logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 16 Januari 2004 Jawa Tengah - Pantura  
Line

Upaya Guru Ungkap Pembunuhan Sugiyatno

Petunjuk dari ''Dunia Lain'' Pelakunya 4 Orang

KALANGAN guru tak kenal lelah mengungkap pembunuhan terhadap Sugiyatno, guru SLTP 10 Pekalongan. Mereka tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Pekalongan, Persatuan Guru Pendidikan Jasmani (Pegas), dan Komite Perjuangan Perbaikan Kesejahteraan Guru (KP2KG).

Ketua Pegas Drs B Bayu Hanura mengemukakan mereka berupaya menekan Polres Pekalongan agar menyelidiki sampai mengundang arwah korban serta membentuk tim investigasi independen melibatkan beberapa LSM. Kendati belum membuahkan hasil maksimal, sedikit demi sedikit ada kemajuan berarti untuk mengungkap pembunuhan terhadap guru olahraga itu.

Terbukti, polisi menangkap Mansyur (36). Warga Landungsari, Pekalongan Timur, Kota Pekalongan, itu diduga menganiaya korban. Meski penganiayaan itu tak mengakibatkan kematian.

Namun kini para guru masih kecewa karena Polres belum menemukan sang pembunuh. Karena itulah mereka berharap Polres bekerja lebih keras untuk mengungkap pembunuh sebenarnya.

Karena Polres belum menemukan sang pembunuh, para guru berupaya mencari petunjuk melalui ''dunia lain''. Para guru memanggil arwah korban dan memperoleh informasi bahwa pembunuhnya empat orang. Mereka menganiaya di dalam mobil dan membuang mayat korban ke rel kereta api.

Bentuk Tim Investigasi

Namun aparat penegak hukum menilai upaya melalui paranormal itu tak bisa dipertanggungjawabkan secara hukum. Karena itulah para guru membentuk Tim Investigasi Independen Terbunuhnya Sugiyatno (Tinndas), sehingga informasi yang mereka sampaikan dapat menjadi petunjuk bagi polisi untuk menangkap sang pembunuh.

Tim itu beranggota 10 orang yang terdiri atas aktivis LSM, guru, LBH, dan warga masyarakat. Mereka adalah Drs Bayu Hanura (Ketua Pegas), Ahmad Faedhoni (pegawai LP II Pekalongan), M Makmur SH (LSM), Ibrahim SE (LSM), Ir Benny Dyah MS (Forum Lintas Pelaku), Drs Susilo W (wiraswasta), Sugeng Sarjito MPH (paranormal), Mu Fauzi (LSM), Jones Bernanto Simbolon (LBH), dan Alifatur Rozikin SAg.

Tim independen itu, kata Bayu, akan mencari informasi sebenar-benarnya. Dengan harapan, dapat dijadikan petunjuk untuk menangkap para pembunuh. ''Sampai kini Tinndas sudah memintai keterangan tujuh orang yang belum pernah dimintai keterangan oleh polisi. Target kami memintai keterangan 12 orang,'' kata dia.

Namun dia belum bisa menyampaikan hasilnya kepada wartawan. Hasil itu akan dibahas dalam tim dan kelak disimpulkan untuk disampaikan ke kepolisian. ''Pokoknya kami akan menyampaikan setelah keterangan dari berbagai sumber mengerucut ke pembunuh,'' katanya.

Dia menyatakan belum puas atas penangkapan Mansyur. Bahkan jika dalam persidangan pengadilan kelak tersangka dibebaskan, bagi kalangan guru tidak masalah. Sebab, Mansyur hanya akan dituntut sebagai penganiaya. ''Kami ingin pembunuh tertangkap dan bukan penganiayanya saja.''

Karena itu dia mengharapkan jika masyarakat mengetahui sesuatu yang berkait dengan pembunuhan Sugiyatno hendaknya menyampaikan informasi itu ke Tinndas. Dengan alamat, Jalan Selat Selayar 38 Pekalongan atau telepon 0285-424292.

Untuk mengungkap kasus tewasnya Sugiyatno, Kapolres AKBP Drs Edy Suyanto membentuk tim. Namun tim itu baru bisa menangkap sang penganiaya. Dia berjanji akan memberikan hadiah kepada anggotanya jika bisa menangkap si pembunuh.(Trias Purwadi-14g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA