logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 12 Januari 2004 Budaya  
Line

Seni Itu Persoalan Daya Cipta

LAKI-laki bernama Markaban. Pendek dan ringkas. Mengingatkan saya akan nama-nama beberapa tokoh, seperti Massakerah, Makengket, atau lainnya. Saya mendengar namanya sekitar tahun 1997.

''Ia seorang pelukis abstrak,'' kata seorang kawan.

Lalu suatu malam, sekitar enam tahun lalu itu, saya bersama kawan tadi datang ke rumahnya di kawasan Pondok Mas.

Empat hari lalu, juga malam hari, saya datang kembali ke rumahnya bersama seorang kawan. Kami tersesat. Malam hari, memang banyak gang di kawasan itu yang ditutup portal.

Rumahnya tidak banyak berubah. Rak buku warnah coklat tua itu masih menjadi penyekat antara ruang tamu dan ruang keluarga. Tapi tentu saja ada yang berubah. Banyak buku baru di rak. Tak hanya buku tentang lukisan, tapi juga filsafat, budaya, dan fotografi.

Perubahan lain, dinding-dinding ruang tamu dan keluarga itu tak lagi dipenuhi lukisan arsitektural dan kolase, seperti enam tahun lalu. Kini beberapa lukisan yang lebih ringkas dan sederhana tergantung sebagai ganti.

''Kesenian itu harus hidup. Saya selalu merasa jenuh jika terlalu lama menggeluti satu hal. Karena itu saya selalu mencari idiom-idiom baru. Dulu saya membuat kolase-kolase, kitch, sekarang tidak lagi. Saya malah kembali ke ha-hal yang trivial, hal-hal sederhana yang ada di kehidupan sehar-hari,'' kata bapak tiga anak itu.

Ia mencontohkan salah satu karyanya, Sisa Sebuah Peradaban, yang ia kirim untuk pergelaran seni rupa pertunjukan kontemporer ''Semarang Koeroeng Boeka'', di hotel Dibya Puri Semarang, Oktober lalu.

Ketika itu, Markaban memajang baju dan celana kotor para kuli di gantungan kayu. Sebagian kaget karena kagum, sebagian lagi sinis.

''Bagi saya, artistik bukan lagi sesuatu yang sagat penting. Pemahaman seni dan budaya itu kan pada dasarnya daya cipta, bukan semata-mata persoalan teknis-artistik,'' ujar Koordinator Interior di Pasaraya Sri Ratu itu.

Ia juga menyebut pelukis Jerman, AR Penck, sebagai pelukis yang telah mengesampingkan persoalan teknis-artistik. Di Indonesia, ia melihat antara lain Nashar dan Ugo Untoro melakukan hal yang sama.

Lantas pandangan Markaban sndiri soal perupa di Semarang?

''Terus terang, kota ini masih minim segalanya. Masyarakat Semarang belum memiliki kepedulian terhadap kesenian, khususnya lukisan. Saya tidak tahu, apakah ini persoalan media atau publik.''

Penyelenggaraan pameran di Semarang juga belum masih ''itu-itu saja''. Sejak bertahun-tahun lalu, organizer masih menghadapi problem yang sama; dana yang cupet dan kemasan pameran yang seadanya.

''Padahal, semua produk seni dan budaya itu harus direkayasa, di make-up agar nilainya tinggi. Seorang Inul pun harus dierekayasa sebelum akhirnya menjadi mahal seperti sekarang kan? Di Semarang, saya melihat pencapaian rekayasa itu belum beranjak dari angka enam.''

Markaban sendiri tak mengharamkan karya-karya komersial. Sebaliknya, ia juga tak memberi stempel kemlinthi kepada para perupa yang berada di garis idealis; wacana dan apresiasi. ''Seniman itu pada dasranya kan perlu eksistensi. Bukan melulu perkara duit, tapi juga intelektual. Sebab seni dan budaya itu kajiannya ilmiah.''

Karena itu, dia melihat, mereka yang bergerak di karya-karya komersial juga perlu berpikir intelek dan ilmiah. Sebab dari muara itulah para kreator bisa menemukan hal-hal yang baru, hal-hal yang sifatnya penciptaan.

''Percaya sama saya, jika seni rupa mulai dipahami bukan semata-mata persoalan teknis-artistik tapi daya cipta, maka produknya akan lebih baik,'' kata laki-laki yang pernah belajar arsitektur di Unika Semarang itu.

Hm, agaknya ia benar.(Ganug Nugroho Adi-79)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA