
| Sabtu, 7 Februari 2004 | Budaya |
Komik Indonesia Telah Mati ?KOMIK Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini terlindas oleh komik-komik Jepang. Tapi itu bukan kesalahan para komikus dan penerbitan komik. Pasalnya, perkembangan iklim industri media di Tanah Air memang tak mendukung keberlangsungan komik. Demikian sambutan Arswendo Atmowiloto ketika membuka ''Pameran Komik Indonesia Dahulu dan Kini Bagian II'' di Perpustakaan British Council, Jakarta, belum lama ini. Masih menurut Arswendo, kemandekan perkembangan komik bukan semata-mata karena tanpa adanya campur tangan pemerintah. ''Lebih dari itu, iklim dan pandangan masyarakat kita telah berubah. Media lain di luar komik seperti surat kabar, buku, majalah, televisi, dan internet jauh lebih dapat mencakup perkembangan terkini dibandingkan komik,'' katanya. Kendala lain adalah sistem pemasaran yang kurang mendukung. ''Di Jepang, komik diproduksi secara massal, dan penyebarannya merata di seluruh wilayah, sehingga harga bisa ditekan serendah mungkin,'' katanya. Dan lihatlah, meski komik-komik yang dipamerkan oleh Himpunan Pengumpul Komik IKJ (PENGKI) dan British Council itu memajang karya-karya masterpiece komikus Tanah Air. Namun di pasaran, kita nyaris kesulitan menemukan komik-komik anak negeri tersebut. Siapa yang tidak kenal komikus terkemuka Indonesia seperti Djair yang populer dengan karakter Djaka Sembung-nya? Popularitas karakter itu dapat dikatakan menyandingi karakter Si Buta dari Gua Hantu dalam genre komik roman, sejarah, silat sampai horor. Juga Hans Djaladara yang namanya melangit lewat Panji Tengkorak. Kemudian Hasmi dengan Gundala-nya yang bergenre superhero pada tahun 1960-an. Man atau Mansur Daman yang identik dengan Mandala Siluman Sungai Ular, Sim (Simon Iskandar) dan Zaldy yang lebih senang menggarap komik bergenre roman remaja dan terakhir Wid NS (meninggal 26 Desember lalu) yang menciptakan karakter superhero seperti Aquanus dan Godam. Memang, meminjam bahasa Friedric Nietzsche, filsuf terkemuka Jerman yang mengandaikan tuhan telah mati, maka tidak berlebihan jika Arswendo juga mengisyaraktkan komik Indonesia telah mati. ''Tapi bukan berarti komik kita tidak bisa bangkit. Talenta kita banyak, pasar juga tersedia. Mungkin harus ada karakter-karakter baru yang lebih menarik,'' tegas Arswendo.(Benny Benke-79) |