logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 24 Januari 2004 Berita Utama  
Line

Pemilu 2004

Meski Nomor Sepatu, Peluang Masih Terbuka

SEMARANG- Kader PDI-P yang kebetulan menduduki nomor urut sepatu dalam pencalegan tidak perlu resah ataupun marah. Sebab, meskipun menduduki nomer tersebut, peluang untuk menjadi anggota DPRD masih terbuka lebar.

''Kader yang andal harus percaya diri tidak perlu minder. Tetap optimistis bakal meraih kuota suara atau bilangan pembagi pemilih (BPP) di daerah pemilihan masing-masing,'' ungkap Wakil Ketua DPD PDI-P Jateng Drs Djatmiko Wardoyo MSi, kemarin.

Penyataan tersebut berkaitan dengan munculnya ketidakpuasan sebagian kader PDI-P yang ditempatkan pada nomor urut sepatu, seperti aksi unjuk rasa 50 orang yang mengatasnamakan pengurus pada 16 ranting dan anak cabang PDI-P Kecamatan Mlongo, Kabupaten Jepara.

Ketika beraksi di Kantor DPD PDI-P Jateng Jalan Siliwangi, beberapa waktu lalu, mereka mengancam akan membubarkan PDI-P di daerahnya, apabila Ali Masykuri sebagai caleg Daerah Pemilihan (DP) Jateng II (Kabupaten Jepara, Kudus, dan Demak) tidak ditempatkan pada nomor urut jadi.

Pengunjuk rasa itu merasa kesal dengan keputusan Kepala DPD PDI-P Jateng Murdoko yang berubah-ubah alias tidak konsisten. Pasalnya, pada 17 Januari, dia menyampaikan surat keputusan (SK) pencalegkan dengan menempatkan Ali Masykuri pada urutan nomor satu di DP II, berikut Ibnu, Andi Kristiadi, Ali Imron, dan Sutrisno. Akan tetapi, sehari kemudian pada 18 Januari, Murdoko sudah mengubah keputusannya dengan menempatkan Andi pada nomor urut satu dan Ali Masykuri nomor tiga.

Sosialisasi

Dia mengemukakan, kader PDI-P yang mengklaim memiliki basis massa tidak perlu risau, karena pada sistem pemilihan anggota Dewan mendatang yang dipilih tidak saja lambang partai tetapi juga nama caleg tersebut.

''Saat ini caleg nomor sepatu justru harus giat menggalang massa untuk meraih angka BPP tersebut,'' ungkapnya.

Dia mengatakan, Papuda, Papucab, PAC, dan pengurus ranting serta kader PDI-P yang masuk daftar caleg untuk menyosialisasikan aturan main tersebut. Dia menjelaskan, sosialisasi tersebut sangat penting untuk menghindari kesalahan, misalnya pemilih mencoblos tanda gambar partai, kemudian memilih beberapa nama caleg yang dikenalnya. Padahal, berdasarkan ketentuan hanya seorang caleg yang mereka pilih.

Sementara itu, anggota FPDI-P DPRD Jateng Warisno menyatakan tidak masalah menjadi caleg nomor urut sepatu dan ditempatkan di DP yang merupakan daerahnya sendiri.

''Caleg drop-dropan dari daerah lain akan sulit untuk meraih kuota suara atau BPP di daerah lain,'' ujarnya.

Dia menilai, kader partai yang berada pada nomor urut tiga atau empat yang DP-nya daerah asal pun belum tentu mampu meraih angka BPP, jika dia tidak berjuang betul-betul dalam menggalang kekuatan arus bawah.

''Apalagi mereka yang belum dikenal oleh konstituen di DP yang bukan daerah asalnya,'' tandasnya. (D14-58j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA