
| Senin, 2 Februari 2004 | Berita Utama |
Bom Jibaku di Irak Tewaskan 100 LebihIRBIL - Dua penyerang jibaku beraksi di kota Irbil, Irak utara, Minggu kemarin, menewaskan 100 orang lebih. Yang jadi sasaran adalah dua kantor partai Kurdi Irak yang saling bersaing. Para pejabat Kurdi mengatakan, korban masih dihitung. Tetapi, seorang menteri mengatakan korban tewas 100 lebih. Kedua pelaku masuk secara terpisah ke kantor Uni Patriotik Kurdistan (PUK) dan Partai Demokratik Kurdistan (KDP). Mereka meledakkan bom yang mereka bawa, ketika para petugas keamanan lengah karena sedang merayakan Idul Adha. Irbil, yang dihuni warga Kurdi Irak, terletak 350 kilometer sebelah utara Bagdad. Sumber PUK mengatakan sejumlah yang ditemukan di reruntuhan kantor partai itu. Sejumlah saksi mengatakan ikut tewas dua anggota senior masing-masing partai, yakni Saad Abdallah (KDP) dan Shahwan Abbas (PUK). Sumber lain menyebutkan, salah seorang korban tewas adalah wakil gubernur Provinsi Arbil. Ledakan bom jibaku itu mengguncang, ketika warga kota tersebut tengah memulai perayaan hari pertama Idul Adha. Pada 24 Desember lalu, seorang pelaku serangan jibaku menewaskan dua polisi dan seorang warga sipil, serta melukai 15 orang. Pelaku meledakkan bom ketika dia berada di luar kantor kementerian dalam negeri di Arbil. Keterangan Saddam Sementara itu, Amerika berhasil mengorek sejumlah informasi berharga langsung dari Saddam Hussein, presiden Irak yang digulingkan lewat invasi Maret 2003. Saddam sekarang ditahan tentara AS di suatu tempat rahasia di Bagdad. Hal itu diungkapkan oleh seorang pejabat tinggi AS, Minggu kemarin. Sayang, dia tidak mau menyebutkan informasi apa yang telah didapat lewat interogasi terhadap mantan presiden itu. Dia hanya mengatakan, informasi tersebut memungkinkan AS mendapatkan konfirmasi atas sejumlah dugaan mencurigakan, tetapi sebaliknya mementahkan dugaan yang lain. Berbicara kepada para wartawan dengan syarat namanya tidak disebutkan, pejabat itu mengatakan dokumen-dokumen dan hasil interogasi memungkinkan militer AS memburu sejumlah orang Irak yang terlibat dalam serangan terhadap tentara pendudukan Amerika. Menurutnya, para pejabat militer AS yakin ada 14 kelompok pendukung Saddam di Bagdad dan sekitarnya. Ditegaskan, banyak dari kelompok tersebut telah kehilangan pemimpin akibat serangan-serangan serdadu AS. Pejabat itu memberikan komentar tersebut, tidak lama setelah Deputi Menteri Pertahanan AS Paul Wolfowitz tiba di Bagdad. Wolfowitz, dubes AS untuk RI dari 1986 sampai 1989, mengunjungi pasukan Amerika yang dianggapnya ''absah'' menggulingkan Saddam. Dia berkilah, pemimpin Irak itu patut disingkirkan sebab dia melanggar resolusi-resolusi AS yang menuntut Irak agar memusnahkan senjata pemusnah massalnya. Orang nomor dua di Pentagon (Departemen Pertahanan AS) itu tiba di Bagdad setelah mengunjungi serdadu AS di Jerman. Dia mengakui, data intelijen tentang WMD (weapons of mass destruction - senjata pemusnah massal) Irak harus diinvestigasi, setelah belakangan terbukti data itu tidak meyakinkan. Namun dia tetap berupaya membela keputusan pemerintahan Presiden George W Bush, yang menginvasi Irak dengan alasan Saddam punya WMD, dengan mengatakan ketidakmampuan para inspektur senjata PBB untuk menemukan senjata terlarang tersebut tidak berarti invasi tidak perlu dilancarkan.(rtr-ed-30) |