logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 21 Januari 2004 Olahraga  
Line

PSIS vs Persebaya, Rivalitas Tiada Akhir

DUA dekade tampaknya tak cukup lama untuk menghapus kenangan. Paling tidak, begitulah nuansa yang tersirat setiap kali dua anggota Divisi Utama Liga Indonesia, PSIS Semarang dan Persebaya Surabaya, akan bertarung. Meski "perseteruan" kedua tim itu terjadi lebih dari 15 tahun silam, gurat-gurat kenangan di kedua kubu tak bisa lekang oleh waktu. Pemain, suporter, dan para ofisial selalu menganggap duel ini sebagai salah satu yang terpen-ting. PSIS begitu, Persebaya juga.

Lima belas tahun silam, tepatnya musim kompetisi 1987/1988, saling jegal antarkedua tim ini memang mencapai puncaknya. Kala itu, PSIS yang tengah berharap lolos ke babak "6 Besar" Divisi Utama di Senayan harus menelan pil pahit setelah Persebaya bermain "sepak bola gajah" dengan mengalah dari Persipura Jayapura.

Skornya tak tanggung-tanggung, 0-12. Padahal semestinya, dengan skor 0-8 pun sudah cukup bagi Persebaya untuk "menyingkirkan" PSIS. Hasil pertandingan di Stadion Gelora 10 November Surabaya yang kontroversial itulah yang kemudian membekas lama di hati para pemain, ofisial, dan suporter Semarang.

Tetapi, benarkah rivalitas antarkedua tim ini hanya bermula dari kasus sepak bola gajah itu? Sebenarnya, tidak juga. Dua musim sebelum Persebaya "mengalah", perseteruan mereka sudah dimulai. Pada musim 1985/1986, PSIS yang tengah memiliki skuad bagus "mengirim" Persebaya ke babak "6 Kecil".

Lewat kemenangan 1-0 di Stadion Diponegoro berkat gol Budiawan Hendratno, PSIS memaksa tim Bajul Ijo bersaing dengan lima tim lain untuk tetap bertahan di Divisi Utama Perserikatan. Padahal, kala itu, andai Laskar Mahesa Jenar "mengalah", maka Persebaya tak perlu repot-repot berebut jatah tiket di kelompok "6 Kecil."

Selamat

Persebaya memang akhirnya selamat. Mereka tetap bertahan di Divisi Utama, dan pada musim berikutnya (1986/1987) anak-anak Surabaya itu bahkan masuk ke final. Lawannya di final? PSIS Semarang. Tragisnya, Persebaya kalah lagi.

Ketika itu, dalam waktu normal, skor sebenarnya 1-1. Persebaya unggul dulu lewat Budi Johanis, sementara PSIS menyamakan kedudukan melalui tendangan bebas Ribut Waidi. Gol Ribut ini sempat diprotes karena dicetak --menurut Persebaya-- sebelum wasit Djaja Mujahidin meniup peluit tanda boleh dilakukannya eksekusi. Tapi Djaja bergeming. Gol itu tetap dinyatakannya sah, dan protes Persebaya tak dikabulkan. Di babak perpanjangan waktu, Syaiful Amri mengubur mimpi balas dendam Persebaya.

Itu barangkali yang menjadi salah satu sebab, mengapa ketika final Liga Indonesia V tahun 1998/1999 antara PSIS versus Persebaya, polisi dan tentara tumplek-blek di Stadion Senayan. Iklim panas sudah dibuka sebelum pertandingan digelar.

Tiga belas pendukung PSIS menjadi tumbal. Mereka tewas dalam kerusuhan di dekat rel listrik, sebagian besar karena kesetrum. Suporter Persebaya juga banyak yang luka. Karena rusuh dan situasinya amat mencekam, final lantas dialihkan ke Stadion Klabat Manado.

Dan di final, Tugiyo --striker PSIS yang dijuluki Maradona dari Purwodadi-- mengubur lagi mimpi Persebaya. Gol tunggalnya dua menit sebelum pertandingan usai makin membuat sengit rivalitas kedua tim. (Gunarso-77)

Statistik Persebaya

Final divisi utama perserikatan:

1938, 1941, 1942, 1950, 1951, 1952, 1965, 1967, 1971, 1973, 1977, 1981, 1986/1987, 1988, 1990

Juara perserikatan: 1941, 1950, 1951, 1952, 1988

Final Liga Indonesia:

1996/1997 : Persebaya 3 vs Bandung Raya 1

1998/1999 : Persebaya 0 vs PSIS 1

Juara LI:

1996/1997 : Persebaya 3 - Bandung Raya 1

Statistik PSIS

Final divisi utama perserikatan: 1986/1997

Juara perserikatan: 1986/1987

Final Liga Indonesia:

1998/1999: PSIS 1 - Persebaya 0

Juara Liga Indonesia:

1998/1999 : PSIS 1 - Persebaya 0


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA