
| Sabtu, 24 Januari 2004 | Tajuk Rencana |
Kenaikan Indeks Saham, Musiman Bukan Fundamental- Kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta masih berlanjut. Setelah sebelumnya menjadi berita besar ketika indeks menerobos level 700 atau tertinggi sejak lima tahun terakhir, sekarang posisinya meroket lagi mencapai 753,69. Walaupun bukan menjadi indikator ekonomi yang utama, kenaikan harga saham di bursa tetaplah menyiratkan harapan, terutama memasuki 2004. Tahun yang diliputi ketidakpastian karena akan berlangsung pemilihan umum. Optimisme di sekitar perbaikan indeks saham tak boleh berlebihan. Kita diingatkan bahwa fenomena ini lebih bersifat musiman ketimbang berunsur fundamental. Sebab, toh tidak ada perbaikan kinerja keuangan emiten yang terlalu signifikan. Namun mengapa bisa naik cukup tajam?
-- Ada istilah yang kerap disebut kalangan bursa yakni "January Effect". Sudah menjadi kebiasaan selama ini, Januari atau awal tahun memang selalu menjadi salah satu peak time. Yakni fenomena bergairahnya para investor di lantai bursa. Mereka membeli dengan penuh semangat karena tak mau ketinggalan posisi saat laporan keuangan perusahaan publik muncul antara Februari dan Maret. Jadi peristiwa ini seperti sudah rutin, meskipun sempat tidak terjadi "January Effect" dalam beberapa tahun, namun pada umumnya gairah seperti itu muncul. Kalaupun tidak terjadi, biasanya terkait dengan peristiwa politik atau keguncangan keamanan yang membuat kalangan investor waswas. Sekarang kondisinya relatif tenang sehingga tak ada keraguan memborong saham. -- Selain faktor siklus musiman, pengaruh dari luar negeri juga sangat terasa. Artinya ada dampak global, yakni mengalirnya dana investor ke kawasan Asia Timur yang pada umumnya dianggap sebagai kawasan emerging market. Bisa jadi Indonesia masuk peringkat bawah, tetapi toh tetap terkena imbasnya. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir stabilitas dalam negeri, baik dalam konteks politik maupun keamanan relatif, membaik. Jadi ada pemulihan kepercayaan. Hajatan besar yakni pemilu di satu sisi dinilai berpotensi menciptakan ketidakpastian, tetapi di sisi lain dianggap berpotensi pasar. Biasanya kebutuhan dana untuk pesta demokrasi meningkat. Dalam hal ini pencarian dana lewat pasar modal masih dianggap sebagai alternatif yang menguntungkan. -- Ada faktor lain lagi. Sekarang bunga bank sedang turun pada titik terendah dalam beberapa tahun terakhir. Orang berduit berusaha menarik uangnya dari bank karena dianggap terlalu kecil margin keuntungannya. Dipotong pajak penghasilan, paling -paling hanya menjadi sekitar 4%. Karena itu, mereka pun berlari ke tempat - tempat lain terutama pasar modal. Reksadana pun banyak diserbu sebagai pilihan karena menawarkan keuntungan di atas 10%. Jadi boleh dikatakan, baik faktor dalam maupun luar negeri, keduanya sama-sama berpengaruh dalam meningkatkan perdagangan di bursa serta menggairahkan pasar modal. Apakah situasinya akan terus seperti ini? Tentu tidak ada yang berani menjamin. -- Bahkan ada yang memperkirakan paling-paling kenaikan indeks saham dan bergairahnya pasar modal hanya berlangsung sekitar 3 bulan. Setelah itu akan kembali melemah atau katakanlah normal kembali. Walaupun memang ada unsur musiman sehingga tak mungkin mengharapkan ini bertahan relatif lama, kita pun perlu mengupayakan agar apa yang sudah dicapai menjadi tonggak baru atau momentum yang tak boleh dilewatkan begitu saja. Maksudnya, kalaupun kelak kembali melemah, penurunannya tak terlampau besar. Level 700 masih bisa dipertahankan sehingga suatu saat akan terjadi gairah baru dan indeks saham bisa naik lebih tinggi lagi. Seperti diketahui, kita tak boleh puas dengan angka 700 karena itu pun masih rendah dibanding bursa-bursa lain di Asia Timur.
-- Kendati pemilu diyakini tidak akan sampai mengganggu bisnis dan perekonomian pada umumnya, namun tetaplah ada perasaan waswas. Dalam hal ini kita berharap agar segala sesuatunya lancar. Pengaruh dari investor global syukur-syukur bisa dipertahankan atau bahkan lebih ditingkatkan. Lagi-lagi ini menyangkut soal kepercayaan. Selama masih ada market confidence, bursa saham sangat mungkin aman. Namun bila kepercayaan mulai terganggu, jangan kaget bila mereka cepat-cepat lari membawa dananya ke luar negeri. Pasar modal itu amat rentan. Dana yang ditanam amat likuid dan mudah berpindah dalam waktu singkat. Bahkan dalam hitungan menit atau detik. Karena itu kita perlu ingat, tidak ada yang fundamental dalam kaitan dengan pasar modal. |