logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 16 Januari 2004 Jawa Tengah - Pantura  
Line

"Perubahan Menggoyang Kursi Anggota DPRD"

PROSES pendaftaran calon anggota legislatif (caleg) memunculkan keruwetan. Mulai dari kuota perempuan 30%, kualitas sumber daya manusia, sampai ketidaklengkapan persyaratan administrasi, sampai keraguan atas keabsahan ijazah calon.

Persoalan itu baru prolog. Persoalan sesungguhnya pasti lebih seru.

Dosen Universitas Pancasakti Tegal, Drs H Basukiyatno MPd, kemarin, menyatakan sebagai calon pemimpin baru layaklah caleg mengharapkan kemapanan dan kemantapan kedudukan di kursi DPRD. Kemajuan ilmu dan teknologi selalu menimbulkan perubahan dahsyat yang mengglobal di hampir semua sendi kehidupan umat manusia. Perubahan sangat cepat, kata itu, dapat menghancurkan tatanan masyarakat dan sumber penghidupan. Masyarakat pun kelabakan, terseok-seok, kehilangan arah dan pegangan hidup. Pengangguran, kemelaratan, kebrutalan pun melanda.

''Perubahan yang pasti terjadi otomatis menggoyang orang-orang yang duduk manis di kursi DPRD,'' tutur Ketua PC Nahdlatul Ulama Kota Tegal itu.

Pemimpin tak dapat menjawab persoalan itu dengan janji-janji seperti nyanyian dalam yel-yel kampanye atau melalui pengerahan massa. Namun perlu pikiran arif. Itu seharusnya menyadarkan seluruh komponen bangsa untuk bersungguh-sungguh melahirkan pemimpin di negeri ini.

Bukan apatis, bukan golput, yang menjadi wacana sebagian kaum intelekual. Namun keterpanggilan melahirkan sang pemimpin.

Panas Listrik

Dia mengemukakan pemimpin seharusnya mampu mengintegrasikan berbagai kekuatan yang berseberangan. Dari situlah seni dan sumber kekuatan pemimpin muncul. Dalam Alquran Surah Yasin Ayat 36 disebutkan, dijadikanya dunia seisinya ini berpasang-pasangan dan dari sinergi pasangan itulah diperoleh keturunan.

Secara empiris, kata dia, itu sangat mudah dibuktikan. Panas listrik, misalnya, adalah perkawinan arus positif dan negatif.

Kandidat doktor pendidikan UPI Bandung itu menuturkan pemimpin adalah penanggung jawab setiap kegiatan organisasi yang dipimpinnya. Aktivitas pemimpin merupakan representasi lembaganya. Mereka dituntut menjadi anutan dan keteladanan bagi semua bawahan. Mereka juga menjadi tumpuan terakhir dalam penyelesaian masalah, bahkan akumulasi masalah yang tak terselesaikan oleh segenap anggota dan bawahan.

Selain keunggulan kompetitif, ujar dia, pemimpin harus berkemampuan umum yang unggul seperti kesabaran, keterampilan, ketelitian, dan kesungguhan. Pemimpin yang lebih banyak mengikuti pendidikan formal model Barat condong menghadapi masalah dengan kemampuan logika, rasional, tunggal, dan linier. Pikiran yang jlimet, ruwet kadang sulit dipahami dan diikuti orang-orang kecil yang menjadi mayoritas rakyat negeri ini.

Pemimpin hasil didikan pesantren salafiyah dan autodidak dalam perjalanan organisasi lebih banyak berintuisi, berimajinasi, dan lebih kaya alternatif pemecahan masalah yang lebih mudah diterima. Kemampuan orang terpelajar menggali potensi otak sehingga dapat berintuisi dan berimajinasi laksana menemukan kembali dunia yang hilang dari kekayaan bangsanya.

Orang-orang seperti itu dapat menemukan keutuhan diri serta cerdas secara rasional, emosional, dan spiritual. Mereka diharapkan dapat memimpin bangsa ini secara arif, tanpa melukai dan menyakiti hati rakyat.(Nuryanto Aji-14g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA