logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 6 Januari 2004 Sala  
Line

Kios Pertokoan Terminal Angkot Dijarah

WONOGIRI- Kios pertokoan di terminal angkota Wonogiri, ramai-ramai dijarah oleh oknum tak bertanggung jawab. Peristiwa tersebut berlangsung ketika kios-kios itu mulai ditinggalkan penghuninya terkait dengan rencana pembangunan pasar baru Wonogiri tahap kedua.

Untuk mengamankan keadaan, Senin kemarin, Kepala Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Wonogiri Drs AY Kariman memerintahkan regu patroli untuk berjaga-jaga di terminal angkot tersebut.

Kasus penjarahan itu terlambat dilaporkan ke Satpol PP. Semua pintu kios telanjur dijarah. Bahkan, sebagian genting dan kerangka atapnya serta sebagian kayu yang menyatu dengan tembok pun ada yang dibongkari.

''Selama ditunggui regu patroli Satpol PP, penjarahan kios untuk sementara dapat dihentikan,'' kata Drs Agus dan Susilo SH selaku komandan regu patroli Satpol PP saat ditemui di terminal angkot. Keduanya mengatakan, semestinya kasus penjarahan seperti itu tidak boleh terjadi.

"Ini aset Pemkab Wonogiri. DPU semestinya harus cepat-cepat peduli membongkar untuk langkah penyelamatan. Sayang bila kemudian ini hanya dibiarkan jadi barang jarahan oleh para pemulung atau oknum yang berlagak menjadi pemulung,'' ujar Agus.

Untuk menyelamatkan sisa bangunan kios yang belum terjarah, Satpol PP telah mengontak Dinas Perhubungan Pariwisata Seni Budaya (DPPSB) Wonogiri sebagai pihak yang berwenang dalam pengelolaan terminal angkot dan DPU Kabupaten Wonogiri sebagai institusi yang berwewenang membongkar.

Drs Suparno dari Dinas Pasar Wonogiri menuturkan, bangunan kios semua berjumlah 18 buah. Keberadaannya harus segera dibongkar berkaitan dengan akan segera dilakukan pembangunan proyek pasar baru unit II yang lokasinya berada di terminal angkot.

Pindah Sementara

Selama proses pembangunan berlangsung, para pedagang kios dan nonkios di terminal angkot diupayakan untuk pindah sementara ke lantai tiga pasar baru Wonogiri. Total pedagang kios berjumlah 18 orang dan yang berjualan di nonkios 35 orang.

Namun, instruksi agar mereka pindah sementara ke lantai tiga pasar baru, justru ditanggapi dingin oleh para bakul di terminal angkot. Sebab mereka merasa pesimistis, dagangannya dapat laku terjual bila harus pindah ke lantai tiga pasar baru.

Sebab, yang biasa mereka layani adalah pembeli, para kru mobil angkot, dan komunitas calon penumpang. Padahal, rencananya pangkalan mobil angkot dipindahkan sementara ke depan Kantor Pegadaian.

Dengan argumentasi logika berjualan melayani kru angkot dan para calon penumpang itu, bakul-bakul memilih membangun kios darurat di dekat Kantor Pegadaian, termasuk di ruang trotoar di ruas jalan protokol yang dahulu pernah dipakai untuk kios darurat para pedagang korban musibah kebakaran pasar.

''Semestinya, di kawasan sepanjang jalan protokol tidak boleh untuk berniaga. Namun karena argumentasi logikanya begitu, untuk sementara kami dapat memahami dan menoleransi,'' ujar Kepala Kantor Satpol PP Wonogiri Drs AY Kariman. (P27-81j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA