
| Senin, 2 Februari 2004 | Tajuk Rencana |
Bencana Alam yang Menggugah Pemikiran- Belum hilang rasa terkejut kita menyaksikan bencana banjir bandang Kali Moyo di Kecamatan Limbangan, Kendal, yang melumat beberapa rumah dan beberapa hektar sawah yang siap panen. Bencana yang terjadi pada Senin siang bolong pekan lalu itu menimpa tujuh desa di sepanjang aliran sungai itu dan menyebabkan kerugian tanaman padi dan harta benda lainnya bernilai bermiliar rupiah. Jumat malam, bencana alam yang lebih dahsyat dan merenggut korban lebih besar menyusul terjadi di Purworejo. Tanah longsor di Desa Plipir Kecamatan Purworejo menyebabkan 13 orang terkubur hidup-hidup. Tiga lainnya tewas dalam bencana alam banjir di daerah tersebut.
- Bencana itu terjadi setelah hujan lebat yang belakangan ini mengguyur daerah yang luas di provinsi ini. Di Kota Semarang misalnya, banjir di hulu Kali Garang menyebabkan Jembatan Tinjomoyo putus. Pilar jembatan itu runtuh akibat fondasinya tergerus banjir besar. Bersamaan dengan itu, banjir menggenangi beberapa ruas jalan. Jalur Kaligawe misalnya, Sabtu pagi hingga siang masih tergenang air. Jembatan Tinjomoyo sudah beberapa kali rusak berat akibat gerusan banjir. Bencana kali ini benar-benar menamatkan riwayat jembatan vital itu. Rencana mengganti dengan sistem bailey akan bisa menyelamatkan Kebun Binatang Tinjomoyo sebagai objek wisata.
- Purworejo sejak dulu dikenal sebagai salah satu daerah yang rawan bencana alam tanah longsor. Hampir tiap tahun tiap kali musim hujan datang bencana alam semacam itu, selain banjir, juga datang. Beberapa di antaranya menyebabkan jatuh korban jiwa, selain harta benda. Namun, bencana kali ini tergolong yang paling menydihkan. Merenggut korban jiwa cukup banyak dan meluluhlantakkan sejumlah rumah penduduk. Jumlah korban cukup banyak diduga karena bencana itu terjadi pada malam hari, sekitar pukul 22.00, pada saat banyak keluarga sudah tinggal di rumah. Apalagi di tengah udara dingin akibat hujan lebat yang turun sejak sore hari.
- Tentang bencana tanah longsor penting untuk diingat kembali beberapa catatan yang pernah dikemukakan para ahli dan kalangan LSM yang khusus yang mencermati masalah-masalah lingkungan. Pertama, tentang peta daerah rawan bencana tanah longsor di provinsi ini. Selain Purworejo, daerah yang rawan bencana tanah longsor adalah Kebumen, Banjarnegara, Banyumas dan Cilacap. Di kawasan pantura Jateng juga banyak daerah yang memendam kerawanan sama. Mendung masih terus menggelantung. Aparat terkait masalah lingkungan di daerah-daerah tersebut selayaknya segera membuka kembali peta daerah rawan masing-masing. Cermati keadaan di lapangan. Ajak penduduk untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi bencana yang lain.
- Untuk Purworejo, sekitar dua tahun lalu muncul kritik cukup keras dari kalangan LSM terhadap sistem penghijauan dan hutan dengan menanam pinus. Pohon pinus tidak tepat digunakan untuk konservasi lahan. Pohon itu memiliki akar yang tidak cukup kuat dan tidak tepat jika dimaksudkan untuk mencegah tanah agar tidak longsor. Juga tidak tepat jika dimaksudkan untuk menyerap hujan agar air tidak langsung mengalir ke sungai dan terbuang ke laut. Pohon-pohon itu sebaiknya diganti lainnya yang lebih tepat untuk penghijauan, konservasi lahan serta penyerap dan penyimpan air hujan. Mungkinkah pendapat itu benar dan adakah kaitannya dengan kerawanan bencana longsor?
- Hujan tahun ini tidak merata dan turun agak lambat. Akibat kelambatan itu menyebabkan beberapa waduk sampai menjelang akhir Januari 2004 ini airnya masih di bawah elevasi. Misalnya Waduk Kedungombo dan Cacaban. Air waduk Cacaban dikabarkan sangat surut, selain akibat pasokan air yang kurang juga endapan lumpur yang makin tebal. Waduk makin dangkal, sedangkan tingkat erosi justru makin tinggi. Benarkah gejala kekurangan air itu cuma akibat curah hujan yang kurang, ataukah akibat faktor lain, misalnya penghijauan di sekitarnya dengan pohon yang dinilai kurang tepat, misalnya pohon pinus? Presiden Megawati baru saja mencanangkan penghutanan tanah gundul. Kasus Purworejo dan Cacaban layak dijadikan studi kasus penghijauan berhasil maksimal. |