logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 7 Februari 2004 Berita Utama  
Line

Gempa Guncang Nabire, 24 Tewas

  • Bandara Dilaporkan Retak

NABIRE- Gempa bumi tektonik melanda Nabire, Papua dengan kekuatan 6,8 skala Richter terjadi pada Jumat (6/2) pukul 04.00 pagi waktu setempat. Gempa dua jam itu terjadi hingga enam kali gempa susulan.

Pusat gempa terjadi di 3,36 Lintang Selatan 135,56 Bujur Timur atau sekitar tujuh kilometer timur Kota Nabire dengan kedalaman gempa 80 kilometer. Gempa bumi itu juga dirasakan di sekitar Manokwari, Enarotali, Timika, dan Biak.

Pusat Gempa Bumi Nasional Badan Meteorologi dan Geofisika dalam siaran persnya yang diterima di Jakarta, Jumat (6/2), menyatakan akibat gempa bumi itu mengakibatkan 1.000 rumah rusak, sejumlah gedung dan jembatan rusak.

"Selain itu beberapa rumah, tower juga rusak. Sementara itu tanah mengalami retak-retak," ujar Kepala Humas BMG Edison Gurning dalam siaran persnya.

Gempa tersebut menewaskan 24 orang. Sementara itu, korban luka berat ada 34 orang, 12 di antaranya dilarikan ke Biak karena Nabire tidak bisa menangani (sumber lain menyebut mereka dipindahkan ke Timika). Adapun korban luka ringan ada 66 orang. Berita sebelumnya menyebut korban luka 600-an orang.

Saat ini warga Nabire takut berada di dalam rumah, karena khawatir akan ada gempa susulan. Karena itu, mereka banyak berada di luar rumah dengan mendirikan tenda-tenda darurat.

Korban tewas dan luka terjadi karena tertimpa bangunan yang ambruk akibat guncangan gempa dahsyat.

Bandara Retak

Bandara Nabire dilaporkan retak akibat gempa tersebut. Kerusakan itu mengakibatkan bantuan dari Jayapura sulit datang.

"Ada tim kami dan Depkes dari Jayapura yang hendak ke Nabire. Akan tetapi landasan bandara retak, sehingga tim tidak jadi berangkat hingga kini," ungkap Fauzi, petugas Pusat Gempa Nasional (PGN), kemarin.

Hingga kini sedang diteliti, apakah Bandara Nabire bisa didarati atau tidak. "Rumah sakit juga ikut rusak, sehingga korban ditampung di tenda-tenda di luar rumah sakit," ungkap Fauzi.

Petugas Telkom Jayapura mengatakan, saluran telepon di kota itu mengalami gangguan akibat gempa. "Nabire bisa dicapai dengan pesawat atau kapal laut,"kata petugas Telkom itu sambil menjelaskan cara mencapai kota tersebut.

Polda Papua masih terus mengumpulkan data kerusakan yang terjadi di sana akibat gempa dahsyat itu. Berdasarkan data sementara Polda Papua, banyak rumah warga yang rusak. Gedung-gedung dan fasilitas umum, seperti jalan dan jembatan juga rusak.

Menurut Daud, juga ada informasi bahwa Depot Pertamina di Nabire bocor. "Akan tetapi, bocornya seperti apa dan bagaimana detailnya, saya masih belum dapat datanya," ujar dia.

Tentang jembatan yang rusak, dia belum mendapatkan data jumlah pastinya. "Disebutkan beberapa jembatan rusak dan tidak bisa digunakan. Untuk kerusakan bangunan dan rumah, termasuk gereja dan masjid, juga belum ada angka pastinya," jelasnya.

Gedung RS Nabire, kata Daud, juga dilaporkan mengalami keretakan-keretakan. "Akan tetapi, saya belum tahu apakah masih bisa menampung korban atau tidak," ungkapnya.

Untuk menolong korban gempa di Nabire, jelasnya, Polda Papua akan mengirimkan segera dua dokter yang akan bergabung dengan tim pembantu dan penolong yang akan dikoordinasi oleh Sekda Nabire.

Dari data yang diperoleh, kerusakan yang paling parah akibat gempa ini terjadi di tujuh kilometer timur kota Nabire.(dtc-78j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA