
| Senin, 2 Februari 2004 | Tajuk Rencana |
Mengapa Flu Burung Menjadi Begitu Meresahkan- Kemerebakan virus Afian Influenza (AI) atau yang lebih dikenal dengan sebutan flu burung menggegerkan masyarakat. Maklumlah, selain mematikan lebih kurang 4,7 juta ekor ayam, di Thailand sudah menular ke manusia dan memakan korban satu orang tewas. Peran media jelas sangat menentukan. Liputan yang begitu luas dan cenderung melihat dari sisi negatif makin mendramatisasi persoalan. Akan tetapi jangan salahkan media, sebab ini adalah bagian dari warning awal. Bagaimanapun kita tak boleh menganggap ini masalah sepele dan butuh penanganan segera. Kendati juga jangan terlalu dibesar-besarkan, sehingga menimbulkan ketakutan yang tidak perlu. Sampai-sampai ada reaksi yang berlebihan misalnya tak berani makan ayam.
- Reaksi yang berlebihan jelas amat merugikan. Kalau sampai permintaan dan konsumsi ayam turun, bagaimana dengan nasib ribuan bahkan jutaan peternak. Padahal, tidak ada alasan untuk takut mengonsumsi ayam. Penularan virus itu tidak melalui makanan. Dan lagi, ayam apa pun kalau sudah dimasak dengan cukup matang sudah aman. Akan tetapi mengapa masih saja ada yang takut? Inilah akibat misinformasi. Kekurangan informasi atau akibat pengelolaan informasi yang kurang tepat dan kurang berimbang. Dalam hal ini media massa ikut bertanggung jawab. Bukan cuma media massa, bagaimana dengan pemerintah? Pemerintah ada kesan lamban dan kurang tanggap sehingga masalahnya berkembang ke arah yang kurang tepat.
- Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Tengah Drh Sugiyono Pranoto termasuk yang menganggap pemberitaan di media soal flu burung kurang berimbang sehingga menimbulkan bias, menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan. Benar bahwa ada masalah itu namun tidak terlampau mencemaskan karena masih bisa dilokalisasi. Disebutkan, virus penyakit itu telah mematikan 600.000-an ekor ayam. Akan tetapi dibandingkan dengan keseluruhan populasi yang 110 juta, jumlah itu hanya 0,5%. Bukan bermaksud mengecilkan arti, namun sekadar mengingatkan bahwa ini bukan sesuatu yang harus dihadapi dengan kepanikan sehingga malah menimbulkan dampak psikologis di masyarakat. Karena itu, sekali lagi informasi yang tepat dan akurat lebih diperlukan.
- Yang penting sebenarnya pemerintah cepat tanggap dan mampu mengelola agar virus ini tidak makin menyebar. Menurut Dinas Peternakan, ada beberapa strategi untuk menghadapinya. Yakni, pertama, dengan peningkatan biosecurity. Misalnya dengan pencegahan kontak antara ayam dan burung liar terutama burung air, tikus, dan sebagainya. Kedua, vaksinasi yang dilakukan bagi ayam yang belum terserang sebagai bentuk pertahanan kedua. Tidak benar kalau dikatakan belum ditemukan vaksin untuk virus itu, tapi yang benar jenis virus AI tidak hanya satu macam. Ketiga, pembatasan lalu lintas misalnya pelarangan pengiriman unggas hidup, telur tetas, alas kandang, dan limbang unggas dari daerah tertular ke daerah lain.
- Pemerintah perlu mengambil langkah cepat dalam kaitan pencegahan dan tindakan kuratif serta bagaimana mengelola kegiatan kehumasannya agar informasi di media juga bisa lengkap serta berimbang. Ada kesan, dan ini bukan pertama kali terjadi, antarinstansi pemerintah kurang koordinasi. Kalau kemudian cepat bergerak itu karena sudah ribut dulu di media. Jadi dalam hal ini, media justru berjasa karena mendorong pemerintah agar segera melangkah dan melakukan sesuatu. Sekarang langkah-langkah itu semakin jelas. Juga kucuran dana miliaran rupiah untuk membantu peternak kecil yang jadi korban. Dalam hal ini, kita tak ingin mengadili atau menghakimi pemerintah saja tapi lebih pada upaya agar situasinya tidak makin runyam karena keresahan di masyarakat.
- Menjelang pemilu banyak juga yang khawatir isu flu burung akan dipolitisasi. Tentu sangat kurang tepat dan kurang simpatik, bila hal-hal yang crucial seperti ini hanya dijadikan komoditas politik. Namun dalam kaitan kepentingan politik internasional, tampaknya orang bisa mengait-kaitkan. Paling tidak, perlu ada analisis kritis ke arah sana. Misalnya mengapa setelah SARS, kemudian muncul soal sapi gila, dan sekarang flu burung. Semua berimplikasi pada ekonomi global. Dan, kalau ekonomi sudah terkena maka politik pun bisa terimbas. Namun di dalam negeri, rasanya kita tak perlu terlalu jauh berfikir ke sana. Lebih penting segera mengambil tindakan agar flu burung bisa dikendalikan dan diberantas, serta keresahan masyarakat yang tak perlu bisa diatasi.
|