
| Senin, 2 Februari 2004 | Surat Pembaca |
RSUD Purbalingga Riwayatmu KiniLebih sebulan lalu salah satu keluarga saya opname di RSUD Purbalingga di ruang paviliun dengan harapan memperoleh perawatan memadai. Namun sampai hari ketiga kondisinya makin menurun tidak bisa lagi berkomunikasi. Tak ada penjelasan RS dan tidak memberikan perawatan maksimal. Hari keempat pasien saya pindahkan ke rumah sakit lain. RS rujukan menyatakan pasien sudah koma dan secara medis kondisinya sangat parah. Pasien akhirnya tidak bisa tertolong. Saya menerima, namun berharap pihak RSUD Purbalingga mau menengok ke dalam, melihat pelayanan medis yang diberikan kepada pasien. Bangunan fisik boleh direnovasi, tetapi apakah sistem, cara kerja, perilaku serta layanan medis dari dokter dan paramedis tidak perlu juga diperbaiki. Jika karena keterbatasan dan peralatan RSUD (baca: dokter dan para medis) tidak mampu menangani, mengapa tidak ada upaya merujuk ke RS lain. Tidak mengorbankan keselamatan dan nyawa pasien. Menjadi pertanyaan, apakah karena menggunaan Askes dan JPKM (Jaring Pengaman Kesehatan Masyarakat) sehingga pelayanan yang diberikan tidak maksimal. Jika begitu, mohon pihak Pemkab memikirkan lagi keberadaan kedua lembaga tersebut yang tujuan awalnya untuk membantu si sakit yang kurang mampu. Saya imau masyarakat agar berhati-hati memilih RS. Pilihlah yang benar-benar mampu dan mau memberikan pelayanan medis yang baik. Tetapi bagi warga yang tidak mempunyai pilihan lain, terus berdoa agar komponen RSUD tersebut memberi pelayanan memadai.
Ibnu Kumoro
***
Hapuslah Air Mataku
Kenaikan gaji pensiunan PNS/ TNI/Polri sebanyak 15% mulai Januari 2003 telah diterima dan dirapel. Bagi pensiunan Perum KA/BUMN masih sepi, mohon segera dibayarkan untuk bayar tagihan SPP anak. Bapak Menhub/Bpk Menkeu, tolonglah segera dibayarkan. Kasihan anak - anak bila tidak sekolah dan penerimaannya mohon di-bareng- dengan uang pensiun agar kami tidak selalu harap-harap cemas. Kudrat
***
Uang
Pemilu 2004 sudah di depan mata. Untuk jadi capres konon uang menjadi syarat utama, gizi lebih prioritas daripada visi. Untuk jadi caleg setali tiga uang, tidak heran kalau ada ijazah dilegalisasi Kodam. Uang tampaknya telah membuat silau sehingga mengabaikan profesionalisme, integritas, transparansi maupun akuntabilitas. Mari renungkan ungkapan ini: What money can buy? A bed, not sleep Computer, but not brain Food, but not appetite Finery, but not beauty House, but not home Medicine, but not health Luxurious, but not culture Amusements, but not happines Acquaintance, but not friend Sex, but not love. Harapan saya semoga rakyat Indonesia dapat memilih secara tepat, sehingga Pemilu 2004 menghasilkan pemimpin bangsa dan wakil-wakil rakyat yang tidak hanya hidup untuk uang. Largent ne fait pas le bonheur = uang tidak membawa kebahagiaan.
Purnomo Iman S
***
Rakyat Sudah Rindu....
Gedung Dewan adalah bagai '' surga nan gemerlap'', seolah sudah tidak ada lagi profesi yang baik dibandingkan dengan legislatif, sehingga banyak orang berjuang secara membabi-buta agar bisa menjadi calon legislatif. Mereka meyakini menjadi legislatif, satu-satunya jabatan paling mulia saat ini dan itu memang benar. Sebab jika terpilih, orang akan menyebutnya dengan sebutan anggota Dewan yang terhormat. Inikah yang mereka cari?. Tetapi kalau melihat kenyataan, fakta berbicara bahwa menjadi anggota legislatif benar-benar dapat membuat orang menjadi terhormat, lantaran bisa kaya secara mendadak, seolah tanpa harus susah payah membanting tulang. Mau jalan-jalan ke luar negeri gratis, beli mobil mewah harga murah, bisa naik haji sama istri, beli kapling di mana-mana, bangun rumah mewah. Tinggal dibuat aja perdanya lalu bereslah semua. Saya kira, karena banyaknya contoh yang membuat orang ngiler seperti itu, maka orang berbondong-bondong mendaftar sebagai caleg. Padahal seorang negarawan sejati contohnya Mahatma Gandhi, yang selama hidupnya bahkan sampai akhir hayatnya tetap miskin, walaupun seumur hidupnya digunakan untuk berjuang demi rakyatnya. Seolah-olah beliau tidak ingin bersenang-senang sebelum rakyatnya makmur. Sungguh ironis dengan kenyataan di negeri ini, pejabat bersenang-senang walau rakyatnya menderita. Pajak, PBB, IMB, karcis parkir, karcis pasar hingga dasaran kaki lima tarifnya setiap tahun selalu dinaikkan, dengan dalih untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Tetapi kenyataannya setelah uang terkumpul dipakai pejabat ngelencer ke luar negeri. Pejabat pusat korupsinya lebih gila-gilaan, utang luar negeri ditingkatkan dengan alasan untuk menutup defisit anggaran. Itu kuno. Coba kalau anggaran jalan-jalannya dihapus pasti nggak defisit. Mbok jangan membodohi rakyat terus. Saya khawatir kalau rakyatnya jengkel terus nggak mau bayar pajak, negara ini bisa bubar, sampeyan harus tanggung jawab. Rakyat sudah rindu pejabat yang tidak suka pergi ke luar negeri di saat krisis, yang tidak suka utang mengatasnamakan rakyat. Juga yang mau memberi contoh hidup sederhana, belajar hidup mandiri tidak suka utang, tidak mau korupsi tapi mau berkorban demi bangsa dan negara, mau mendahulukan kepentingan rakyat daripada ambisi pribadi. Jika Anda figur yang dirindukan rakyat seperti itu, majulah sebagai caleg. Namun bila tidak, lebih baik mundur sebelum hancur, daripada sebentar lagi urusan dengan polisi, seperti banyak anggota Dewan yang bermasalah saat ini. Maunya untung malah buntung.
Daryoso
***
Stasiun KA Tegal Perlu Direnovasi
Stasiun Tegal, salah satu stasiun penting di Jawa karena besar dan potensial di jalur utara, namun kurang mendapat perhatian. Puluhan tahun stasiun ini dibiarkan kusam dan tidak tersentuh fasilitas modern sebagaimana layaknya stasiun besar. Letak stasiun ini strategis karena berada di pusat Kota Bahari yang bernuansa metropolis sehingga layak diperindah. Saran kepada PT KA, agar dilakukan pengecatan pada seluruh gedung stasiun sehingga tampil lebih ceria. Lantai seluruh ruangan stasiun agar dikeramik model yang sedang ngetren dan warna cerah. Agar tampak indah, stasiun Tegal perlu diberi pot bunga dan dilengkapi fasilitas dengan menggandeng investor membuka outlet/counter seperti mini market, Dunkin donuts, KFC, Hoka hoka Bento, dan pujasera dan lainnya. Juga fasilitas wartel, warnet, ATM, musala, toilet. Paling tidak PT KA dapat mencontoh penampilan fisik stasiun Semarang Tawang atau Cirebon.
Wibi Elistyorini |