logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 7 Februari 2004 Budaya  
Line

Ruwatan Tari untuk Pemilu 2004

SEBUAH komposisi tari difungsikan sebagai peruwat. Uniknya, ruwatan dengan tarian itu dimaksudkan sebagai medium penyucian agar pelaku Pemilu 2004 terbebas dari sukerta atau sukreta (bawaan buruk yang harus diruwat dalam kepercayaan Jawa). Lebih khusus lagi, ruwatan ditujukan bagi kalangan pers yang akan meliput proses Pemilu.

Komposisi tarian ruwatan itu akan disajikan Sanggar Tari Greget Semarang dengan koreografer Yoyok Bambang Priyambodo, Sabtu (7/2) pagi, di halaman Hotel Santika Semarang Jl A Yani. Tarian bertajuk Teater Tari Ruwat itu digelar Forum Wartawan Pemprov dan DPRD Jateng.

Apa yang ditawarkan Yoyok dengan koreografinya itu? Pada galibnya, sebuah ruwatan bermedium wayang kulit, dengan dalang terpilih berkategori khusus sebagai dalang ruwatan. Tapi ruwatan dengan komposisi tari?

Desain ruwatan memang menjadi pijakan penggarapan komposisi itu. Itu dibuktikan pada sesajian khas ruwatan yang akan menjadi bagian dari tata panggung. Namun, sebagai sebuah pertunjukan, tari ruwatan itu tetap tak bisa melepaskan dari aspek ilustrasi yang menjadi pelengkap komposisi sebuah tari.

Simbol

Sebenarnya, bukan kali ini sajian tari ruwat disajikan sang koreografer. Sudah tak terhitung sajian serupa dipergelarkan di berbagai tempat. Sekadar informasi, sajian itu kali pertama diperkenalkan kepada khalayak pada 23 November 1991 di Auditorium IKIP Semarang (sekarang Unnes).

''Secara umum, komposisi literer tariannya sama dengan yang dipergelarkan kali pertama. Yang berbeda hanyalah intensitas dalam proses penggarapannya. Apalagi, untuk kali ini, saya harus memainkan simbol-simbol yang merujuk insan pers yang akan diruwat itu. Ya sudah, simbol itu saya bikin jadi properti panggung,'' jelas Yoyok.

Di luar hal itu, ada yang perlu untuk dicatat pada koreografi Teater Tari Ruwat itu. Keprihatinan sang koreografer.

''Komposisi ruwatan sebagai sebuah kemasan tari ini tak lepas dari keprihatinan akan perkembangan seni tradisi saat ini. Tak bisa dimungkiri, seni tradisi hampir selalu terdesak oleh arus budaya asing. Maka, sajian ini akan jadi semacam pengingat ntuk menyetiai kesenian tradisional.''(Saroni Asikin-79)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA