
| Senin, 26 Januari 2004 | Semarang & Sekitarnya |
Perempuan Tak Mendapatkan Pendidikan Politik secara AdilDEMAK- Ketua I DPP Pergerakan Perempuan Kebangkitan Bangsa (PPKB) Pusat Saidah Sakwan MA menilai, saat ini banyak partai politik kesulitan memenuhi kuota 30% caleg perempuan. Sebab, partai tidak menerapkan pendidikan politik secara adil kepada kaum perempuannya. ''Sebenarnya banyak perempuan berkualitas. Namun, banyak partai yang menempatkan perempuan bukan pada posisi caleg jadi. Akibatnya terjadi diskriminasi, apalagi ada anggapan mereka yang duduk di legislatif itu sebagian besar kaum lelaki. Sementara itu sistem yang biasa dipergunakan di partai, mereka yang memiliki banyak uang/berkuasa adalah kaum laki-laki,'' papar Saidah Sakwan MA di sela-sela acara "Pendidikan dan Partisipasi Politik Perempuan Menuju Suksesnya Pemilu 2004" di Gedung Sanggar Pramuka Jalan Sultan Fatah Demak, kemarin. Kegiatan itu dihadiri Ketua DPC PKB Demak Maskuri Abdillah SAg, Ketua Dewan Syuro PKB Kiai Hafids Satori, Ketua DKC Garda Bangsa Demak Anas Malik, Sekretaris DPW PPKB Jateng Dra Rofiati Mahfud, dan para fatayat NU, muslimah, serta anggota IPPNU. Saidah yang juga Direktur Institute for Research and Community Development Studies (IRCOS) di Jakarta Timur mengemukakan, PPKB Demak harus memobilisasi pemilih perempuan. Yaitu dengan mendidik secara cerdas sehingga kaum perempuan harus tahu betul hak-hak politiknya. ''Perempuan juga harus tahu konsekuensi politik atas pilihannya itu. Dan kami berharap, di Demak muncul kader-kader perempuan yang aspiratif terhadap isu-isu perempuan. Misalnya soal kesehatan, pendidikan, gender, gerakan antikorupsi, dan lain-lain.'' Penting Ketua DPC Maskuri Abdillah menilai, pendidikan politik bagi perempuan PPKB itu merupakan momentum strategis. Terutama bagi PKB dalam menyukseskan Pemilu 2004 mendatang. ''Pendidikan politik bagi perempuan bukan berarti merendahkan kaum perempuan. Namun, kenyataannya di Indonesia ini masih terdapat kesenjangan pendidikan antara kaum lelaki dan perempuan. Sementara itu di sejumlah madrasah malah terjadi tren jumlah siswi lebih banyak ketimbang siswanya,'' ungkapnya. Sementara itu, isu gender menuntut kaum perempuan sejajar dengan laki-laki baik di bidang politik maupun pendidikan formal. Dan, PKB sebagai satu-satunya partai yang ngotot memperjuangkan kuota 30% perempuan untuk menjadi calon legislatif (caleg) pada Pemilu 2004. ''Alhamdulillah, 11 dari 34 caleg DPC PKB Demak adalah kaum perempuan atau sudah memenuhi kuota 30%. Soal nomor urut, setidaknya ada dua caleg perempuan yang masuk menjadi nomor caleg jadi,'' jelas Maskuri Abdillah. Ketua Dewan Syuro PKB Kiai Hafids Satori berpesan, kaum perempuan khususnya ibu rumah tangga boleh-boleh saja berpolitik, tapi mereka itu juga harus tetap menjaga hak-hak suami. (F2-84j) |