logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 24 Januari 2004 Jawa Tengah  
Line

Agil: Emosi Kader Tersulut

  • Pembakaran Mobil dan Atribut PDI-P

TEGAL - Ketua DPC PDI-P Kota Tegal Agil Abdurochim menegaskan, dirinya tidak memiliki niat merusak citra PDI-P di Kota Tegal. Pembakaran mobil dan atribut partai PDI-P pascapemilihan wali kota di depan Kantor DPC Jl Setiabudi, beberapa waktu lalu, merupakan luapan emosi sesaat.

''Tidak ada niat kami merusak citra partai. Pada waktu itu kader saya emosional. Ya wajar dong, ketuanya mencalonkan diri jadi wali kota, kalah gara-gara dikhianati anggota fraksi yang duduk di Dewan. Yang jelas, itu hanya luapan emosi sesaat. Sekali lagi, tidak ada niat sekecil apa pun untuk merusak citra partai,'' ungkapnya, kemarin.

Agil juga menganulir pernyataannya yang ingin keluar dari partai. ''Bahkan, kini saya ingin melakukan konsolidasi internal partai. Hari ini (kemarin-Red) beberapa utusan DPC sedang ke DPD Jateng untuk memberikan klarifikasi kronologi kejadian tersebut.''

Ketika ditanya soal ancaman penonaktifan yang disampaikan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri melalui Ketua DPD Jateng Murdoko, dia meminta sebelum sanksi itu turun harus ada klarifikasi dahulu. Artinya, lanjut dia, harus dicari penyebab kejadian tersebut.

Agil yang mengaku pelopor PDI-P di Kota Tegal sejak 1985 (PDI Pro-Mega) itu mengatakn, penyebab utama kekecewaan itu adalah persoalan rekomendasi DPP. ''Berdasarkan hasil Pemilu 1999, PDI-P itu memperoleh 45%. Saya membangun mulai tingkat ranting hingga cabang. Yang bikin saya heran, kenapa rekomendasi itu tak kunjung turun?'' jelasnya.

Dia menyebutkan, untuk maju menjadi calon wali kota, dia melalui prosedur yang benar untuk memperoleh rekomendasi. Buktinya, dia telah mengantongi surat izin yang ditandatangani Ketua DPP Gunawan Wirosarojo dan Sekjen Ir Sutjipto.

Sementara itu, menyinggung dugaan praktik politik uang dan indikasi pemerasan yang melibatkan 12 anggota Fraksi PDI-P , Agil masih mempertimbangkan menempuh jalur hukum. ''Saya masih berkonsultasi dengan pengacara dari Jakarta. Saya belum bisa memastikan. Itu tergantung nanti pengacara saya,'' ujarnya.

Untuk Rakyat

Komunitas anak jalanan yang melahirkan LSM Makna menyerukan agar para politikus busuk yang diisukan telah menerima uang suap dari para bakal calon pada pemilihan Wali Kota/Wakil Wali Kota Tegal dengan iming-imingi kemenangan, mengembalikan uang itu kepada rakyat.

Dalam imbauan yang bertajuk ''Surat Rakyat kepada Wakil Rakyat'', LSM itu mengajak semua pihak untuk menjadikan Kota Tegal bebas dari judi toto gelap, kuda lari, politikus busuk dan permainan politik uang. Dalam surat tertanggal 20 Januari 2004 yang ditandatangani Ketua LSM Makna, Rama Ade P, lembaga itu mengutip kabar burung yang mengisukan oknum di Dewan menerima uang puluhan juta rupiah, bahkan sampai ratusan juta rupiah. Isu itu menjadi benar, ketika salah seorang jago yang kalah mulai membongkar kebusukan. Akibat kekalahan dalam pemilihan wali kota, calon itu marah, disusul pembakaran mobil satgas dan atribut partai. Ratusan kader lalu minta agar uang dikembalikan kepada pemimpin partainya.

Meski mengaku tidak menuduh serta mengaku sulit membuktikan kebenarannya, cerita isu politik uang menyebar dari mulut ke mulut, sehingga menyakitkan hati rakyat. Maka seandainya isu uang suap itu benar, LSM itu minta uang itu dikembalikan kepada rakyat.

Ketua LSM Cordova H Tambari Gustam yang disebut-sebut dekat dengan LSM Makna menegaskan, dia tidak terlibat secara struktural di LSM itu. Hanya diakuinya, di Makna dia sebagai pembina spiritual.(G12,aj-17e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA