logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 12 Januari 2004 Ragam  
Line

TASAWUF INTERAKTIF

Membaca Kalimat Thoyyibah

T: Assalamu'alaikum Wr Wb. Dalam setiap kesempatan, dimana, kapan dan dalam keadaan bagaimanapun, saya selalu membaca salawat, dzikir, wirid, istighfar, ayat Alquran dan doa. Sementara itu ada yang berpendapat kegiatan seperti itu supaya makbul agar dilakukan setelah berwudhu, setelah shalat, pada saat dan tempat yang tepat. Tanpa itu semua pembacaan tidak sampai kepada Allah.

1. Apakah kegiatan saya itu sia-sia?

2. Semuanya saya lakukan tanpa lafal niat dalam hati maupun lisan. Hanya saya rasakan sebagai bentuk kewajiban. Bagaimana dengan hal ini?

3. Juga saya maksudkan untuk mencari ketentraman hati, ingin agar Allah SWT berkenan terhadap saya. Riya'-kah saya? Wassalamu'alaikum Wr Wb.

AK, Semarang

J: Apa yang telah Anda lakukan sungguh merupakan pekerjaan yang mulia dan perlu untuk dilestarikan. Salah satu cara untuk menjaga hati dan perbuatan kita agar tetap berada dalam keridlaan Allah, dengan membaca berbagai kalimat thoyyibah sebagaimana yang telah Anda kerjakan tersebut. Di banyak tempat dalam Alquran maupun hadits diperintahkan dua pekerjaan utama kepada orang-orang beriman.

Di satu pihak pekerjaan yang bersifat kuantitatif yaitu berdzikir, baik dalam hitungan tertentu maupun tak terbatas. Di pihak lain, pekerjaan yang bersifat kualitatif yaitu beramal sebaik-baiknya.

Keduanya sesungguhnya bukan merupakan dua pekerjaan yang terpisah. Berdzikir sebanyak-banyaknya kepada Allah dalam keadaan bagaimanapun, kapan pun dan dimana pun, pada hakekatnya untuk membimbing hati dan perbuatan yang sebaik-baiknya.

Berdzikir, atau wirid dalam bahasa sehari-hari kita, memang lebih menekankan pada tindakan ucapan. Akan tetapi, yang perlu diketahui, tujuan utamanya bukanlah semata-mata pada ucapan itu sendiri, sekalipun hal itu sudah merupakan pekerjaan mulia dan dinilai sebagai ibadah.

Berdzikir sesungguhnya lebih merupakan proses pembelajaran. Melalui pengulangan berbagai bacaan tertentu diharapkan muncul adanya pemahaman akan makna dan upaya penerapan dari makna apa yang kita baca itu dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian dzikir menjadi kekuatan yang menggerakkan amal perbuatan kita.

Namun demikian, pada kenyataannya, memang masih banyak di antara kita yang memahami bahwa dzikir itu hanya sebatas ucapan/bacaan mulia dan kita akan mendapatkan pahala jika mengucapkannya. Kenyataan ini mengakibatkan, sekalipun banyak berdzikir tetapi pekerjaannya tidak banyak terkontrol oleh dzikir tersebut.

Dalam dzikir, bacaan-bacaan tersebut sesungguhnya adalah menjadi alat untuk selalu muhasabah (introspeksi) dan muraqabah (merasa diawasi oleh Allah) agar hati tetap terjaga kesehatannya. Sementara amal perbuatan kita menjadi terkontrol untuk tetap berada dalam koridor keridlaan Allah.

Jika dzikir yang demikian ini bisa diterapkan, maka dzikir bisa menjadi alat yang efektif untuk mengurangi berbagai tindak penyelewengan yang selama ini banyak terjadi. Oleh karena itu, gerakan dzikir secara massif dan kelompok yang belakangan ini menjadi fenomena perlu dilestarikan.

Akan tetapi yang lebih penting dari itu adalah dzikir secara individual yang tidak terikat oleh waktu, tempat dan hal-hal lain sebagaimana yang telah Anda lakukan.

Artinya dzikir masuk ke ruang-ruang kerja dan menjadi alat kontrol bagi segala proses yang ada di dalamnya, dzikir dilakukan ketika seseorang sedang melakukan aktivitas tertentu dan sebagainya.

Tentu saja, semua apa yang kita lakukan tersebut sangat bergantung kepada niat kita. Innama al-a'mal bi al-niyyat. Demikian kata Rasulullah. Niat pada dasarnya adalah maksud dan tujuan dalam melakukan perbuatan tertentu. Sama-sama perbuatan yang baik secara lahiriah, dihadapan Allah bisa berbeda kualitasnya hanya karena niat yang berbeda.

Jika kita melakukan perbuatan baik, tetapi agar kita dipandang oleh masyarakat sebagai seorang yang saleh atau dermawan, misalnya, maka niat ini adalah niat yang tidak tepat. Inilah yang disebut riya' yang dilarang oleh agama kita.

Oleh karena itu jika Anda dalam mengucapkan kalimat-kalimat thoyyibah sebagai sarana berdzikir dengan maksud agar hati tetap terjaga kesuciannya dan amal perbuatannya selalu dalam keridlaan Allah, maka Anda telah memiliki niat yang amat mulia. Karena hanya semata-mata untuk Allah. Jadi perbuatan Anda bukan termasuk riya'.

Membaca dzikir bisa dilakukan dengan cara sebagaimana yang telah Anda praktikkan. Walaupun begitu dalam keadaan tertentu memang lebih disunnahkan yaitu setelah wudlu, setelah shalat fardlu dan setelah shalat tahajjud, di masjid, di multazam, di roudlah, atau di hijr Ismail. Disertai pula dengan kondisi fisik, pakaian, dan tempat yang suci.

Demikian juga, secara psikis harus dibarengi dengan keyakinan dalam hati bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah SWT.(35)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA