
| Jumat, 16 Januari 2004 | Jawa Tengah - Pantura |
''Tak Bisa Pisah dengan Bapaknya''CINTA tak mengenal batas wilayah. Meski berbeda bangsa dan bahasa, bila cinta telah menyatukan maka apa pun akan dilakukan demi orang tercintai. Itulah yang terjadi pada Chaikanika (37) warga Thailand yang nekat tinggal di Indonesia agar bisa hidup bersama istrinya, Wahyuni binti Wasit (30). Ayah dari Panggih (4,5) dan Dede Riyadi (3) tersebut kepada wartawan mengaku sangat mencintai istrinya dan kasihan dengan mertuanya yang tua dan sakit-sakitan. Dia mengemukakan, waktu itu paspornya memang hanya untuk sementara. Namun ketika melihat kondisi mertuanya yang sudah tua dan sakit-sakitan, dia nekat tinggal untuk menjaga mereka. Kali pertama dia datang ke rumah istrinya di Desa Donowangun, Talun, Kabupaten Pekalongan pada 28 September 2000. ''Waktu itu saya takut tapi karena senang (cinta-Red) dengan istri, orang tuanya yang sakit-sakitan, akhirnya saya berani tinggal di sini. Saya ingin menjaga mereka,'' ujarya dengan logat Melayu. Begitu sampai di desa tempat sekarang dia tinggal, Chaikanika menyatakan telah melapor kepada kepala desa dan warga. Dan, mereka tak mempermasalahkan dia tinggal. Jika Chaikanika tetap terlihat dingin walau terancam dideportasi ke negara asalnya dan berpisah dengan orang-orang yang dicintainya, lain halnya dengan Wahyuni, istrinya. Dia tak bisa menyembunyikan raut kesedihan dari mukanya ketika mengetahui suaminya terancam dideportasi ke negera asalnya. Bahkan selain itu, dia juga terancam hukuman pidana karena memalsu KTP. ''Saya berharap, pemerintah tetap mengizinkan suami saya tinggal di sini, karena kedua anak saya tak bisa pisah dengan bapaknya,'' paparnya dengan mata berkaca-kaca sambil memeluk anak bungsunya, Dede Riyadi (3), yang terus menangis. Semasa tinggal di desanya, ungkap dia, suaminya yang rajin bertani untuk menghidupi keluarganya adalah warga yang baik dan selalu ramah pada tetangga.(Muhammad Burhan-14j) |