saat ini mengakibatkan tekanan udara di Asia cukup tinggi (1040 milibar).

''Dalam keadaan normal, tekanan udara hanya 1030 milibar,'' kata Kepala Badan Meteorogi dan Geofisika (BMG), Ahmad Zakir. Tekanan udara yang tinggi ini mengakibatkan aliran udara melewati garis khatulistiwa dan bertemu di Laut Jawa atau selatan khatulistiwa. Akibatnya, udara Laut Jawa makin hangat. Pertemuan ini membuat pertumbuhan awan sangat mudah, serta hujan terjadi dengan cepat dan terus-menerus.

Hujan dan badai berangsur-angsur akan mereda setelah Februari. ''Tapi hujan deras tetap terjadi, kendati distribusinya berbeda. Kalau pada Desember sampai Februari bisa berlangsung tiga jam dalam sehari, tapi setelah itu hanya satu jam,'' katanya.

Yang perlu diketahui nelayan maupun warga masyarakat lainnya, hujan deras yang terjadi di Jawa dan Bali tempo hari masih merupakan fenomena normal. Sebab, hujan terjadi lantaran pertemuan angin utara dan angin selatan ''Peristiwa alam itu bukan termasuk badai tropis. Badai tropis diperkirakan akan terjadi dua kali dalam bulan ini,'' ujarnya.

Kalau demikian, masa menganggur para nelayan bisa berlangsung lama. ''Saya sudah dua bulan nganggur. Pernah bersama 15 nelayan lain mencoba melaut karena didesak kebutuhan, namun hanya membawa ikan hasil tangkapan sedikit. Itu saja, kami harus pandai-pandai menghindari ombak besar. Kesulitan lain, kapal tidak bisa keliling laut dan jaring sulit dilepas. Terpaksa kami pulang lagi dengan membawa ikan seadanya,'' keluh Winto

Untuk mempertahankan asap dapur agar tetap mengepul, Winto mencari kegiatan dengan menjadi tukang cat kapal.

''Itu pun dilakukan kalau ada pesanan pemilik kapal dengan upah Rp 15.000/hari. Jika tidak ada, ya nganggur total,'' ujarnya.

Senasib dengan Winto, nelayan lain di Tegal juga mengalami paceklik. Berdasarkan pemantauan Forum Pemberdayaan Masyarakat Pantai (FPMP), sekitar 10.000 nelayan Tegal kini menganggur. ''Sebagai upaya mengatasi kesulitan hidup itu, nelayan telah memiliki dana simpanan di KUD Karya Mina,'' kata Ketua FPMP Edi Waluyo.

Mereka bisa menggunakan dana itu untuk mencukupi kebutuhan selama musim paceklik. Simpanan dapat dicairkan dalam bentuk beras maupun uang. ''Inilah buah kedisiplinan nelayan dalam menabung, terutama ketika masa panen atau musim timur,'' ucap dia.

Tapi kalau terus-menerus menganggur, tentu tabungan tidak mencukupi lagi. Pemerintah kabupaten / kota agaknya perlu turun tangan untuk membantu mencarikan solusi terbaik bagi para nelayan yang kehilangan pekerjaan selama musim angin barat ini. Sebab kalau bukan pemerintah, siapa lagi? (bersambung-48)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA