logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 2 Februari 2004 Semarang & Sekitarnya  
Line

''Nek Ketemu Wonge, Tak Penthungi...''

KEMATIAN Eko Supriyatun alias Atun (24) secara tragis di tangan suaminya, tak hanya menjadi perbincangan hangat warga tetapi juga mendatangkan tanda tanya yang tak berkesudahan. Mereka tak habis pikir, bagaimana lelaki pendiam yang sehari-hari terlihat lugu itu bisa bertindak sedemikian sadis. Padahal, setidaknya dari luar, dia dan istrinya selama ini terlihat rukun-rukun saja.

Hidup mereka memang pas-pasan, tetapi pasangan itu toh masih bisa menghidupi diri berikut anak semata wayangnya. Mereka juga hampir tidak pernah bertikai serius.

''Kami tidak menyangka dia (Eko-Red) bisa sekejam itu. Padahal, tingkah lakunya normal-normal saja, cuma dia memang agak pendiam,'' ujar Karnoto (52), salah seorang warga, setelah pemakaman korban di Gunungsari, Minggu (1/2) siang.

Kalaupun ada yang bisa disebut aneh, lanjut Karnoto, sehari-hari Edi yang tak lulus SMP itu jarang bergaul dengan tetangga. Sepulang bekerja, dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumahnya. Hubungannya dengan mertua juga kurang harmonis, meski sebetulnya tak ada masalah prinsip yang mengganjal di antara mereka.

Walaupun rumahnya hanya berjarak tak sampai 100 meter, Edi hampir tidak pernah menyambangi mertuanya. Seingat Suparno (50), ayah korban, dalam beberapa bulan terakhir Edi hanya sekali datang ke rumahnya, yakni saat Lebaran lalu.

Upacara pemakaman almarhumah Atun kemarin diwarnai isak tangis keluarga dan teman-temannya. Ratusan orang mengantarkan jenazah Atun ke liang lahat. Orang tua almarhumah, Suparno dan Martinah (45), meminta tersangka dihukum seberat-beratnya. Sebab, perbuatannya sungguh di luar batas perikemanusiaan.

''Nek ketemu wonge, tak penthungi (kalau ketemu orangnya, saya pentungi),'' kata Martinah dengan nada begetar menahan emosi.

Belum Tahu

Dia dan suaminya mengaku belum tahu pasti pemicu kejadian memilukan yang merenggut nyawa anak sulung dari empat bersaudara itu. Seperti halnya para tetangga, mereka mengaku tidak tahu masalah yang menimpa keluarga anaknya.

Apalagi, sifat Atun hampir sama seperti suaminya, pendiam. Bila menghadapi masalah, dia hampir tidak pernah bercerita, bahkan kepada ibu dan adik-adiknya sekali pun. Sehari sebelum kejadian, dia datang ke rumah orang tuanya bersama anaknya, Huda. Namun, dia saat itu juga tak berbicara apa-apa.

''Kalau punya masalah selalu dia pendam,'' kata Suparno.

Hal senada diutarakan orang tua Edi, yakni Santoso (60) dan Sutinem (54), perihal anak lelakinya itu. Edi, menurut Santoso, sejak kecil punya sifat tertutup, sehingga apa yang dia rasakan juga lebih banyak disimpan dalam hati.

Sepengetahuan Santoso, belakangan ini Edi dan Atun memang beberapa kali bertengkar. Edi marah karena istrinya menjual keanggotaan arisan di kampung. Padahal, Edi sangat berharap dari arisan itu akan mendapat sejumlah uang untuk tambahan tabungan dan biaya memperbaiki fondasi talud belakang rumahnya yang hendak ambrol.

''Mungkin itu juga yang menjadi penyebab peristiwa tersebut,'' ujar Santoso, yang mengaku pasrah atas kejadian tersebut.

Sutinem menambahkan, dia kali terakhir bertemu dengan korban Sabtu sekitar pukul 07.00. Saat itu seperti biasanya, karena hendak mencuci, Atun datang ke rumah mertuanya yang masih satu kampung untuk menitipkan Huda. Selang dua jam kemudian, Sutinem membawa Huda kembali pulang karena bocah itu rewel ingin bertemu ibunya.

Ketika itu, rumah Edi dalam keadaan terkunci dari dalam, sehingga Sutinem balik ke rumahnya. Sekitar pukul 14.00, untuk kali kedua wanita itu mendatangi rumah anaknya. Pintu dalam keadaan terbuka. Sutinem masuk dan mendapati menantunya sudah meninggal di atas tempat tidur.

Santoso dan Sutinem kini harus menanggung biaya hidup cucu mereka, Huda, yang ditinggal mati ibunya. Bocah yang baru bisa berkata patah-patah itu belum mengerti tragedi yang menimpa keluarganya. Hingga petang kemarin, dia tak rewel dan tidak merengek-rengek menanyakan ibunya. (P Heru Subono-45k)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA