
| Senin, 2 Februari 2004 | Ekonomi |
Industri Mebel Siswo MulyonoBerkembang karena Kerja Sama dengan EksportirPERMINTAAN yang tinggi dari mancanegara membuat industri mebel milik Siswo Mulyono di Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar terus berkembang. Pasalnya, industri mebel yang dia kelola merupakan pihak kedua yang bekerja sama dengan pengusaha mebel ekspor di Kabupaten Karanganyar yang dibanjiri pesanan. Setiap bulan ada puluhan bahkan ratusan pesanan meja, kursi, lemari hias (bufet), dan berbagai jenis mebel lainnya. Bahkan jumlah tersebut oleh pemesan dianggap masih kurang karena mereka membutuhkan mebel ekspor dalam jumlah besar. Untuk meningkatkan kemampuan produksi dalam melayani pesanan itu, dia menambah tenaga kerja. Tenaga kerja tersebut kebanyakan tetangga dekatnya. Rumahnya yang sempit dan di sisi lain produksi terus meningkat menyebabkan banyak aktivitas dilakukan di halaman dan di pinggir jalan depan rumahnya. Produk mebel yang dihasilkan Siswo tidak sampai pada proses finishing, tetapi sudah melalui proses pengamplasan. Proses finishing misalnya pemelituran dilakukan pabrik dengan mesin yang memiliki standar ekspor. ''Meskipun tidak sampai proses akhir, tetapi jika mebel mentah yang kami buat tidak sesuai dengan standar yang diinginkan, pabrik akan mengembalikannya. Namun hal tersebut jarang terjadi,'' tutur Siswo. Dia telah mengingatkan karyawannya supaya mempertahankan standar kualitas yang diinginkan pabrik. Itu dilakukan berulang-ulang sehingga tidak sampai mengecewakan pabrik. Standar Kualitas Siswo mengungkapkan, sebenarnya usahanya telah dimulai sejak 1982 melanjutkan usaha orang tuanya. Namun baru pada 1995 mulai bekerja sama dengan pabrik mebel untuk melakukan ekspor. Sebagai upaya meningkatkan usahanya, beberapa waktu lalu dia mendapat bantuan lunak dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Karanganyar senilai Rp 25 juta. Bantuan tersebut membuatnya bisa menambah tenaga kerja untuk meningkatkan produksi. Peralatan yang dimiliki saat ini terbilang sangat memadai sehingga pengerjaan mebel yang dulu dianggap sulit, kini dapat diatasi. Bahan baku yang digunakan Siswo bergantung pada permintaan eksportir. Tidak selalu menggunakan kayu jati. ''Kadang-kadang kami menerima pesanan mebel berbahan baku kayu akasia, sengon, atau jenis kayu lainnya,'' tuturnya. Penentuan harga produk disesuaikan dengan kesepakatan awal antara pihaknya dan pengusaha mebel ekspor. Sebuah bufet dijual mulai harga Rp 250.000 hingga jutaan rupiah, bergantung pada ukurannya. Kursi tamu klasik dijual mulai Rp 150.000 hingga Rp 200.000, sedangkan berbagai macam rak dijual dengan harga Rp 300.000 sampai jutaan rupiah. (Surya Yuli P-53n) |