logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 2 Februari 2004 Berita Utama  
Line

Dicurigai sebagai Provokator

DEMAK- Dirut PT Sinar Lendoh Terang (Silenter) Jambu, Kabupaten Semarang, Dr Pujiono Cahyo Widianto MBA, Minggu (1/2) kemarin menegaskan, dua pistol dan 41 butir amunisi yang dibawanya ke Palu adalah senjata legal. Pistol jenis revolver dan berreta kaliber 32 itu dibawanya setelah ada izin dari Mabes Polri. Dia juga mengatakan, dirinya tidak pernah terlibat dalam konflik Poso, apalagi sampai menjadi provokator.

''Ketika saya ditangkap polisi di Palu, saya memang disangka punya dua pistol ilegal dan amunisi yang melebihi batas. Saya juga dicurigai sebagai provokator konflik Poso,'' tegas Pujiono saat menyerahkan 14 ekor sapi untuk kurban ke warga Dusun Tirib, Desa Sarimulyo, Kebonagung, Demak, kemarin.

Pujiono mengakui, ketiba tiba di Palu pada Selasa (27/1) lalu, dirinya tampil ''ekstrem'' mengenakan jubah putih lengkap dengan sorban --mirip yang dikenakan oleh para aktivis Laskar Jihad.

''Saat tiba di Palu, saya sebenarnya sudah tahu kalau dicurigai polisi. Mereka membuntuti saya tapi tidak langsung menangkap,'' ujarnya. Baru pada keesokan harinya ketika akan berangkat ke Makassar dia ditangkap di ruang tunggu Bandara Mutiara Palu sekitar pukul 10.00 WITA (Suara Merdeka,29/1). ''Tetapi setelah diperiksa sehari, saya langsung dilepaskan. Saya bisa membuktikan bahwa dua pistol yang saya bawa memang legal.''

Bos perusahaan eksportir kerajinan kuningan, replika pesawat, dan kaligrafi ini menambahkan tujuannya pergi ke Palu murni karena urusan bisnis. Jika kemudian dia membawa dua pistol sekaligus, itu karena kekhawatiran akan kondisi keamanan. ''Saya ke sana karena urusan bisnis. Pistol ini untuk jaga-jaga kalau ada apa-apa,'' kata suami dari Hj Umi Hanik, juara nasional musabaqoh hifdzil Quran (MHQ) tahun 1999, 2000 dan 2001 ini, sembari menunjukkan surat pelepasan nomor B/43/I/2004/Ditreskrim yang dikeluarkan oleh Polda Sulteng dan ditandatangani Direskrim Drs Tatang Somantri MH. ''Saya bukan provokator. Pistol saya juga sah,'' tandas pendiri Ponpes Miftahul Jannah Jambu, salah satu pesantren di Jawa yang mengkhususkan santrinya menghafal Quran. (F3-)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA