
| Sabtu, 24 Januari 2004 | Karangan Khas |
Produktivitas dan Peningkatan EkonomiOleh: Masduqi Permasalahan dunia usaha, produktivitas dan dunia kerja bagi negara Indonesia seakan-akan menjadi permasalahan yang terus berlanjut dan belum terpecahkan, meski gerakan pengembangan produktivitas sudah dimulai beberapa puluh tahun yang lalu. Meski demikian, greget dan derap langkahnya sebagian besar belum menjadi dasar pijak bagi masyarakat, pemerintah, dan pengusaha, walaupun dalam Undang-undang No13 tahun 2003 pasal 29 disebutkan, "Peningkatan produktivitas dilakukan melalui pengembangan budaya produktif, etos kerja, pengembangan teknologi, dan efisiensi kegiatan ekonomi". Kondisi ini diperparah lagi dengan adanya krisis multidimensi yang membawa dampak pada rendahnya tingkat daya saing bagi perusahaan secara mikro dan makro (daerah dan bangsa Indonesia) dalam menghadapi era kompetitif, tingginya tingkat pengangguran, merosotnya kualitas hidup, dan rendahnya tingkat produktivitas bangsa kita. Karena itu, total faktor produktivitas (TPF) Indonesia hanya 0,29% pada 2001-2002, yang relatif rendah dibandingkan dengan sebelum terjadinya krisis ekonomi yang mencapai 0,78%. Bandingkan dengan TPF growth di negara-negara maju, sekitar 1,6% (sumber: sambutan Wapres RI pada peresmian pembukaan Indonesians National Productivity Round Table Conference tahap kedua pada 25 Agustus 2003) dan tingkat produktivitas Indonesia menurut UNDP pada 1999 sebesar 0,641 yang berada pada urutan ke-102 dari 247 negara. Adapun kondisi demografi dan tingkat produktivitas Provinsi Jawa Tengah dapat digambarkan sebagai berikut. Luas wilayah 32.547,46 Km2, sedangkan jumlah penduduk 30.924.164 orang, yang terdiri atas 15.419.665 laki-laki dan 15.504.499 perempuan. Jumlah angkatan kerja pada 2002 yang berdomisili di pedesaan 10.615.962 orang, sedangkan di perkotaan 6.001.342 orang. Pada 2003 yang berdomisili di pedesaan 13.059.541 orang, sedangkan di perkotaan 9.881.281 orang (sumber: PTKD tahun 2003-2007). Tingkat produktivitas Provinsi Jawa Tengah bila dibandingkan dengan provinsi-provinsi di Pulau Jawa pada 2001 menduduki posisi di bawah DKI, Jawa Timur, Jawa Barat, dan DIY. Adapun tingkat perkembangan produktivitas sektoral Provinsi Jawa Tengah sebagai berikut Dr BomerPasaribu menyatakan, etos kerja yang tinggi merupakan prime mover produktivitas, sedangkan produktivitas merupakan driving force bagi pembangunan, khususnya perekonomian. Sudah selayaknya pengembangan produktivitas mendapat perhatian yang layak bagi pemerintah, khususnya pemerintah daerah baik kabupaten/kota maupun Provinsi Jawa Tengah, untuk memanfaatkan dan mengembangkan potensi sumber daya agar lebih optimal dan berkelanjutan. Apalagi dengan dikumandangkannya produktivitas sebagai gerakan nasional yang dideklarasikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 17 Oktober 2003 di Istana Negara, dan bulan November adalah sebagai bulan mutu. Kenapa produktivitas sebagai gerakan nasional? Sebab, pertama, produktivitas berdampak ganda. Kedua, produktivitas adalah salah satu solusi yang tepat untuk menanggulangi krisis yang multidimensi. Sebab dalam produktivitas terdapat tiga kunci pokok, yaitu efisiensi, efektivitas, dan kualitas. Ketiga, peningkatan produktivitas akan menambah kesiapan kita menghadapi persaingan yang ketat dalam era global. Segi Mentalitas Pengertian produktivitas bermacam ragam dan versinya. Secara filosofis, produktivitas adalah sikap mental yang berpandangan bahwa mutu kehidupan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, sedangkan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Secara teknis, produktivitas merupakan perbandingan antara output dan input (Dewan Produktivitas Nasional, 1983). Sementara itu Walter Aigner menyatakan, produktivitas itu sudah ada sejak awal peradaban manusia. Sebab produktivitas mencakup the will (keinginan) dan effort ( upaya) manusia untuk meningkatkan kualitas kehidupan di segala bidang. Dalam aplikasinya, orang yang melakukan produktivitas disebut "orang produktif" yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. Berjiwa transparan, karena orang yang produktif berkeinginan maju, terbuka, dan berupaya instropeksi diri. 2. Memegang amanah, bermakna seseorang bisa dipercaya dan bertanggung jawab. Sebab dirinya selalu berupaya lebih baik dan lebih baik lagi. 3. Cerdas / kreatif, selalu berupaya untuk bisa beradaptasi dan mempertahankan eksistensi untuk menghadapi perubahan-perubahan. 4. Berjiwa enterpreunership. Orang yang produktif pada umumnya berjiwa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain, rasional, dan inovatif 5. Sportif, berani mengoreksi dan dikoreksi oleh orang lain, serta mengakui keberadaan orang lain. 6. Disiplin. Orang yang produktif senantiasa menghargai waktu dan peraturan. 7. Kooperatif. Orang yang produktif menyadari bahwa dalam bekerja butuh orang lain dan kerja sama yang baik. Dalam membudayakan produktivitas, perlu partisipasi baik masyarakat, perusahaan, maupun pemerintah sehingga ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan. (29i)
-Masduqi SE Msi, staf BPPTK, Disnakertrans, Pemprov Jawa Tengah
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||