logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 24 Januari 2004 Berita Utama  
Line

Pemilu 2004

Ketua Panwas Jateng Tetap Dituntut Minta Maaf

SOLO - Dua kader PDI-P Surakarta, yakni Honda Hendarto dan KRMH Satriyo Hadinegoro bergeming. Keduanya tetap akan menuntut Ketua Panitia Pengawas (Panwas) Pemilu Provinsi Jateng, Drs Nur Hidayat Sardini meminta maaf kepada pendukung PDI-P tujuh hari berturut-turut di media massa berukuran 1/2 halaman.

''Ancaman itu bukan hanya gertak sambal. Kami akan menempuh jalur hukum bila 3 X 24 jam sejak pemuatan pernyataan itu (Rabu 21/1) tidak ada reaksi dari Ketua Panwas Pemilu Jateng,'' kata Satriyo.

Senada dengan Satriyo, Honda Hendarto kini bahkan telah menyiapkan pendampingan dari beberapa pengacara. ''Kami tetap akan meneruskan somasi yang telah kami sampaikan sesuai dengan Perundang-undangan. Kami telah berkonsultasi hukum dari beberapa ahli hukum,'' kata Honda.

Keduanya juga menyayangkan sikap Sardini yang terkesan tak konsisten dengan pernyataan yang telah disampaikannya.

''Begitu gampangnya Ketua Panwas Jateng membolak-balikkan fakta. Itu justru menunjukkan bahwa dia benar-benar tidak profesional. Bahkan dalam hal ini, terlihat jelas dia (Ketua Panwas Jateng-Red) mencla-mencle,'' kata Satriyo.

Dia kemudian membandingkan pernyataan Sardini yang dimuat di salah satu harian lokal di Solo pada Rabu (21/1) dengan pernyataan yang disampaikan di harian Suara Merdeka, Jumat (23/1) kemarin. Kali pertama, Sardini menyatakan perlunya perlindungan keamanan bagi Panwas Jateng, karena kasus tersebut melibatkan parpol yang kuat mengingat pendukungnya memiliki karakteristik tersendiri dan akses kekuasaan. Perlindungan keamanan dengan koordinasi Polda Jateng tersebut menyusul telah dilaporkannya DPC PDI-P sehubungan adanya temuan unsur kampanye dalam Jalan Sehat menyambut HUT Ke-31 PDI-P, Minggu (18/1) lalu.

Pada kesempatan lain, Sardini membantah pernyataan yang dilansir di salah satu harian lokal di Solo itu ditujukan kepada PDI-P. Melainkan seluruh masyarakat Solo, baik semua partai politik peserta pemilu maupun yang tidak ikut pemilu.

Pernyataan tersebut, kata Honda, justru semakin memperuncing masalah dan memperbesar potensi konflik. ''Sebab, pernyataan itu ternyata tidak hanya ditujukan kepada PDI-P tapi seluruh komponen masyarakat Solo. Itu kan malah tambah runyam namanya,'' kata dia.

Satriyo menyayangkan sikap Sardini yang cenderung tidak gentlemen. ''Saya akan lebih menghargai orang yang gentlemen, berani mengakui kesalahannya. Masak kalah sama sepur? Wong sepur saja bisa mundur, lha ini kok mundur isin,'' kata Satriyo.

Senada dengan Honda dan Satriyo, dua kader PDI-P lain, Bambang Mudiyarto dan Hendratno yang juga anggota DPRD Surakarta menyebutkan, pernyataan Sardini justru menunjukkan ketidakprofesionalan. (G13-58s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA