
| Senin, 2 Februari 2004 | Semarang & Sekitarnya |
Kalap, Suami Tega Bunuh Istri
SEMARANG - Peristiwa tragis terjadi di Gunungsari, Jomblang, Sabtu (31/1) siang. Seorang suami yang kalap tega membunuh istrinya dengan cara yang amat sadis, hanya karena dia menolak diajak berhubungan badan. Sekitar tujuh jam setelah kejadian, tersangka, Edi Susanto (34) warga RT 2 RW 9 Gunungsari, Kelurahan Jomblang Kecamatan Candisari tertangkap. Dia bersembunyi di rumah seorang kerabatnya. Kini tersangka ditahan di Polwiltabes Semarang. Edi, yang sehari-hari sebagai buruh bangunan, mengaku nekat membunuh istrinya, Eko Supriyatun alias Atun (24), karena jengkel. Menurutnya, korban yang sudah dinikahi selama empat tahun saat itu menolak dijak berhubungan intim dengan variasi yang Edi inginkan. ''Saya khilaf. Mungkin stres atau bagaimana kok bisa berbuat seperti itu,'' kata Edi saat ditemui di sela-sela penyidikan, Sabtu malam. Dia mengaku menyesal. Namun, penuturannya itu bertolak belakang dengan mimik mukanya yang memperlihatkan hal sebaliknya. Ketika diwawancarai, Edi bahkan berkali-kali menyunggingkan senyum tanpa beban, seolah tak pernah terjadi sesuatu. Sesaat kemudian, ketika ditanya lagi dia termenung seperti memikirkan sesuatu. Pengakuan tersangka masih dicek silang. Sebab, ada informasi yang menyebutkan, peristiwa itu merupakan akumulasi dari kejadian-kejadian sebelumnya. Jauh hari sebelum pembunuhan, pasangan yang sudah dikaruniai seorang anak, Ahmadun Huda alias Huda (3), itu kerap terlibat cekcok. Hanya, persoalan rumah tangga itu tak diketahui oleh kerabat ataupun tetangga, karena keduanya pendiam dan tidak pernah menceritakan masalah yang dihadapi kepada siapa pun. Polisi menduga Edi sudah sering menganiaya istrinya. Dugaan itu antara lain dikuatkan dengan ditemukannya luka bekas sundutan rokok di punggung kaki kiri korban. Tersangka membantah tudingan itu. Dia mengaku hubungan dengan istrinya akhir-akhir ini memang agak kurang harmonis, tetapi dia tak pernah sampai memukulinya.
''Saya akui, dulu sewaktu baru saja menikah memang pernah menamparnya, karena ada masalah kecil. Tetapi setelah itu, saya tidak pernah memukulnya lagi.'' Kapolwiltabes Kombes Badrodin Haiti didampingi Kasat Reskrim Komisaris Wagisan mengungkapkan, selain diakibatkan penolakan korban terhadap ajakan suaminya, kejadian tersebut diduga juga dipicu oleh masalah ekonomi rumah tangga keluarga itu. Untuk memperjelas kasus tersebut, polisi masih memintai keterangan sejumlah saksi. Pembunuhan yang terjadi sekitar pukul 11.00 tersebut dilakukan dengan cara yang amat kejam. Leher korban dicekik, lalu kepalanya dibenturkan ke sisi ranjang yang terbuat dari kayu. Atun berusaha melawan hingga dia terjatuh. Dalam keadaan tak sadarkan diri, kepalanya kembali dibenturkan ke lantai. Setelah itu untuk memastikan telah tewas, Edi menyetrum kaki Atun dengan kabel listrik beberapa kali. Untuk menghilangkan jejak, dengan menggunakan baju dan celana anaknya, Edi membersihkan darah di kepala istrinya dan mengenakannya pakaian. Lalu meletakkan posisi jenazah sedemikian rupa, sehingga seolah-olah istrinya sedang tidur di kasur. Edi juga mengelap ceceran darah di ranjang dan lantai. Kemudian, dia mandi di sungai tak jauh dari rumahnya sambil membuang baju dan celana anaknya yang basah oleh darah. Saat itu, penyesalannya mulai muncul. Edi mengaku, selama beberapa jam kemudian melamun di tepi semak-semak dekat sungai. Dikira Tidur Pembunuhan itu baru terungkap ketika orang tua Edi, Sutinem (54) bersama Huda, yang sejak pagi sebelumnya dititipkan di rumahnya, datang beberapa jam kemudian. Ketika masuk kamar, Sutinem mengira menantunya sedang tidur. Tetapi dia terperanjat ketika melihat luka berdarah di kepala menantunya dan kasur yang penuh darah. Dalam waktu singkat, rumah itu dipadati puluhan tetangga. Susana kampung itu mendadak gempar. Kejadian tersebut segera dilaporkan ke Polwiltabes. Semula polisi kesulitan menemukan jejak pelaku. Namun setelah itu identitas pembunuh cepat diketahui berkat keterangan sejumlah saksi. Beberapa warga mengaku, siang itu setelah kejadian mereka melihat Edi berjalan ke luar rumah dalam keadaan bingung dan resah. Kecurigaan pun mengarah ke lelaki itu. Belasan polisi disebar untuk mencari keberadaannya, tetapi tersangka tak bisa segera ditemukan. Dia baru tertangkap pukul 18.30 di rumah seorang kerabatnya yang tinggal sekampung. (G3-45k) |