
| Sabtu, 7 Februari 2004 | Budaya |
Khianat dan Cinta di Bukit MenorehCERITA klasik Api di Bukit Menoreh rasanya sudah tak asing lagi bagi sebagian masyarakat, terutama di Jawa. Cerita carangan karya SH Mintarja dalam bentuk buku itu bakal ditayangkan dalam format sinetron oleh Indosiar. Agaknya, penayangan cerita ini bukan sekadar latah. Untuk mendapatkan pemain, misalnya, stasiun teve itu melakukan pencarian bakat dan menemukan 11 bintang sinetron baru yang kemudian berjuluk ''11 Pendekar Api di Bukit Menoreh''. Mereka memang memiliki latar belakang bela diri yang andal. Sinetron itu sendiri baru akan syuting pada Maret mendatang. Namun, Indosiar telah melakukan promosi dengan cara yang cukup unik, yakni dengan menggelar ''Malam Pergelaran 11 Pendekar Api di Bukit Menoreh'', 4 Februari lalu. Seluruh pemain tampil di panggung, membawakan cuplikan-cuplikan kisah sinetron tersebut dalam kemasan apik. Tidak hanya ke-11 pemain, beberapa artis seperti Sujiwo Tejo, Dewi Gita, P Project memberi nuansa bagaimana kira-kira sinetron itu kelak mampu memikat penontonnya. Menurut Adra P Daniel, produser sinetron ini, Indosiar memang tidak memakai pemain top, karena ingin memberi kesempatan kepada para pemula yang berbakat usia 13-28 tahun. ''Tapi kami tetap membuka kesempatan kepada wajah lama untuk mengikuti prosedur. Salah satunya Fahmi Bo, mantan pendukung sinetron serial Lupus.'' Selama sebulan pendaftaran melalui tabloid Gaul, terkumpul lebih dari 18.000 pendaftar. Dalam seleksi terpilih 110 semifinalis untuk 11 karakter yang dicari. Dari jumlah itu, setelah dilakukan audisi dan screen test pada 17 Januari lalu terpilih 22 finalis. Para juri adalah Robert (sutradara), Niniek L Karim dan Kaharudin Syah. ''Akhirnya kami pilih 11 orang. Bukan berarti sisanya tidak berbakat, tapi memang hanya sejumlah itu yang dibutuhkan,'' ujar Adra. Latar Belakang Adra mengaku sudah membeli hak tayang Api Di Bukit Menoreh dari ahli waris sang pengarang, Ny Singgih Miharja, untuk 5 tahun hak tayang. Dia bahkan tidak hanya membeli hak siarnya, tapi juga mengikutsertakan sejumlah orang yang selama ini terlibat dalam pembuatan buku itu untuk menjadi konsultan. Misalnya untuk soal karakter huruf judul yang semula sempat hendak diganti. Oleh sang ilustrator yang sampai sekarang masih hidup, penggantian itu disarankan untuk tidak dilakukan. ''Alasannya, karena memang pemilihan karakter itu sudah disesuaikan dengan karakter keseluruhan cerita. Jadi beliau keberatan kalau diubah,'' jelas Andra yang pernah sukses sebagai pengarang fiksi remaja itu. Hal lain adalah dalam soal pemilihan kostum. Meski sinetron tersebut untuk industri, namun Ny Singgih keberatan jika para pemain wanita menggunakan kostum yang agak terbuka. Jalan kompromi akhirnya ditempuh agar tetap menarik. Termasuk juga pemilihan warna dan corak kain yang dikenakan, karena ternyata berbeda dengan status pemakainya. Sinetron tersebut bakal dikemas dalam 52 episode dengan masing-masing berdurasi 1 jam tayang. Skenario ditulis Dedi S Adimiharja. Kesebelas pendekar itu adalah tokoh utama Agung Sedayu yang diperankan Dananjaya. Remaja asal Yogyakarta ini memiliki latar belakang beladiri jiujitsu. Dengan postur tubuh atletis (tinggi di atas 175 cm), kulit kuning, bersih klimis seperti priyayi, dan tampan. Tokoh lain adalah Swandaru (Angga Agustian), Pandan Wangi (Dewi Cahyati), Sekar Mirah (Lesli Mintaraga), Untara (Edi Siswanto), Rudita (Rahmat), Sutawijaya (Brata Santosa), Pudak Arum (Fepi Febianti), Sidanti (Manolo), Wharasta (Fahmi Bo), dan Prastowo (Hans Ananta). Api di Bukit Menoreh merupakan cerita carangan, cerita fiktif yang menempel pada sejarah. Namun, karena kuatnya lakon ini, tokoh-tokohnya begitu melekat di hati masyarakat pembacanya. Banyak yang kemudian menganggap bahwa cerita ini kejadian nyata. Setting cerita terjadi pada zaman mulai suramnya Kasultanan Demak sekaligus awal berdirinya Kasultanan Pajang, sepeninggal Adipati Jipang, Aryo Penangsang hingga mulai dibangunnya Kasultanan Mataram Islam. Cerita berkisar tentang perjalanan Agung Sedayu untuk menemukan kematangan dirinya, termasuk menghadapi pengkhianatan dan cinta. (Tresnawati-79) |