logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 20 Januari 2004 Budaya  
Line

Beda Budaya Bertemu di Bahasa Rupa

SEPULUH perupa dari beberapa negara berpameran bersama di Galeri Sienna, Jl Tegalsari Semarang, sejak Jumat (16/1) hingga 9 Februari mendatang. Mereka adalah Christine Cocca dan Linda Kaun (Amerika Serikat), Midori Hirota dan Mizuho Matsunaga (Jepang), Cynthia Webb (Australia), Yohannes M Engeler (Austria), serta empat perupa Indonesia; Feri Eka Chandra, Herman Ong, Stefan Buana, dan Tan Markaban.

Hadirnya beragam perupa dengan latar belakang budaya yang berbeda tentu saja menarik. Apalagi, jauh sebelum pameran bertajuk ''Understanding Language'' yang dibuka Jumat malam, Titi Indri, pemilik galeri, mengatakan orang asing yang berpameran telah lama tinggal di Indonesia.

''Hebatnya lagi, di sini mereka berkarya di sela-sela studi dan riset. Ada pula yang tak melakukan aktivitas lain selain berkarya,'' ujarnya.

Tapi apa yang dituju? ''Pameran ini bisa dijadikan referens bagaimana proses Understanding Language (pemahaman bahasa) terjadi di antara mereka. Saya hendak menawarkan pameran seni rupa yang memiliki warna multikulturalisme.''

Sebab, bagi dia, multikulturalisme sebagai bagian proses akulturasi budaya sangat mungkin menciptakan nilai-nilai baru. Bagi perupa, persentuhannya dengan realitas budaya lain pastilah akan memengaruhi proses berkreasinya.

''Meskipun setiap seniman memiliki ciri khas.''

Itu sepadan dengan tulisan Kus Indarto, kurator pameran, ''Understanding Language adalah upaya kecil beberapa individu untuk memahami dan menyelami sendiri sekaligus entitas, kultur serta komunitas lain dengan bahasa ungkap dan ekspresi yang relatif cukup personal dengan membawa kekhasan masing-masing.''

Bagaimana multikulturalisme itu terejawantahkan dalam pameran? Itu memang tak bisa serta-merta dijumpai begitu memasuki ruang pameran dan mengamati karya yang terpajang. Lukisan, montase, dan patung memang menjanjikan sebuah keragaman media seni rupa. Tapi butuh waktu sebelum bisa ''mencerna'' persentuhan banyak budaya lewat karya-karya itu.

Tema Bersahaja

Yang paling kentara adalah ketiadaan tema khusus pada pameran itu. Bahkan, beberapa karya memperlihatkan tema sangat bersahaja. Misalnya goresan pensil dan pastel Cynthia Webb yang memperlihatkan ''potret'' sephia di atas kertas lewat karya berjudul ''Prie''.

Beberapa sketsa lainnya pun menunjukkan kebersahajaan itu, untuk tak menyebut pelukisnya begitu berani menyajikan karya yang boleh saja dibilang ''masih setengah matang'' itu dalam sebuah pameran. Sayangnya, Cynthia tak hadir menunggui karyanya dalam pameran.

Sang kurator pun memberi contoh kesederhanaan itu pada karya drawing Christine Cocca. Kesederhaan itu terlihat dalam pemilihan objek seperti pada karya ''Trip to US 2003'' yang hanya memperlihatkan dua kaki terbungkus celana jeans yang saling bertumpangan. Memang sangat impresif. Barangkali dengan melihat gambar itu, penikmat bisa mencermati kesantaian sebuah perjalanan.

Atau karya patung Herman Ong berjudul ''Geliat'' yang bermedium batu obsidian. Ada kesederhanaan, tapi tak sedikit pengunjung yang sebagian besar ekspatriat (orang asing di Indonesia) menyukainya. Begitu juga dua karya Mizuho Matsunaga yang menawarkan kesemarakan warna.

Karyanya itu berupa komposisi bendera banyak negara di dunia. Dengan menyejajarkan warna bendera satu negara dengan bendera negara lain, Mizuho menyuguhkan komposisi yang cukup menarik. Atau itulah simbol multikulturalisme menurut perupa muda kelahiran Jepang tahun 1976? ''Saya memang menyukai simbol-simbol negara. Itu selalu jadi tumpuan karya saya. Beragam simbol beragam budaya,'' ujar Mizuho.

Banyak lagi lainnya yang seolah-olah tak banyak bicara dengan tema-tema besar. Tan Markaban misalnya. Perupa asal Semarang itu memamerkan karya ''Perangkap Lalat''. Kalau Anda melihatnya, lalat-lalat yang terperangkap lem penjerat menjadi serupa cat.

Ya, kekhasan di tengah-tengah tawaran multikulturalisme itu didedahkan di Galeri Sienna hingga pameran berakhir 9 Februari mendatang. Sebuah pameran yang menyuguhkan pertemuan ''bahasa rupa'' di balik perbedaan budaya para perupanya.(Saroni Asikin-79)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA