logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 7 Februari 2004 Internasional  
Line

Ledakan di KA Bawah Tanah, 40 Tewas

MOSKWA - Lebih dari 40 orang tewas dan sedikitnya 100 lainnya terluka, akibat ledakan di satu gerbong kereta api bawah tanah Moskwa selama jam sibuk Jumat pagi. Polisi Rusia menyebut insiden itu sebagai serangan bom jibaku.

Ledakan tersebut mengoyak satu gerbong kereta bawah tanah di antara dua stasiun di Moskwa tenggara sekitar pukul 08.40 waktu setempat (12.40 WIB), kata beberapa pejabat dinas darurat. Saat itu, sedikitnya 100 orang diduga berada di dalam setiap gerbong.

Lebih dari 700 orang yang selamat dalam ledakan tersebut, kebanyakan warga Moskwa yang dalam perjalanan ke tempat kerja mereka, telah diungsikan dari stasiun bawah tanah hampir dua jam setelah ledakan.

''Menurut perkiraan awal, 30 orang tewas dan 100 lagi terluka,'' kata wanita juru bicara Kementerian Keadaan Darurat melalui telepon.

''Ledakan itu merupakan serangan,'' kata Kirill Mazuli, juru bicara polisi kota Moskwa, di tempat kejadian.

''Bom tersebut mungkin serangan jibaku dan memiliki kekuatan satu kilogram TNT,'' jelas Mazulin.

Dinas keamanan FSB (bekas KGB) menyatakan ledakan itu adalah suatu ''serangan'', demikian dilaporkan kantor berita Itar-Tass.

Akibat Serangan

''Versi utama mengenai apa yang terjadi ialah serangan,'' kata juru bicara FSB kepada Itar-Tass. Ledakan tersebut terjadi saat kereta itu dalam perjalanan ke pusat Kota Moskwa antara Avtozavodskaya dan Paveletskaya di bagian tenggara ibu kota Rusia tersebut.

Api berkobar akibat ledakan itu dan asap membubung ke luar dari stasiun, yang segera dikosongkan, kata kantor berita tersebut. Lebih dari 100 ambulans dikerahkan ke tempat kejadian.

Presiden Rusia, Vladimir Putin, menuduh gerilyawan Chechnya yang melancarkan serangan tersebut.

Gerilyawan Chechnya, tempat kaum separatis telah memerangi tentara Rusia selama lebih dari empat tahun, telah melancarkan serangan jibaku di Rusia. Serangan mereka meningkat selama satu tahun terakhir.

Ledakan kemarin itu terjadi sekitar sebulan menjelang pemilihan umum di Rusia. Presiden Vladimir Putin, yang melancarkan perang paling akhir di Chechnya, diduga banyak pihak akan terpilih kembali.(rtr-ant-46)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA