logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 24 Januari 2004 Berita Utama  
Line

Saat Ledakan, Temperatur Tak Normal

  • Staf Bapetan Diterjunkan di PT Petrowidada

GRESIK- Dari informasi hasil penyelidikan kepolisian, diketahui ternyata saat terjadi ledakan dan kebakaran di PT Petrowidada Gresik (Selasa, 20/1), kondisi temperatur tidak normal. Artinya, temperatur di bagian pabrik yang meledak dan terbakar, panasnya tak sesuai dengan batasan normal.

''Diketahui temperaturnya naik dan tak normal sejak pukul 07.00,'' kata sumber Suara Merdeka di Polres Gresik. Temuan itu berdasarkan keterangan beberapa saksi yang telah diperiksa petugas. Anehnya, kendati diketahui temperatur dalam posisi tak normal, proses produksi terus berjalan sampai pabrik meledak pada pukul 15.30. Berdasarkan keterangan saksi Agus, Karo Mekanik PT Petrowidada, dia ikut serta mendinginkan mesin pabrik yang temperaturnya naik dengan cara menyiram air. Hasilnya, mesin tetap panas dan suhu di indikator tetap tinggi.

''Anehnya, mesin utama pabrik tak segera dimatikan. Selain itu, tak ada sinyal early warning system (sistem peringatan dini) berupa sirine atau lainnya untuk menyatakan bahaya dan karyawan harus dievakuasi,'' tambah sumber tadi.

Karena itu, kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Sad Harunantyo, berdasarkan keterangan para saksi, lalu melihat parahnya tingkat kerusakan, dan banyaknya korban, kasus di PT Petrowidada ini tak sekadar terkait aspek teknis mesin, tetapi juga kemungkinan besar terjadi human error.

''Tapi, sampai kemarin kami belum menetapkan siapa tersangka kasus ini,'' katanya saat mendampingi Kapolda Irjen Pol Drs Firman Gani menghadiri Musda PBVSI Jatim di Gresik, kemarin.

Secara keseluruhan, sampai kemarin jumlah saksi yang diperiksa polisi 37 orang. Perinciannya, Polres Gresik memeriksa 34 saksi. Yakni tanggal 21 Januari diperiksa 11 saksi, 22 Januari diperiksa 17 saksi, dan 23 Januari kemarin 6 saksi diperiksa. Sedangkan tiga direktur PT Petrowidada diperiksa di Polda Jatim di Surabaya.

Mengenai nama-nama yang diperiksa, sumber Suara Merdeka mengungkapkan, semua satpam, control room, dan supervisor di PT Petrowidada. ''Hari ini (23/1) kami periksa 6 supervisor, sedangkan kemarin (22/1) juga 6 supervisor sudah kami mintai keterangan,'' kata sumber itu.

Terjunkan Bapetan

Sementara itu, ledakan yang dibarengi kebakaran di PT Petrowidada Gresik, Selasa (20/1) lalu, dinilai merupakan problem berat bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Karena itu, Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapetan) diterjunkan khusus ke lapangan. Tujuannya, mengecek seberapa jauh tingkat radiasi dari radioaktif bahan kimia yang dipakai perusahaan itu terhadap lingkungan alam dan kesehatan penduduk sekitarnya.

Bapetan menerjunkan dua stafnya untuk memeriksa dan meneliti masalah ini. Kedua staf Bapetan itu, Ir Mulyono Syamsuar MSc dan Dra Budi Utami MT. Mereka sebenarnya telah datang ke PT Petrowidada hari Kamis (22/1). Namun tak diizinkan masuk ke lokasi ledakan dan kebakaran di dalam pabrik.

Mereka baru diizinkan masuk untuk menjalankan tugasnya Jumat (23/1) bersama tim Labfor Polda Jatim, Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Surabaya, Batan Tenaga Atom Nasional (Batan), dan pejabat instansi terkait lain. ''Sebenarnya sejak Kamis kami datang ke sini, tapi belum diizinkan masuk,'' ujar Mulyono yang dibenarkan Budi Utami.

Sekitar pukul 14.30, kedua staf itu masuk ke lokasi ledakan dan kebakaran di PT Petrowidada. Sebelum melakukan pemeriksaan ke lokasi, kepada wartawan Mulyono menjelaskan, di dalam pabrik PT Petrowidada itu, ada bahan kimia yang mengandung radioaktif. Namanya cessium (CS137). Bahan ini ditempatkan di setiap reaktor dari unit produksi di masing-masing pabrik di PT Petrowidada.

''Jumlah keseluruhan ada 5 cessium,'' tegasnya.

Perinciannya, masing-masing satu cessium ditempatkan di pabrik unit I dan unit II. Sedangkan pabrik unit III (tak terbakar) ada 3 cessium.

''Berdasarkan pemeriksaan yang kami lakukan di lapangan, ternyata cessium di pabrik unit I dan II tak sampai rusak atau meledak. Sebab, jika meledak akan timbul radiasi yang bisa merusak lingkungan dan kesehatan warga sekitar pabrik,'' ujarnya.

Cessium, kata dia, perangkat bahan kimia yang berfungsi untuk pengukuran tinggi permukaan di satu industri kimia. ''Istilahnya itu level gauging,'' tambah Budi Utami. Bahan kimia ini tak diproduksi di dalam negeri, namun diimpor. ''Maaf saya tak ingat diimpor dari negara mana,'' jelas Mulyono.

Yang pasti ada standardisasi internasional cessium. Barang berbahaya ini dibungkus berlapis-lapis sebelum ditempatkan di reaktor utama unit produksi industri kimia. Tujuannya, agar tahan terhadap ledakan dan kebakaran ketika satu industri kimia menghadapi gangguan atau kecelakaan. Bentuknya padat. Cessium di PT Petrowidada masing-masing berkekuatan 600 milicuri (mci). ''Jika terjadi ledakan atau kebakaran dan mengenai cessium, sehingga pecah atau rusak, maka terjadi paparan radiasi tak terkontrol. Selain merusak lingkungan, ekses rusaknya cessium juga mengakibatkan iritasi kulit manusia dalam kondisi parah. Ya, itulah bahayanya kalau bertebar bisa merusak jaringan tubuh. Mematikan dalam kondisi begini sih tidak. Makanya kita ingin lihat ukurannya,'' tandas Mulyono.

Belum Ditemukan Kesengajaan

Sementara itu, Kapolri Jenderal Pol Da'i Bachtiar mengatakan pengembangan penyelidikan kasus kebakaran di PT Petrowidada Gresik, masih dalam tahap pemeriksaan intelijen dan forensik. ''Meski secara faktual tim penyidik sudah memperoleh keterangan kalau kebakaran diawali dengan percikan api, tetapi kami masih berupaya mendalami kasus itu,'' jelasnya kepada wartawan, seusai shalat Jumat.

Menurut dia, jajaran kepolisian masih mengumpulkan keterangan dan bukti yang akan dijadikan bahan masukan bagi pengusaha yang mengelola pabrik agar tidak mengalami kejadian serupa. ''Jadi sekarang, kepolisian tengah mendalami kasus itu dengan mengumpulkan keterangan saksi dan bukti di tempat kejadian perkara,'' katanya.

Menjawab kemungkinan adanya unsur sabotase dalam insiden itu, Da'i mengatakan sudah menurunkan aparat intelijen untuk mencari tahu keterangan dari luar. Demikian juga soal motif untuk memperoleh klaim asuransi. Menurut Da'i, tim penyelidik masih belum menciumnya. ''Itu masih dalam penyelidikan yang lebih dalam,'' katanya.

Lebih jauh Da'i mengatakan, yang terpenting saat ini melakukan tindakan preventif di tempat lain. Hal ini, untuk mencegah kejadian serupa terulang. ''Karena kebakaran seperti itu bisa terjadi di pabrik-pabrik yang lain,'' tegasnya.

Turun ke Jalan

Protes terbuka pascaledakan dan kebakaran PT Petrowidada dari masyarakat mulai muncul, Jumat (23/1) siang. Puluhan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Gresik turun ke jalan. Mereka memprotes telah terjadi ledakan di PT Petrowidada.

"Kejadian 20 Januari 2004 itu menunjukkan banyak pelaku industri di kota Gresik ceroboh dan tak pernah memikirkan keselamatan warga sekitar," kata seorang demonstran. Aksi turun ke jalan berlangsung di pertigaan Desa Roomo, Kecamatan Manyar. Jalur itu menuju ke lingkungan industri kecil (LIK) yang berdekatan dengan PT Petrowidada.

Aksi berlangsung sekitar satu jam, sejak pukul 14.30 sampai 15.30. Karena berlangsung

tepat di pertigaan, otomatis arus lalu lintas agak terganggu. "Pabrik terus dibangun di sini, tetapi keselamatan dan kesehatan warga sekitar pabrik tak pernah dipikirkan. Apakah keberadaan PT Petrowidada memberikan kontribusi kepada warga Gresik? Kan tidak? Hanya segelintir yang menikmati," kata seorang aktivis.

Karena itulah PMII Gresik menuntut direktur utama perusahaan itu bertanggung jawab secara hukum. Mereka juga meminta pemerintah mencabut izin usaha perusahaan bermasalah dan mengancam keselamatan warga sekitar pabrik itu.

Mereka juga meminta hak warga sekitar pabrik berupa lingkungan yang sehat, jaminan keamanan, dan pelayanan kesehatan gratis harus diberikan. (G14,bu-64,78g,t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA