logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 19 Januari 2004 Ragam  
Line

Interaktif Tasawuf

Muhasabah (Introspeksi Diri)

T: Assalamu'alaikum wr.wb. Bapak Amin Syukur, pada setiap akhir tahun baik Masehi atau Hijriah, saya sering mendengar istilah muhasabah. Suatu istilah yang tidak familier pada telinga saya. Artinya saya tidak paham bahasa ini. Yang saya tanyakan ialah:

1. Apa arti muhasabah itu?

2. Mengapa istilah itu muncul setiap akhir tahun? Wassalam wr. wb.

Zumratun, Semarang

J: Saudari Zumratun yang saya hormati, memang benar istilah tersebut asing bagi telinga sebagian orang Indonesia. Karena muhasabah adalah bahasa Arab. Namun kalau Anda sering mengikuti pengajian-pengajian, maka insya Allah istilah tersebut tidak akan asing lagi bagi Anda. Karena istilah itu sering diucapkan dalam forum tersebut.

Arti muhasabah ialah introspeksi atau mawas atau meneliti diri. Yakni menghitung-hitung perbuatan pada tiap tahun, tiap bulan, tiap hari bahkan setiap saat. Oleh karena itu muhasabah ini tidak harus dilakukan pada akhir tahun, akhir bulan. Namun perlu juga dilakukan setiap hari, bahkan setiap saat.

Menjelang pergantian tahun (evaluasi tahunan), ada baiknya kita mengevaluasi diri kita masing-masing, sejauh mana telah melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Sekiranya sudah melaksanakan, maka hendaknya ditingkatkan. Tetapi seandainya belum melaksanakan perintah serta meninggalkan larangan-Nya dan Rasul-Nya, maka harus kembali sadar (yaqdhah) kemudian bertaubat kepada Allah.

Tindakan muhasabah ini memang diperintah Allah dengan firman-Nya yang artinya: ''Hai orang-orang yang beriman takwalah kamu sekalian kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan''. (QS. al-Hasyr/59:18).

Saudari Zumratun, dalam ayat tersebut, kata takwa disebut dua kali, yang pertama sesudah kalimat panggilan kepada orang yang beriman, alladzina amanu, dan yang kedua setelah kata maqaddamat lighad. Maksudnya ialah iman saja yang terletak dalam hati belum cukup, ia harus diaktualkan dalam bentuk amal shalih atau akhlak al-karimah. Artinya pengakuan dalam hati itu harus dibuktikan dengan aksi, tanpa aksi iman akan kurang bermakna.

Muhasabah hendaknya dilakukan secara umum maupun khusus. Yang umum tentang umur, harta, kesempatan dan waktu, apakah tiga hal itu secara maksimal sudah dipergunakan untuk beribadah kepada Allah dan pengabdian kepada orang lain serta masyarakat. Kita harus ingat akan sebuah hadits Nabi saw.: ''Raihlah lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni kaya sebelum miskin, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk, sehat sebelum sakit, dan hidup sebelum mati''.

Umur bertambah panjang berarti lebih dekat dengan mati, menemui Allah SWT, tentu harus disertai bekal yang cukup memadai dan seterusnya. Untuk memantapkan muhasabah itu, perlu melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Muraqabah (pengawasan). Pengawasan dilakukan terhadap lahiriah dan batiniah semua perbuatan kita, seperti keikhlasan dan kesempurnaan amal kita.

2. Mu'aqabah (sanksi), yakni memberi sanksi kepada diri sendiri, tentu atas dasar manfaat, seperti meninggalkan amal kebaikan diberi sanksi melaksanakan ibadah yang lebih baik, sesuai dengan hadits nabi saw.: ''ikutilah kejelekan atau kejahatan dengan kebaikan, karena amal kebaikan itu bisa melebur dosa, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang bagus''. (HR. Tirmidzi).

3. Mu'atabah ala al-nafs (mengkritik pada diri sendiri), suatu kritikan yang sesuai dengan standard Alquran dan al-Hadits, seperti mempertanyakan mengapa kamu berbuat kemaksiatan begini dan begitu, mengapa kamu malas, mengapa kamu tidak jujur dan sebagainya.

Insya Allah jika Anda bisa melakukan muhasabah, kemudian mengikutinya dengan langkah-langkah yang lain tersebut, kita akan bisa meningkatkan amal kebaikan dan meninggalkan kemaksiatan sedikit demi sedikit. Wallahu a'lam bish shawab.(35)

Bagi yang berminat dengan rubrik ini, kirimkan surat ke alamat Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo, d/a LPK2 (Lembaga Pengembangan Keagamaan dan Kemasyarakatan) Jl. Boja Km 1, Ngalian Semarang, Telepon (024) 7601294. Di atas sebelah kiri amplop ditulis "Interaktif Tasawuf"


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA