
| Senin, 12 Januari 2004 | Internasional |
Tentara Israel Tembak Mati Remaja yang Lemparkan BatuJERUSALEM - Seorang remaja Palestina ditembak mati oleh tentara Israel, Minggu pagi kemarin, tidak jauh dari kota Nablus yang terus bergolak di Tepi Barat utara, kata sumber medis dan keamanan Palestina. Fuad Jarwuan (18) luka parah ketika tentara Israel yang naik dua jip melepaskan tembakan untuk membubarkan suatu kelompok warga Palestina yang melemparkan batu ke arah tentara di Desa Zeita, Nablus selatan, kata mereka. Sembilan warga Palestina tewas di Nablus sejak 26 Desember 2003, ketika tentara Israel memulai operasi untuk menggulung gerilyawan garis kerasm Palestina. Kematian terakhir Minggu kemarin itu, membuat jumlah keseluruhan orang yang tewas sejak dimulainya intifada (perlawanan bangsa Palestina) pada September 2000 menjadi 3.695 orang, yakni 2.769 warga Palestina dan 860 warga Israel. Sementara itu, seorang pejabat Israel kemarin memperingatkan Suriah agar mengakhiri dukungan kepada kelompok Hizbullah di Lebanon selatan dan juga para pejuang Palestina. Pejabat itu, Menteri Kesehatan Danny Naveh, mengatakan langkah tersebut merupakan syarat mutlak jika Damaskus ingin membuka pembicaraan damai dengan Israel. Dia menyatakan hal itu kepada radio pemerintah, sehari setelah media resmi Suriah menyerukan AS agar membantu memulai kembali proses perdamaian Israel-Suriah. AS Diminta Serius ''Kami akan senang jika Suriah bergabung kembali dalam kamp perdamaian. Namun, untuk memulai pembicaraan damai dengan Israel, Suriah terlebih dulu harus menghentikan dukungan kepada Hizbullah dan organisasi pejuang Palestina yang berkubu di Damaskus,'' katanya. Pembicaraan terakhir antara Israel dah Suriah menemui kegagalan pada Januari 2000. Waktu itu, yang dibahas adalah nasib Dataran Tinggi Golan, yang diduduki Israel sejak perang 1967. Disepakati, Israel secara sepihak menyerahkan kembali dataran tinggi strategis itu kepada Suriah. Sabtu lalu, pers pemerintah Suriah menyerukan AS agar berupaya untuk melanjutkan proses perdamaian dengan Israel, namun pada saat yang sama mencap rezim Sharon sebagai ''pemerintahan perang''. ''Suriah menginginkan AS serius melanjutkan proses damai dengan Israel, pada titik proses itu menemui kegagalan,'' kata Ath-Thawara.(ant-30) |