
| Senin, 2 Februari 2004 | Berita Utama |
Pencarian Korban Longsor DihentikanPURWOREJO- Upaya pencarian jenazah Paiman dan Sarinah, dua korban bencana tanah longsor di Desa Plilir, Kecamatan Kaligesing, Purworejo yang dilakukan sejak Jumat (30/1) hingga Minggu (1/2) belum membuahkan hasil. Bahkan pada Minggu, rencana pencarian dimulai pagi hari seusai shalat Idul Adha diundur, karena lokasi diguyur hujan lebat. Dengan demikian, dari 13 korban yang terkubur hidup-hidup, 11 di antaranya sudah ditemukan.
Kapolsek Purworejo AKP Suyadi menjelaskan, turunnya hujan menghambat upaya pencarian. Sebab, tanah di sekitar lokasi kejadian menjadi gembur, tidak mudah untuk dilewati. ''Sabtu, saat cuaca terang saja jika diinjak kaki masuk ke tanah sebatas lutut, apalagi sekarang habis disiram hujan,'' ujarnya, kemarin. Dia membenarkan, rencananya upaya pencarian dihentikan pada Minggu kemarin. Akan tetapi, dengan pertimbangan tertentu bisa juga dilanjutkan. Apalagi muncul informasi masih ada seorang lagi yang belum diketahui identitasnya, ikut menjadi korban. Kata beberapa warga, lanjut Suyadi, malam sebelum kejadian rumah korban Paiman kedatangan tamu. Semula ada yang mengatakan, tamu yang datang adalah Rini, saudara sepupunya warga Kaligawe, Semarang. Informasi terakhir, Rini sudah pulang ke rumahnya. ''Jadi masih simpang siur, siapa orang yang bertamu ke rumah Paiman pada saat tanah longsor terjadi,'' ungkapnya. Upaya Pemkab Purworejo untuk mempercepat pencarian ketiga jenazah dilakukan dengan mendatangkan sebuah eskavator (begu-Red). Namun, alat berat yang sudah sampai di jalan wilayah Desa Plipir itu tidak bisa dimanfaatkan. Sebab, jalan menuju ke lokasi adalah jalan setapak yang menanjak. Pencarian dilakukan dengan mengerahkan tenaga dari Polres, Kodim, organisasi kemasyarakatan, dan warga desa. Di samping menggunakan cangkul dan linggis, pencarian juga dilakukan dengan semprotan air ke timbunan tanah. Semula air untuk menyemprot diambil dari kawasan seputar bukit dengan menggunakan pompa. Lama-kelamaan habis, kemudian mengambil dari saluran irigasi yang lokasinya cukup jauh di pinggir jalan raya. Pipa karet ukuran besar dipasang sambung-menyambung, hingga sampai ke tempat bencana tanah longsor. Bencana tanah longsor di Desa Plipir mengundang perhatian masyarakat Purworejo. Mereka datang menggunakan kendaraan roda empat atau dua. Akibatnya, pada sisi kiri dan kanan jalan yang melewati desa itu dipenuhi mobil yang parkir. Polisi lalu lintas, pegawai Kantor Dinas Perhubungan dan masyarakat, saling membahu mengatur arus lalu lintas supaya tidak macet. Mobil harus berjalan bergantian satu per satu, karena jalan itu dilalui angkudes, truk, dan kendaraan lainnya. Untuk parkir motor, para pemuda desa memanfaatkan tanah pekarangan ataupun halaman rumah warga. Para pengunjung diminta menyumbang dana seikhlasnya pada kotak amal yang tersedia. ''Tidak ada paksaan, silakan menyumbang seikhlasnya,'' tutur mereka. Kendati harus mencopot sepatu atau sandal serta menggulung celananya karena tanahnya becek, para pengunjung tetap nekat mendaki menuju ke lokasi kejadian. Tidak sedikit dari mereka yang membawa anaknya. Kalau tidak mau repot, sepatu atau sandal dititipkan ke rumah-rumah warga. ''Jalannya licin sekali, tangan bisa untuk memegang pohon atau lainnya daripada jatuh,'' ungkap warga. Setelah turun baru mereka membersihkan kaki dan celananya di saluran irigasi. Warga juga menyediakan minuman teh hangat cuma-cuma bagi mereka yang ikut melakukan pencariann jenazah ataupun yang kehausan. Anak-anak kecil juga dilibatkan untuk menjaga bantuan, antara lain beras dan mi instan. Awalnya bantuan itu ditumpuk di posko bencana alam yang sekaligus rumah kades Plipir. Namun karena rumah kades penuh, bantuan ditumpuk di teras rumah warga yang dijaga anak-anak. Bantuan Mengalir Bantuan terus mengalir di Desa Plipir. Banyak pula partai politik menerjunkan satgas untuk mencari para korban dan menyumbang bahan kebutuhan pokok. Tidak hanya itu, beberapa calon presiden dan calon wapres seperti Akbar Tandjung dan Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan akan hadir. Ketua DPC PDI-P Purworejo Setyarso Widodo mengemukakan, pihaknya menyumbang lima kuintal beras. Sementara itu, Ketua Fraksi Drs Rukma Setyabudi DPD Jateng menyumbang tiga ton beras dan 250 kardus mi instan. Adapun Rukma Setyabudi, juga telah menyumbangkan lima kuintal beras dari para pengusaha keturunan. Keduanya mengatakan, sejak Jumat partainya menerjunkan 20 satgas setiap hari. Mereka ditugasi membantu pencarian mayat korban dan mengamankan sekitar lokasi bencana alam. ''Saya mengimbau masyarakat untuk peduli kepada warga yang terkena musibah,'' ungkap Rukma. Dia menjelaskan, selama ini bila terjadi musibah besar baru ada reaksi. Menurut dia, semestinya lebih baik dilakukan langkah antisipasi. Misalnya perlu dibuat pemetaan daerah rawan bencana alam. Dengan demikian bila sewaktu-waktu terjadi hujan lebat cukup panjang, masyarakat di daerah rawan segera diungsikan. ''Dari struktur tanahnya bisa dilihat mana saja daerah yang rawan longsor.'' Partai Golkar juga tidak ketinggalan. Sejak Jumat, partai beringin itu menerjunkan 40 satgas dalam setiap harinya dan menyumbang beras serta mi. Mereka membantu pencarian korban dan memberikan pengamanan di sekitar tanah longsor. Bahkan sejumlah caleg partai itu terlihat mondar-mandir di Desa Plipir. Anggota Fraksi Partai Golkar (FPG) Sri Susilowati menginformasikan, pihaknya menyumbang Rp 1.250.000. Selain itu, Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) menyumbang mi dan beras. DPD II juga akan menyumbang. Sekretaris DPD II Drs Ary Edy Prasetyo mengatakan, sumbangan dari DPD I dan DPP akan diserahkan oleh Akbar Tandjung, Senin hari ini. Bupati H Marsaid SH MSi Sabtu lalu menyalurkan bantuan Gubernur Jateng Rp 100 juta. Dari bantuan itu, ujar Bupati, setiap rumah hancur mendapat Rp 2,5 juta dan uang duka Rp 5 juta/jiwa. Pada hari yang sama, Kepala Bakorlin II Magelang Ir Soewito menyerahkan bantuan sebuah perahu karet kepada Pemkab Purworejo. Bakorlin juga menyumbang uang duka Rp 1 juta untuk tiap jiwa yang meninggal. Dalam hal ini, warga Plipir mendapat bantuan Rp 13 juta. Istiqomah, warga Keseneng, Purworejo, yang tewas tertimpa rumahnya, pihak keluarganya menerima Rp 1 juta. Adapun anak Istiqomah, Wahyu (17), yang mengalami luka berat dibantu Rp 500.000. Sebelumnya, Jumat, Bupati menyerahkan 0,5 kuintal beras dan 50 kg gula kepada para korban. Kodim menyerahkan dua ekor kambing dan satu kuintal beras, Polres lima kardus air mineral dan menerjunkan satu kompi anggota. Kantor Kesbang Linmas memberikan uang pemakaman Rp 150.000/jiwa. Kapolda menyerahkan dua ton beras dan 25 kardus mi. Kapolwil Kedu menyumbang 500 kg beras dan 10 kardus mi. Tindakan simpatik juga dilakukan kelompok tukang ojek Pantok Jalan A Yani Purworejo. Mereka menyumbang 20 kardus mi instan. Sumbangan bahan kebutuhan pokok banyak mengalir. Para penyumbang tampaknya tidak peduli bahwa beberapa keluarga di Plipir Tengah yang tertimpa bencana sebenarnya hanya tinggal satu orang yang selamat, yakni Tito Riwayatono. Ketika berlangsung upacara penyerahan bantuan, Tito Riwayatono menangis dan akhirnya pingsan. Awalnya matanya basah sambil berulang-ulang mengucap astagfirullah. Saat Bupati hendak memberikan santunan padanya, mendadak dia terjatuh. Petugas PMI segera menggotong Tito masuk rumah. ''Semoga Tuhan menerima amal ibadah dari para korban,'' kata Bupati ketika menyerahkan bantuan, Sabtu.(P60, yon-33j) |