
| Jumat, 16 Januari 2004 | Olahraga |
KONI Keluhkan Dana Olahraga MinimJAKARTA- KONI Pusat mengeluhkan keminiman dana olahraga yang diberikan pemerintah ataupun swasta. Hal ini membuat prestasi olah raga Indonesia tertinggal jauh dibandingkan dengan Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Singapura. ''Thailand berani mengucurkan dana 127 juta dolar AS per tahun. Malaysia mengeluarkan 46 juta dolar AS per tahun. Singapura berani keluar 100 juta dollar Singapura,'' ungkap Sekjen KONI Pusat Djohar Arifin Husin. Dia mengemukakan, pada saat SEA Games XXII/2003 di Vietnam, Pemerintah Indonesia cuma memberi Rp 40 miliar. Kekurangan Rp 40 miliar menjadi tanggungan KONI Pusat. ''Kami cari dana tambahan secara pontang-panting. Saat itu kami butuh anggaran Rp 80 miliar. Ini sungguh keadaan yang menyedihkan bagi dunia olahraga Indonesia,'' ujar Djohar. Melihat dari faktor anggaran olahraga, ucapnya, tidaklah mengherankan jika Indonesia kalah segalanya dibandingkan dengan empat negara Asia Tenggara tersebut. Kekalahan dimulai dari segi kualitas, venue, hingga sumber daya manusia. ''Di Thailand, tiap kabupaten punya lintasan atletik dan kolam renang standar internasional. Sementara kita, baru punya lima lintasan atletik bertaraf internasional. Lintasan itu ada di Senayan, Sidoarjo, Solo, Samarinda, dan Palembang. Jadi, bagaimana kita tidak tertinggal dari mereka?'' keluh Djohar. Djohar, pengurus KONI, menyatakan saat ini selalu ketar-ketir. Pasalnya, setiap tahun anggaran baru mereka tidak tahu akan menerima berapa dana untuk pembinaan olahraga dari pemerintah. ''Bila kita punya sumber daya dan dana seperti Thailand, Malaysia, atau Singapura, saya yakin Indonesia dapat merajai kawasan Asia, apalagi Asia Tenggara. Karena itu, saya mengharapakan RUU Keolahragaan bisa segera rampung agar prestasi olahraga kita tidak semakin terpuruk,'' papar Djohar. Sejauh ini KONI Pusat juga menolak pendapat yang menyatakan bila proyek Permainan Kesejahteraan Olahraga PT Metropolitan Magnum Indonesia (MMI) sudah jebol. Uang yang didapat dari MMI akan bisa dipakai untuk menutup semua pengeluaran KONI baik itu anggaran tahunan maupun dalam pengeluaran ajang multievent. Djohar menolak untuk menyebutkan berapa rupiah per tahun yang akan diterima KONI Pusat dari PT MMI. ''Enggaklah. Dana dari Magnum itu kan cuma sambil lalu,'' paparnya berusaha menjelaskan kecilnya dana yang akan didapat KONI dari PT MMI. KONI Pusat butuh Rp 20 miliar untuk dana Olimpiade Athena 2004. Sementyara itu pada 2005 mendatang, KONI mempunyai empat agenda besar yang mesti dilalui. Event tersebut adalah Islamic Olimpic Solidarity, Asian Indoor, SEA Games XXIII Manila, dan Para Games III Manila.(D3-57j) |