
| Sabtu, 7 Februari 2004 | Internasional |
Malaysia Bantah Klaim Nuklir CIAKUALA LUMPUR - Pemerintah Malaysia Jumat kemarin membantah pernyataan direktur CIA George Tenet bahwa sebuah pabrik di Malaysia yang sedang diselidiki karena membuat komponen pengolah uranium untuk Libia, merupakan salah satu layanan terbesar pasar gelap teknologi nuklir secara internasional. Dalam pidatonya di Washington, Tenet mengatakan jaringan penyebaran nuklir internasional yang dipimpin ilmuwan Pakistan, Abdul Qadeer Khan, mendapat pukulan telak dengan pengakuan bapak atom Pakistan tersebut. Khan mengatakan, beberapa pejabat tingginya ditahan dan ''otoritas-otoritas Malaysia telah menutup pabrik terbesar jaringan perdagangan nuklir tersebut''. Seorang pejabat tinggi Malaysia dengan tegas membantah klaim tersebut. Dia mengatakan, pabrik yang sedang diselidiki itu belum ditutup dan badan intelijen AS tidak dapat dipercaya, mengingat direktur CIA pula ''yang mengacaukan laporan intelijen yang digunakan sebagai dalih untuk menginvasi Irak''. Pihak-pihak berwenang mengungkapkan pekan ini bahwa perusahaan Malaysia, Scomi Precision Engineering (Scope) sedang diinvestigasi karena membuat komponen-komponen yang dapat digunakan dalam pengolahan uranium. Scope, milik putra PM Malaysia Abdullah Badawi, tahun lalu dicegat saat hendak mengirim komponen-komponen tersebut ke Libia. Penjelasan Scope Sementara itu, pihak Scope yang dituduh memasok komponen kumparan untuk program pengayaan uranium Libia, kemarin mengatakan bahwa pabriknya di Malaysia tidak menyembunyikan apa pun. Perusahaan milik Kamaluddin Abdullah itu, yang mengatakan tidak pernah diberitahu tentang penggunaan komponen-komponen pasokannya, mengundang media untuk mengunjungi pabriknya guna mendapatkan informasi tangan pertama mengenai kegiatan-kegiatannya. Meski ada publisitas gencar seperti itu, kegiatan tetap berjalan seperti biasa di pabrik Scope, yang terletak di Kawasan Industri Shah Alam Blok 15. ''Kami bukan subjek investigasi. Kami memfasilitasi pihak-pihak berwenang dalam investigasi tersebut,'' kata Rohaida Ali Badaruddin, Manajer Senior Komunikasi Scomi Group Bhd. Scope, yang merupakan anak perusahaan minyak dan gas Scomi Group, memproduksi komponen-komponen mesin yang digunakan antara lain dalam industri minyak dan gas, otomotif, dan kedirgantaraan. Perusahaan itu menyatakan, kontrak untuk memproduksi 14 komponen setengah jadi bagi Gulf Technical Industries (GTI) di Dubai diatur oleh BSA Tahir, pengusaha Sri Lanka yang berkantor di Dubai, pada 2001. Menurut perusahaan itu, pengiriman terakhir dikapalkan Agustus tahun lalu dan belum ada pesanan lagi sejak itu. Rohaida menjelaskan, Scope terlibat dalam kasus itu karena pelanggannya sedang diselidiki dan beberapa peti kemas atas nama perusahaan tersebut disita di Italia pada 4 Oktober lalu. ''Jika kami tahu itu ada yang tidak beres, kami tidak akan menuliskan nama kami di peti-peti tersebut,'' katanya. Ketika ditanya reaksinya terhadap isu tersebut, Rohaida menjawab: ''Itu tak bisa dijelaskan. Kami tak pernah mengira bahwa kami dapat memproduksi sesuatu yang berbahaya seperti nuklir.'' Dia mengatakan, Scope tidak tahu karena kesepakatan tersebut hanya melalui persetujuan Tahir. ''Kami hanya mengerjakan ketentuan kontrak berdasarkan iktikad baik. Kami tidak tahu, komponen tersebut akan digunakan dengan cara seperti itu,'' katanya. Dia mengatakan, Scope telah mengambil hikmahnya dan akan lebih berhati-hati menyetujui kontrak-kontrak pada masa datang agar insiden seperti itu tidak terulang. (tst-ben-46) |