
| Jumat, 16 Januari 2004 | Jawa Tengah - Kedu & DIY |
600 Warga Bendan Takut KelongsoranBENCANA tanah longsor kini menjadi '' hantu '' bagi 600 jiwa (112 keluarga) warga Dusun Bendan, Desa Kebonsari, Kecamatan Wonoboyo, Temanggung. Bukit Bendan yang mengelilingi dusun itu belakangan longsor, terutama pada saat hujan lebat. Itulah yang terjadi akhir pekan lalu. Longsoran tanah menimpa rumah Nur Rochim (50) dan Muntasil (60). bagian belakang kedua rumah itu rusak. Dusun itu sekitar 40 km di utara kota Temanggung. Tak ada korban jiwa karena penghuni rumah dapat menyelamatkan diri. Namun peristiwa itu menimbulkan kerugian sekitar Rp 4 juta. Nur Rochim menuturkan Bukit Bendan setinggi 30 m itu sangat membahayakan. Setiap kali hujan lebat tanah di bukit kerap bergerak, sehingga menakutkan penghuni rumah di bawahnya. Mereka menduga penyebabnya adalah kebocoran dam pengendali di atas bukit. Air dam mengalir melalui bukit itu dan masuk ke perkampungan membawa tanah bukit yang terkikis. ''Sebenarnya kami bersama pemerintah sudah memperbaiki dam itu. Namun saat hujan lebat dam tak mampu menampung air sehingga meluber ke bukit dan turun ke kampung,'' kata dia. Dua Kali Menurut catatan dia, selama ini sudah terjadi longsor dua kali. Pertama sekitar 10 tahun lalu yang mengakibatkan lima rumah terkubur dan enam orang tewas. ''Kali kedua Jumat dini hari lalu. Namun musibah kedua tak menimbulkan korban jiwa, meski rumah saya dan Muntasil rusak,'' kata dia. Dua peristiwa itu sudah cukup memukul penduduk Bendan. Sebagian besar di antara mereka berharap segera dipindah ke tempat aman. Bila perlu diikutkan program transmigrasi. ''Namun kalau transmigrasi, kami khawatir jangan-jangan ada warga lain menempati kembali tanah ini,'' ujar warga lain. Hanya beberapa warga yang keberatan meninggalkan kawasan itu. Sebab, tanah itu warisan dari nenek moyang. Mereka bersedia pindah asal tidak jauh dari lokasi semula. Mendesak Camat Wonoboyo Drs Hendra Basuki mengemukakan setidaknya ada lima rumah harus segera dikosongkan, termasuk rumah Nur Rochim dan Muntasil. ''Lima rumah itu persis di bawah tebing. Jika hujan lebat dan terjadi longsor besar dan sangat membahayakan,'' kata dia, baru-baru ini. Pemerintah, ujar dia, sangat memperhatikan permintaan mereka. Saat ini pemerintah tengah melakukan persiapan, karena musim hujan masih berlangsung. Beberapa waktu lalu, kata dia, warga mengusulkan bedol desa. Jika itu bisa lebih mudah direalisasikan. Namun, dengan catatan mereka mengikuti program transmigrasi. Dam pengendali yang menjadi biang musibah, kata dia, sudah ditangani. Dam itu andalan pengairan pertanian yang dapat memasok air untuk ratusan hektare lahan pertanian. Dia berharap musibah kedua bisa diambil hikmahnya agar warga waspada dan bersikap bijaksana. Dia berharap tak ada lagi bencana yang menimbulkan korban jiwa. (Narto Budhi-74g) |