logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 6 Januari 2004 Sala  
Line

"Ninja" Jadi Ancaman

SELAMA tiga bulan terakhir, para pengelola mesin ketangkasan dingdong atau jackpot cepekan (karena dimainkan dengan koin logam seratus rupiahan) di Solo dibuat tidak tenteram. Mereka waswas, siapa tahu mesin judi mereka dijadikan sasaran perusakan oleh orang-orang tak dikenal yang belakangan sering muncul.

Menjelang Puasa lalu, sebuah bengkel elektronik milik Heru di Kepatihan, Jebres yang mendapat order memperbaiki sejumlah mesin dingdong menjadi korban perusakan sekelompok orang berkendaraan motor.

Mereka menyerbu pada tengah malam serta meninggalkan lokasi setelah merusak mesin judi itu. Keberadaan orang-orang dengan muka ditutup kain mirip ninja yang selalu meneriakkan "Allahu Akbar", dalam setiap aksinya bagai menebar ancaman teror bagi pemilik dingdong.

Siapa mereka dan apa motivasinya, sejauh ini memang masih gelap. Sebab, hingga sekarang tak ada laporan menyangkut aksi perusakan itu yang masuk ke polisi. Melihat kondisi yang tak lagi kondusif itu, sejumlah pengelola mesin yang bisa mendatangkan untung Rp 25.000 - Rp 100.000 per hari tersebut kini banyak yang memindahkan lokasi usahanya ke luar kota Solo.

"Banyak rekan kami yang kini memindahkan mesin dingdongnya ke luar Kota Solo. Ini dilakukan karena kondisi sekarang tidak nyaman lagi," ujar lelaki yang mengaku bernama Totok ini.

Dia memiliki 10 mesin yang dioperasikan di sejumlah tempat. Namun, selama ini mesin-mesinnya aman-aman saja, sehingga dia belum berpikir untuk mencari lokasi lain. Apa akan lapor jika mesinnya dirusak orang? Dia mengatakan, "Untuk apa lapor, bila nanti kita sendiri yang susah."

Dia sadar, mesin dingdong yang dikelolanya itu berkategori judi. Karena itu, lebih baik jika persoalan perusakan itu dianggap musibah.

Tidak Ada Laporan

Berdasarkan catatan dalam buku laporan kejadian yang ada pada kelima mapolsekta (Pasarkliwon, Serengan, Banjarsari, Laweyan, dan Jebres) serta Mapolresta Surakarta Manahan, tidak satu pun yang mencatat peristiwa perusakan mesin dingdong. "Bagaimana kami menindak, wong tidak ada laporannya," ujar Kasat Reskrim AKP Masrur mewakili Kapolresta Surakarta.

Apa yang diungkapkan Masrur memang tidak berlebihan. Suara Merdeka yang mengecek ke setiap polsekta mendapat jawaban sama, yakni perkara itu tidak dilaporkan. Padahal, kasus perusakan terhadap lokasi dingdong yang dilakukan sejumlah orang tak dikenal itu terjadi di beberapa tempat di Solo. Selain di Kepatihan juga di Purwosari, serta perempatan Gemblegan. Di kedua lokasi itu, puluhan penyerang datang dengan lima motor. Kejadian itu berlangsung tengah malam pada 26 Desember lalu.

"Di Purwosari, ada tiga dingdong yang dirusak. Mereka yang merusak, mukanya ditutup kain. Berapa jumlahnya tak jelas, tapi mereka berboncengan menggunakan sedikitnya lima motor," ungkap Priyo, salah seorang saksi.

Selain merusak mesin judi, mereka yang melengkapi diri dengan senjata pentungan itu juga menyerang beberapa orang yang sedang nongkrong di lokasi itu. Saat mereka menyerbu Purwosari, memang tidak terjadi perlawanan, tapi kondisi itu berbeda ketika rombongan tersebut mendatangi lokasi dingdong di Gemblegan dan sekitar Gladag. Beberapa warga sempat terusik oleh kedatangan beberapa pelaku bermotor itu, sehingga terjadi perkelahian. Perkara ini pun tidak dilaporkan secara resmi ke polisi.

Dingdong adalah sebuah mesin dengan semacam layar dengan beberapa gambar seperti bebek atau buah-buahan. Cara mengoperasikannya dengan menggunakan koin yang nilainya ditentukan dengan kesepakatan.

Beberapa orang yang suka bermain menjelaskan, bila koin dimasukkan maka ada sinar lampu yang berputar pada gambar-gambar pada layar.

Jika pada saat tertentu sinar itu menyala pada beberapa gambar yang sama, pemainnya mendapatkan uang dalam jumlah tertentu yang lebih besar nilainya dari pada uang taruhan. (Budi Santoso, Setyo Wiyono-80j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA