
| Sabtu, 7 Februari 2004 | Semarang & Sekitarnya |
Pengerukan Sungai Tak EfektifGROBOGAN- Rumah yang hanyut diterjang banjir, berdasar data sementara Posko Penanggulangan Bencana Alam Gubug, kini menjadi 10 posko. Adapun yang roboh 45 rumah dan rusak parah 569 rumah. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Jalan dan Jembatan Kabupaten Grobogan, Ir Rudi Atmoko, menyatakan akan mengajukan usulan perbaikan jalan akibat banjir. Ruas jalan yang bakal diperbaiki 22.50 km dan biaya Rp 6.300.000.000. Pemerintah Provinsi Jateng rencananya segera mendatangkan dua begu untuk memperbaiki tanggul dan jalan yang rusak. Camat Gubug, Puji Rahardjo SH MM, menyatakan banjir terjadi karena air Tanggul Beduri di Desa Trisari melimpas hingga 20-30 cm di sepanjang 200 m. Air di pintu intake Glapan timur juga melimpas antara 50 cm dan 60 cm sehingga menggerus tanah sedalam 2-3 m, sepanjang 5 m, dan lebar 6 m. Di Desa Ginggangtani, tanggul kanan Kali Tuntang bobol di lima tempat. Tanggul kiri kali Tuntang di Desa Papanrejo juga jebol 75 m di dua titik. "Air melimpas dan tanggul bobol akibat sampah dan kayu menyumbat di atas jembatan serta penyempitan aliran sungai di bawah jembatan," ujar dia Penghijauan Direktur Sumber Daya Alam Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah Ir Joko Subarkah mengatakan, upaya mengatasi banjir dengan pengerukan sungai kurang efektif. Sebab, setelah dikeruk kelak mendangkal lagi. Karena itu dia akan meneliti lebih dahulu. Ada usul membuat sudetan atau terowongan di bawah rel kereta api di km 34+600 sehingga air sungai mengalir lancar. Sebab, sungai yang berkelok-kelok itu bisa menggerus tanah di bawah rel. "Kami akan membicarakan dengan PT KA," kata dia. Dia mengatakan, penyelesaian permasalahan banjir harus dibicarakan dengan semua pihak. Jadi ada kesepatakan mengenai langkah untuk mengatasi. "Mungkin untuk jangka panjang dengan penghijauan," kata dia. (H3-83g) |