
| Senin, 12 Januari 2004 | Surat Pembaca |
Rasa Kemanusiaan Tim CPNS Magelang Saya peserta tes CPNS Kabupaten Magelang, untuk formasi guru SLTP Penjaskes yang lolos tes tertulis dan berhak untuk mengikuti wawancara beserta peserta lain yaitu Sdr Rohmanto SPd. Pengumuman terakhir, yang dinyatakan lulus/diterima bukan salah satu di antara kami tetapi muncul nama orang lain yaitu Sdr Yaimanah alamat Canggal, Kadiluwih, Salam Magelang. Yang lebih mengejutkan lagi tanggal, bulan dan tahun kelahiran pada pengumuman tersebut adalah milik Sdr Rohmanto SPd. Setelah kami konfirmasikan dengan BKD/Tim CPNS dan mohon klarifikasi ternyata sampai saat ini belum ada penyelesaiannya, dengan alasan hasil tes kami dinyatakan jelek dan tidak layak lulus. Sdr Yaimanah dinyatakan nilainya lebih baik dari kami tetapi belum tercover dalam pengumuman. Kemudian panitia mengambil kebijakan untuk memanggilnya mengikuti seleksi wawancara di luar waktu yang sudah ditentukan. Juga dikatakan ada kesalahan administrasi dari BKD Provinsi dalam pengiriman buku daftar nominasi hasil tes tertulis pada penyusunan lembar halaman. Serta tidak ada keistimewaan di antara kami, karena saya hanyalah guru yayasan dan Sdr Rohmanto guru bantu. Apalagi diutamakan yang sudah tua dan mengabdi lama. Hal ini saya rasa tidak adil dan hanya alasan yang tidak masuk akal serta mengada-ada. Karena setelah saya cari informasi, ternyata Sdr Yaimanah juga guru bantu di sebuah SMP swasta yang sekarang sudah berusia 35 tahun. Pemanggilannya di luar jadwal yang ditetapkan tanpa sepengetahuan kami serta tanpa berita acara. Setiap kami akan menghadap Ka BKD dan mohon penyelesaian, dari staf/pegawai mengatakan Ka BKD rapat/ada acara dinas luar. Menurut saya beliau berusaha menghindar. Salah seorang dari BKD/tim mengatakan akan ada pemberitahuan melalui surat. Namun kenyataannya sampai sekarang belum ada kabarnya. Apakah karena kesalahan yang dilakukan salah seorang tim CPNS, kami yang harus menanggung akibatnya? Mana rasa tanggung jawab dan rasa kemanusiaan dari tim terhadap kami yang mengalami beban mental dan penderitaan? Tut Handayani SPd
***
Banyak Hantu di Era Globalisasi?
Bukan masalah percaya nggak percaya pada dunia lain dan kisah misteri, namun apa kita akan kembali ke zaman purba. Setiap waktu dan setiap saat, baik di acara layar kaca maupun di media cetak selalu disajikan cerita hantu, genderuwo, tuyul dan sebagainya. Kalau hanya sebagai cerita hiburan masih bisa dimaklumi, tapi kalau sudah dipoles ceritanya sehingga orang-orang dibuat hanyut dan terkesima sangat disayangkan. Sudah sedemikian parahkah iman kita, yang sudah dibekali agama tetapi masih bergumul pada dunia hantu. Sudah lupakah kita adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna di dunia yangn fana ini. Sekali lagi bukan soal percaya nggak percaya. Alangkah bermanfaatnya bila sajian di media massa lebih difokuskan pada hal-hal yang positif untuk mempertebal iman. Bekali anak-cucu dengan agama dan ilmu pengetahuan, agar dapat mebangun negeri ini sesuai jamannya. Jangan bawa anak-cucu kita ke jaman primitif, apalagi dunia hantu di era globalisasi. Anggraeni PL
***
"Indonesia-ku"
Ibu pertiwi pernah mengeluh pada saya ... bahwa banyak pejabat korupsi, polisi malaki, pimpinan ngapusi, DPR ha...ha...hi...hi..., narkoba merajalela, banjir di mana-mana, susah cari kerja, stres. Oh ... Indonesia-ku, ampuni dosa-dosa mereka, bukakan mata dan hatinya, beri ketabahan pada rakyat. Juga calon rakyat yang mengemban utang begitu besar, semoga esok hari ada hujan duit untuk menghapus keringat dan air mata. Hidup ini hanya sementara, adil dan sejahtera itu yang mereka damba, tapi apa daya. Buat makan, bayar pajak, sekolah, bayar listrik, PAM, telepon sampai iuran RT, duit pun tak ada. Bagaimana masa depanmu oh...putra bangsa. Ingin rasanya aku menangis memikirkan nasibmu Pertiwi-ku. Tapi kau malah menghiburku, sudahlah anakku jangan bersedih, satu saja pintaku pilihlah partai dan presidenmu nanti tahun 2004 orang yang bertuhan, beradab, adil dan bijak. Hanya itu kesempatanmu untuk bisa melihatku merdeka dan bahagia. Lalu aku tanya kenapa Ibu Pertiwi kok menitikan air mata ?.Dia teringat salah satu warga yang ingin menyelesaikan tempat ibadahnya dan membutuhkan santunan dana. Dermawan, ulurkan tanganmu dengan hati bersih, kirimkan sebagian rezeki ke BNI a.n Sigit Rek 261 00095 1188931. Ini semua untuk menguji apa masih ada dermawan yang ikhlas lahir batin dan tanpa pamrih. S Raharjo
***
Mari Bersatu Saudaraku Wonogiri
Saya tenaga wiyata bakti/PP 31/Honda yang sudah mengabdikan diri di instansi pemerintah, gembira ketika Bupati Bp Begug Poernomosidi SH pada pidato pembukaan tes/ pengadaan CPNS yang pertama di GOR Mandala mengatakan jangan sampai habis usia (39/ 40 tahun), mereka belum diangkat. Beliau merasa kasihan dan prihatin. Yang memberi angin segar, beliau akan mengangkat para wiyata bakti sesuai tingkatan ranking namun sampai 3 kali mengadakan tes/pengadaan CPNS tidak pernah terealisasi. Padahal daftar/kolektif para wiyata bakti /PP 31/Honda tiap dinas/bagian/kantor sudah dibuat sejak Juni 2002 dan dikirim ke Badan Kepegawaian Daerah. Dengan harapan mempermudah para pejabat berwenang untuk mengangkat secara urut ranking. Tidak seperti yang terjadi saat ini, masa kerja 10 s.d 15 tahun kalah dengan yang mengabdi kurang dari 10 tahun. Ini tidak sesuai sambutan Bp Bupati saat pengadaan tes kali pertama di GOR Mandala . Mudah-mudahan evaluasi/kritik ini dapat menggugah kembali hati Bapak Bupati untuk membantu wong cilik yang tidak mempunyai kemampuan, apalagi kedudukan dan keberuntungan belum berpihak pada kami. Semoga tidak seperti teori The Liang Gie tentang politik, yaitu bagaimana caranya orang lain mau mengikuti atau bertindak sesuai dengan keinginan kita. Dapat ditarik kesimpulan, untuk meraih kedudukan, minta bantuan orang-orang kecil di sekeliling dan setelah tercapai mereka lupa janji/programnya. Kepadai Saudara-saudaraku wiyata bakti/PP 31/Honda dan masyarakat Wonogiri khususnya. mari galang persatuan kembali. Mari berjuang bersama untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Dengan semboyan "tidak ada yang dapat mengalahkan selama kita masih setia" ... Sekarang momentum yang tepat untuk memperjuangkan nasib, bangsa dan negara dari semua krisis. Namun yang terpenting, mengembalikan moral, agar jauh dari praktik KKN sehingga negeri tercinta ini bangkit dari kebobrokan. Kibarkan panji-panji perjuangan, satukan tekad dan jangan tergoyahkan demi terciptanya masyarakat adil dan makmur yang merata. J Priharjanto SSos |