
| Senin, 2 Februari 2004 | Berita Utama |
Derita Longsor Purworejo (1)Lelaki Tegar Itu Jatuh Pingsan
KETABAHAN dan ketegaran lelaki desa bernama Tito Riwayatono (35) itu akhirnya runtuh juga. Hatinya terasa teriris-iris ketika mengingat anak, istri, orang tua, dan saudaranya yang tewas terkena longsor. Dia tak mampu menahan tangis, Bahkan Tito tersungkur pingsan. Kejadian ini berlangsung saat Bupati Purworejo menyerahkan bantuan duka kepadanya. ''Astaqfirullah ...,'' rintihnya sesaat sebelum tak sadarkan diri. Petugas PMI yang kebetulan berada di acara penyerahan bantuan segera membopongnya masuk ke kamar. Padahal sebelumnya, lelaki muda yang lolos dari maut itu tampak tegar. Dia bersama-sama warga mengevakuasi mayat istri dan anaknya yang tertimbun tanah longsor. Bahkan ketika upacara pemakaman anak, istri, orang tua, dan saudaranya, dia sibuk ikut mengurusi. ''Saya ihklas. Saya sadar semua kehendak Gusti Allah,'' tuturnya kala itu. Dia selamat dari maut, sebab ketika musibah longsor terjadi, malam itu dia sedang mengikuti tahlil di dua tempat di desa sebelah. Ketika pulang, dia menemukan musibah telah terjadi. Kepada sejumlah wartawan, waktu itu Tito menceritakan bagaimana dia ikut mengevakuasi anak dan istrinya yang tertimbun longsor. Sulit melukiskan betapa sedih hati Tito. Dia seolah kini hidup sendirian. Meskipun selamat, dia ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya. Yakni istrinya Sri Lestarini (25), kedua anaknya, Farziah Ferowati (8) dan Ibnu Zaefudin (6). Juga ayah dan kakaknya. Kesedihan juga dirasakan Kusmini (31). Sebab, selain kehilangan suami tercinta Sagiman (38), dia juga kehilangan kedua orang tua dan kakak kandungnya, Tukino (empat jiwa meninggal). Wanita ini kebetulan adik kandung Tito Riwayatono. Kusmini merupakan anak keempat pasangan Sukardi (65) dan Sarinah (60). Enam putra pasangan penjual tempe di Pasar Pagi Purworejo itu secara berurutan adalah Semi, Tukino, Tito Riwayatono, Kusmini, Ponimah, Mursidah. Kusmini yang dinikahi Sagiman dikaruniai dua anak, yakni Rahayu Mulyani (10) dan Aji Wahyudi (4,5). Yang membuat dia sangat terpukul, karena anak keduanya setiap saat masih menanyakan bapaknya. Sebab, selama ini Aji Wahyudi sangat dekat dengan Sagiman, bapaknya. Menurut Kusmini, sering terjadi anaknya tidak mau minum susu jika bukan bapaknya yang membuatkan. ''Aku emoh mimik, mengko bae nunggu tukang gawe susu (Saya tidak akan minum, nanti saja menunggu yang biasa membuatkan susu),'' ungkap Kusmini menirukan kebiasaan anaknya yang menyebut bapaknya sebagai tukang membuat susu. Maka ketika Jumat (30/1) siang bapaknya pulang tidak bernyawa, anak itu mengalami shock berat. Aji menjerit-jerit tanpa henti. Anak tersebut seolah tidak rela bapaknya meninggal secepat itu. Diciumi Dia masih ingat kenangan terakhir bersama suaminya. Waktu itu (Selasa 27/1 malam), suaminya mendadak memindah tempat tidur. Dengan alasan posisi lama tempat tidurnya yang berada di bawah belandar/molo rumah berakibat tidak baik. Terbukti anaknya, Aji Wahyudi, sering sakit-sakitan. ''Tak pindahe bae. Amben ning ngisor molo iku ora apik, anake sering lara (Saya pindah saja. Tempat tidur di bawah molo itu tidak baik, anak kita sering sakit),'' jelas Sagiman kepada Kusmini pada malam Rabu sebelum bencana. Sejak itu, tutur Kusmini, Sagiman memberikan kasih sayang luar biasa kepada dia. Selama dua malam terakhir itu, dia mengaku sering didekap erat dan diciumi. Bahkan ketika hendak bangun pagi juga masih digondheli. "Aja tangi dhisik, kene turonan karo aku (Jangan bangun dulu, sini tiduran bersamaku),'' ujar Kusmini menirukan ucapan suaminya ketika dia hendak bangun tidur Kamis (29/1) pagi. Sebagaimana yang dilakukan pada hari-hari sebelumnya, Kamis (29/1) sore Sagiman mengantar tempe ke rumah mertuanya di Plipir. Selama ini dia membuat tempe dan sebagian pruduksinya yang memasarkan di Pasar Pagi Purworejo adalah ibu mertuanya, Sarinah. Ketika Sagiman hendak mengantar tempe, Kusmini sudah berpesan kepada suaminya agar segera pulang karena dia memasak nasi dalam jumlah cukup banyak. Apa yang terjadi? Sagiman yang biasanya sampai rumah keluarganya di Kaligesing pukul 17.30-18.00 ternyata tidak kunjung pulang. Setelah ditunggu-tunggu sampai pukul 20.30 belum juga pulang, Kusmini mulai gelisah. Bahkan tanpa sebab yang jelas, pada pukul 21.15 anaknya, Aji Wahyudi, menangis keras. ''Waktu itu tiba-tiba Aji nangis menjerit-jerit dan saya merasa seperti ada yang narik,'' ujarnya. Serasa sudah tahu suaminya meninggal, malam itu dia berhasrat menyusul ke Plipir, Purworejo. Akan tetapi oleh keluarganya niat itu dicegah, walau sebenarnya anggota keluarga sudah mendapat kabar Sagiman hilang tertimbun tanah longsor. ''Malam itu saya tidak tidur, menunggu pagi rasanya lama sekali,'' tutur Kusmini. Jumat (30/1) pagi ketika dia hendak berangkat ke Desa Plipir, melihat kakak iparnya, Tuginem, dirubung orang. Melihat pemandangan itu dia langsung menangkap firasat telah terjadi sesuatu terhadap suaminya. Akhirnya dia tahu bahwa tambatan hatinya itu telah meninggal dunia akibat tanah longsor, Jumat (30/1) pukul 06.00. Keluarga Sagiman kali pertama tahu terjadi tanah longsor di Plipir berkat informasi dari pegawai Kecamatan Kaligesing, Kamis (29/1) pukul 23.30. Semula pegawai kecamatan mendapat informasi dari Paryono warga Plipir, Purworejo. Sekitar pukul 24.00, pegawai kecamatan mengecek ke rumah orang tua Sagiman dan menanyakan Sagiman pulang apa tidak. Setelah mendapat pemberitahuan terjadi tanah longsor dan menimpa keluarga Sukardi, malam itu juga Paijo (59) berusaha ke Plipir. Bahkan karena tidak ada sarana transportasi, Paijo (omnya Sagiman) dan Ngadir (kakak Sagiman) nekat berjalan kaki menuju ke Plipir sejauh 10 km. Mayat Sagiman yang ditemukan Jumat (30/1) pukul 09.58, langsung dibawa ke rumahnya di Kaligesing dan dimakamkan pada pukul 15.00. Ketika ditemui di sela-sela menerima uang duka dari Gubernur Jateng melalui Bupati H Marsaid SH MSi, Sabtu (31/1), Kusmini menyatakan sangat merasa kehilangan suaminya. Sebab, tulang punggung hidupnya telah tiada. Akan tetapi dia juga sadar, tidak selamanya harus meratapi nasib. ''Kalau tidak ditabah-tabahkan, yang mau ngurus anak saya siapa,'' ujar dia sambil menangis. (Eko Priyono-33j) | |||||