logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 6 Januari 2004 Sala  
Line

Wajah Kota Solo Dipenuhi PKL

  • Seharusnya Diberlakukan Sama

GLADAG- Kawasan di depan gapura Gladag yang disebut-sebut sebagai wajah kota Solo, kini dipenuhi pedagang kaki lima. Bila dahulu mereka hanya menempati beberapa space saja, kini hampir seluruh sudut.

Keberadaan mereka di tempat itu dan diduga tak tersentuh rencana penertiban tersebut membuat iri PKL di seputar Alun-alun Lor yang akan ditata.

"Kalau kami yang berjualan di seputar Alun-alun Lor saja tidak boleh dan harus ditertibkan, bagaimana dengan mereka yang berjualan di depan Gapura Gladag itu? Bukankah sebenarnya mereka lebih merusak pemandangan kota dibandingkan dengan kita," ujar salah seorang pedagang kepada Suara Merdeka yang mengaku bernama Man.

Seperti pantauan Suara Merdeka, kawasan yang sering dijadikan tempat demonstrasi tersebut kini dipadati pedagang yang memasang tendanya di depan gapura. Di timur jalan masuk Alun-alun Lor terdapat beberapa pedagang baik makanan maupun helm. Sementara di barat, terdapat penjaja makanan yang berjajar ke barat sepanjang jalur lambat hingga di depan Bank BCA.

Dia mengemukakan, jika memang akan diadakan penertiban ataupun penataan di kawasan Alun-alun Lor, sebaiknya harus menyeluruh. Tim Terpadu Penataan PKL Kawasan Alun-alun Lor tak boleh memisahkan mana PKL yang terkena penataan dan mana yang tidak. Bila hanya sepotong-sepotong, akan membuat iri satu sama lain. Karena itu, baik PKL di depan gapura maupun di Jalan Paku Buwono juga harus ditata.

"Jika sama-sama PKL, apa beda kami dengan mereka? Bila dikatakan mengganggu, saya rasa sama saja. Harapan kami ya jangan ada diskriminasi. Kalau kita ditata dan diberi tempat, demikian halnya mereka. Kalau kami tak boleh jualan, ya seharusnya sama," tutur dia.

Kurang Tahu

Saat ditanya, apakah mereka termasuk dalam pendataan ulang yang dilakukan tim terpadu PKL kawasan Alun-alun Lor yang terdiri atas Kantor Pengelolaan PKL, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Dinas Pengelolaan Pasar (DPP), Dinas Tata Kota (DTK) dan keraton tersebut, pedagang itu menjawab kurang tahu.

Mereka juga khawatir jika PKL sekitar Alun-alun Lor disuruh masuk ke pasar cendera mata, sedangkan yang di luar gapura tidak ditertibkan dan bakal ada yang pindah ke sana.

"Ya tanggung risiko sendiri jika tidak tegas. Kami ini cuma orang kecil yang tak bisa apa-apa. Mau ditertibkan manut, kalau dibolehkan tetap berjualan di situ ya alhamdulillah. Siapa yang mau berjualan dipindah-pindah," kata dia.

Di tempat terpisah, KP Edy Wirabhumi selaku anggota tim terpadu PKL kawasan Alun-alun Lor menjelaskan, pihaknya tengah berupaya mencari dana untuk membiayai relokasi para PKL di seputar alun-alun, termasuk yang bertebaran di seputar perempatan Gladag.

Dia mengemukakan, Gladag adalah pintu masuk keraton yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kompleks keraton, dan karena itu harus pula ditertibkan bersama dengan bagian lain di kawasan tersebut.

"Ya, apa boleh buat, kalau akibat relokasi dan penertiban ini menjadikan pasar cendera mata campur-aduk, berjejal-jejal, dan sudah sulit dikenali sebagai pasar pendukung objek wisata keraton. Kalau maunya begitu, ya sudah. Sekarang, kami ingin membantu mencarikan dana untuk membiayai itu semua," tandas pimpinan Lembaga Hukum Keraton Surakarta (LHKS) itu. (G18,won-80j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA